Mengenal Pola Asuh Otoriter: Kekurangan dan Kelebihannya
Setiap keluarga memiliki pola asuh yang berbeda. Ada yang menerapkan pola asuh permisif, ada pula yang menggunakan pola asuh otoriter. Pola asuh otoriter lebih dominan diterapkan pada keluarga terdahulu.
Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, kini pola asuh otoriter cenderung lebih sedikit dijumpai. Hal ini bisa jadi karena wawasan parenting para orang tua saat ini sudah lebih baik, sehingga mereka bisa memilih mana jenis pola asuh yang akan diterapkan pada keluarganya.
Lalu, apa kelebihan dan kekurangan pola asuh otoriter terhadap anak, beserta dengan dampak dan contohnya? Simak artikel berikut kalau Mums dan Dads sedang mencari pola asuh terbaik untuk anak.
Dampak Pola Asuh Otoriter terhadap Anak
Pola asuh otoriter adalah gaya parenting yang menekankan kontrol tinggi dan kepatuhan dari anak. Mums dan Dads mungkin berpikir bahwa pendekatan ini bisa membuat anak disiplin, tapi dalam jangka panjang, dampaknya bisa cukup kompleks loh.
Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter cenderung mengalami penurunan rasa percaya diri. Hal ini terjadi karena mereka jarang diberi kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri atau mengekspresikan pendapat. Akibatnya, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan dan kurang mandiri.
Tidak cuma itu, tekanan dari aturan yang ketat juga bisa memicu stres dan kecemasan pada anak. Anak sering merasa takut melakukan kesalahan karena konsekuensinya adalah hukuman, bukan pembelajaran. Dalam penelitian berjudul Dampak Pola Asuh Otoriter Terhadap Perkembangan Anak (2022), pola asuh otoriter bahkan dikaitkan dengan gangguan emosional dan kesulitan bersosialisasi.
Dari sisi sosial, anak bisa menjadi tertutup, sulit berkomunikasi, dan cenderung menyimpan perasaan sendiri. Bahkan, hubungan emosional antara orang tua dan anak bisa menjadi renggang.
Kesimpulannya, dampak pola asuh otoriter tidak hanya memengaruhi perilaku, tetapi juga perkembangan mental dan emosional anak secara keseluruhan.
Contoh Pola Asuh Otoriter dalam Kehidupan Sehari-hari
Pola asuh otoriter sering muncul dalam situasi sehari-hari tanpa Mums dan Dads sadari. Contoh yang paling umum adalah ketika orang tua berkata:
“Pokoknya harus ikut kata Mama atau Papa!”
“Tidak boleh membantah!”
Dalam kondisi ini, anak tidak diberi ruang untuk menjelaskan alasan atau perasaannya. Semua keputusan diambil sepihak oleh orang tua.
Contoh lainnya adalah aturan yang sangat ketat tanpa adanya fleksibilitas. Misalnya, anak harus tidur jam 8 malam setiap hari, bahkan saat libur. Jika anak meminta pengecualian, permintaan tersebut langsung ditolak tanpa diskusi terlebih dahulu.
Mums dan Dads juga mungkin pernah melihat situasi di mana anak langsung dimarahi atau dihukum tanpa penjelasan. Misalnya, ketika anak lupa membereskan mainan, orang tua langsung membentak tanpa mencari tahu penyebabnya.
Selain itu, dalam pola asuh otoriter, orang tua sering menentukan semua pilihan anak. Misalnya dalam hal memilih sekolah, menentukan hobi, bahkan memilih teman. Sehingga anak tidak diberi kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri.
Dalam jangka panjang, pola ini membuat anak terbiasa “menunggu perintah” daripada berpikir mandiri. Mums mungkin merasa anak jadi patuh, tetapi sebenarnya mereka belum belajar mengambil keputusan sendiri.
Kekurangan Pola Asuh Otoriter
Tidak ada yang sempurna dalam sebuah pola asuh terhadap anak-anak, termasuk pola asuh otoriter ini. Ada sejumlah kekurangan yang ada pada pola asuh otoriter, di antaranya:
1. Tuntutan tinggi
Banyaknya aturan dalam pola asuh otoriter adalah ciri utamanya. Aturan ini berlaku di hampir semua aspek kehidupan dan perilaku anak, baik di rumah maupun di luar. Memiliki banyak aturan tidak tertulis yang wajib dipatuhi.
2. Minimnya kehangatan
Keluarga yang hangat cenderung sulit ditemukan pada pola asuh otoriter. Orang tua terkesan tampak dingin, acuh, dan keras terhadap anak-anaknya. Mereka lebih sering mengomel daripada memberikan bimbingan atau dorongan apalagi pujian pada anaknya. Bagi orang tua, disiplin adalah hal utama ketimbang memberikan kelonggaran apalagi kesempatan untuk bersenang-senang.
3. Hukuman tanpa penjelasan
Sering kali hanya sedikit penjelasan terhadap hukuman yang diberikan, bahkan tidak sama sekali. Biasanya tidak keberatan menggunakan hukuman fisik, baginya ini akan memberikan efek jera dan mendisiplinkan anak.
4. Pilihan terbatas
Pola asuh otoriter hanya memberikan sedikit opsi bahkan tidak sama sekali. Sehingga membuat anak tidak leluasa menentukan pilihan. Orang tua menetapkan aturan “cara saya atau tidak sama sekali” dalam hal disiplin. Tidak ada ruang negosiasi.
5. Tidak percaya anak
Orang tua dengan pola asuh otoriter tidak percaya pada kemampuan anak-anaknya. Tidak ada kebebasan pada anak untuk berbuat atau membuktikan kemampuannya. Alih-alih memberikan kepercayaan atau kebebasan, justru malah mengawasi dan mengontrol dengan ketat.
Kelebihan Pola Asuh Otoriter
Di balik segala kekurangannya, ada sejumlah kelebihan pola asuh otoriter yang mau tidak mau harus diakui. Namun, kelebihan pola asuh otoriter ini sangat subjektif tergantung dari kondisi dan seberapa besar tingkat pola asuh otoriter yang diterapkan.
Berikut ini kelebihan pola asuh otoriter yang perlu Mums dan Dads ketahui, di antaranya:
1. Disiplin
Harus diakui salah satu kelebihan pola asuh otoriter adalah membentuk anak-anak memiliki disiplin yang tinggi. Hal ini tentu saja tidak bisa didapatkan dari pola asuh permisif yang lebih cenderung memberikan kebebasan. Disiplin dari pola asuh otoriter memang patut dicontoh.
2. Melatih motivasi
Anak-anak dengan pola asuh otoriter cenderung memiliki motivasi yang tinggi, karena ketatnya lingkungan pengasuhan yang membuat anak harus selalu melakukan yang terbaik dan menghindari kesalahan. Kondisi ini tentu saja memotivasi anak untuk selalu menjadi lebih baik.
3. Fokus pada tujuan
Salah satu kelebihan dari pola asuh otoriter adalah membentuk anak memiliki fokus yang jelas terhadap tujuan hidupnya. Dalam hal ini anak dituntut untuk mencapai target yang sudah ditentukan. Tidak mudah terdistrak atau terganggu dengan hal lain di luar target itu sendiri.
4. Memupuk tanggung jawab
Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter tahu mana batasan tanggung jawabnya. Hal ini tidak terlepas dari disiplin tinggi dan konsekuensi atau hukuman yang diberikan. Lepas dari berat ringannya hukuman atas kesalahan yang dilakukan, ini mengajarkan anak untuk bertanggung jawab pada kesalahan dan siap menerima hukuman.
5. Patuh pada aturan
Berbeda dengan pola asuh permisif, pola asuh anak otoriter ada akhirnya pola asuh otoriter ini membuat anak mau tidak mau mematuhi aturan yang sudah ditetapkan. Suka atau tidak suka, tidak ada pilihan bagi anak selain mematuhi aturan dari orang tua. Budaya mematuhi aturan ini akan membentuk karakter anak menjadi lebih kuat.
Kesimpulan: Apakah Pola Asuh Otoriter Baik?
Pertanyaan ini sering muncul: apakah pola asuh otoriter benar-benar buruk, atau masih ada sisi baiknya? Mums dan Dads perlu tahu bahwa pola asuh otoriter memang memiliki beberapa kelebihan, seperti membantu anak menjadi lebih disiplin dan terstruktur. Anak terbiasa mengikuti aturan dan memahami batasan dengan jelas.
Namun, masalahnya terletak pada ketidakseimbangan antara kontrol dan kehangatan. Dalam pola asuh otoriter, kontrol sangat tinggi, tetapi respons emosional terhadap anak cenderung rendah.
Akibatnya, meskipun anak terlihat “patuh”, mereka bisa mengalami tekanan psikologis. Banyak ahli menyebut bahwa pola ini lebih berisiko menimbulkan dampak negatif dibanding positif dalam jangka panjang, terutama pada kesehatan mental anak.
Oleh karena itu, yang perlu Mums dan Dads pahami adalah: disiplin memang penting, tetapi harus dibarengi dengan komunikasi dan empati. Jadi, pola asuh otoriter tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak ideal jika diterapkan secara ekstrem. Pendekatan yang lebih seimbang, seperti pola asuh otoritatif, biasanya lebih direkomendasikan.
Itulah dampak, contoh dalam kehidupan sehari-hari, hingga kelebihan kekurangan pola asuh otoriter. Tentu, semua tergantung pada pilihan masing-masing orang tua, dalam menentukan pola asuh anak seperti apa yang akan digunakan dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya.
Untuk Mums dan Dads yang ingin mendapatkan referensi soal pola asuh anak, Mums dapat berdiskusi lewat fitur Komunitas di aplikasi Teman Bumil dan dapatkan wawasan kebaruan soal pengasuhan si Kecil.
Referensi
Verywellmind. what-is-authoritarian-parenting
Lailul Ilham. 2022. Dampak Pola Asuh Otoriter Terhadap Perkembangan Anak
-
# Tumbuh Kembang
-
# Keluarga
-
# Pola Asuh