Middle Child Syndrome: Ciri-ciri Anak Tengah dan Cara Menyikapinya
Anak-anak yang lahir setelah anak sulung, dan ia juga memiliki adik, dikenal sebagai anak tengah. Seperti namanya, anak tengah, menurut teori, cenderung menjadi penengah dalam keluarga karena mereka sering harus menengahi konflik antara kakak dan adik.
Anak tengah cenderung berada di bawah pengaruh kakak tertua sehingga tidak mengherankan jika mereka sering mencari perhatian di luar keluarga. Mengingat situasi ini, anak tengah sering dikaitkan dengan sifat mandiri, kemampuan bersosialisasi, kemampuan beradaptasi, namun juga kerap dihantui kecemburuan, daya saing, dan seringkali kurangnya kepercayaan diri.
Salah satu ciri karakter yang juga sering menonjol dari anak tengah adalah sifat pemberontak yang dianggap muncul karena mereka ingin menjauh dari pengaruh saudara-saudara mereka.
Lalu, seperti apakah beban psikologis anak tengah dan bagaimana cara mendidiknya?
Pengertian Sindrom Anak Tengah
Sindrom Anak Tengah adalah istilah yang merujuk pada tekanan psikososial yang dialami oleh mereka yang lahir sebagai anak tengah. Sindrom Anak Tengah mengacu pada persepsi bahwa anak-anak yang terlahir di antara kakak dan adik-adik mereka, seringkali diabaikan dan mungkin kurang mendapat perhatian orang tua.
Tekanan ini meliputi kurangnya status dalam keluarga, kurangnya keunikan karena kehadiran saudara kandung yang lahir terakhir, dan perasaan diabaikan atau tidak diperhatikan secara keseluruhan. Akibatnya, rasa percaya diri dan harga diri anak tengah menurun, sehingga sulit untuk menjalin hubungan yang bermakna di masa dewasa.
Riset yang dilakukan Lotus Medical Center (2023) juga menemukan hal yang sama. Sindrom anak tengah adalah teori yang menyatakan bahwa anak tengah mungkin menunjukkan karakteristik tertentu karena kurangnya perhatian yang dirasakan dari orang tua mereka.
Akibatnya, dibandingkan dengan anak sulung atau anak bungsu, anak tengah dapat mengalami efek negatif akibat pengabaian atau kurangnya perhatian. Misalnya perasaan kurang dihargai atau kurang diakui dibandingkan dengan saudara kandung mereka.
Asal usul konsep Sindrom Anak Tengah ini dapat ditelusuri kembali ke teori urutan kelahiran Alfred Adler (2025) yang menyatakan bahwa posisi anak dalam keluarga dapat secara signifikan memengaruhi sifat kepribadian dan perilaku mereka.
Meskipun anak tengah mungkin tidak menerima porsi perhatian yang sama seperti saudara kandung mereka yang lebih tua atau lebih muda, para ahli berpendapat bahwa pengalaman ini malah dapat menghasilkan sifat-sifat yang bermanfaat, seperti kemandirian dan kemampuan beradaptasi.
Teori ini juga menunjukkan bahwa anak tengah dapat mengembangkan keterampilan sosial yang kuat, karena mereka belajar untuk mencari persetujuan dari teman sebaya daripada orang tua.
Ciri-ciri atau karakter anak tengah
Menurut teori, anak tengah kerap mendapatkan lebih sedikit waktu dan perhatian dari orang tua dibandingkan si sulung dan si bungsu. Hal ini mungkin karena orang tua harus membagi sumber daya yang tersedia di antara semua anak mereka.
Alasan lainnya adalah ketika melahirkan anak kedua yang kemudian menjadi anak tengah, orang tua sudah punya pengalaman mengasuh anak sebelumnya sehingga gaya pengasuhan menjadi lebih santai.
Berikut ini karakter yang dihasilkan akibat perlakuan dan pengasuhan orang tua kepada anak tengah secara umum:
1. Penyeimbang dalam Keluarga
Anak tengah sering jadi “penjaga harmoni”. Ia terbiasa berada di antara kakak dan adik sehingga memiliki keuntungan mampu melihat dua sudut pandang berbeda.
Ketika terjadi konflik antara saudara kandung, anak tengah sering jadi penengah karena ia lebih fleksibel dan mudah beradaptasi. Kemampuan ini mereka peroleh karena belajar sejak kecil untuk tidak selalu jadi pusat perhatian, tapi tetap punya peran penting.
2. Mandiri
Karena perhatian orang tua sering terbagi, anak tengah cenderung lebih mandiri. Anak tengah biasanya terbiasa melakukan sesuatu sendiri atau tidak terlalu bergantung pada orang tua. Akibatnya, mereka lebih cepat belajar menyelesaikan masalah dan tidak selalu mencari validasi.
Ini bisa jadi kekuatan besar, tapi kadang juga membuat mereka merasa “harus kuat sendiri”.
3. Mudah Bersosialisasi atau supel
Anak tengah biasanya punya kemampuan sosial yang baik, mudah berteman dan bergaul. Pembawaan anak tengah yang lebih santai dalam berinteraksi dengan teman membuat mereka bisa menyesuaikan diri dengan berbagai tipe orang. Tidak heran, anak tengah cenderung disukai di lingkungan sosial.
Mereka mudah bergaul karena kurang menjadi pusat perhatian di keluarga, sehingga mereka lebih senang berbagi dengan teman sebaya di luar rumah.
4. Kreatif dan Unik
Untuk “menemukan jati diri”, anak tengah sering mengembangkan keunikan sendiri. Salah satu pemicunya adalah tidak ingin dibandingkan dengan kakak sehingga mencari cara berbeda untuk menonjol.
Pencarian jati diri ini membuat anak tengah lebih terbuka mencoba hal baru dan mudah menemukan minat atau gaya yang khas.
5. Terkadang merasa terabaikan
Ini sisi yang cukup sering muncul. Anak tengah merasa kurang diperhatikan dibandingkan dengan kakak atau adiknya, yang menyebabkan mereka bisa merasa “tidak terlalu penting” . Sayangnya, kadang mereka menyimpan perasaan sendiri.
Selain itu, anak tengah cenderung menghindari konflik agar tidak menambah masalah. Karena itu, penting bagi orang tua untuk tetap memberi perhatian khusus.
6. Kecenderungan menyenangkan orang lain
Anak tengah mungkin berusaha untuk mendapatkan perhatian dan persetujuan dari orang lain, seringkali menjadi diplomatis dan mudah beradaptasi. Hal ini membuat mereka jadi cenderung memilih menyenangkan orang lain daripada dirinya sendiri.
Cara Mendidik Anak Tengah
Menangani Sindrom Anak Tengah bertujuan untuk memastikan anak merasa dihargai, unik, dan didengarkan. Orang tua harus bersedia meliangkan waktu khusus berdua, memvalidasi emosi mereka, dan menghindari perbandingan dengan saudara kandung.
1. Terapkan "Aturan 7-7-7”
Coba Mums yang memiliki anak tengah, sejak dini selalu luangkan 7 menit di pagi hari, 7 menit setelah sekolah, dan 7 menit sebelum tidur untuk memberikan perhatian penuh kepada si anak tengah. Perhatian dan pertanyaan kecil seperti “Tadi di sekolah ada kejadian seru apa?” atau “Sebelum tidur kita cerita-cerita yuk, kak?”
2. Validasi Emosi
Mums harus mengakui bahwa berada di tengah bisa sulit. Saat anak tengah merasa kesepian, validasi perasaan mereka yang merasa diabaikan daripada mengabaikannya, dan ciptakan ruang aman untuk dialog terbuka.
3. Rayakan Keunikan
Hindari membandingkan mereka dengan saudara kandung yang lebih tua atau lebih muda. Pupuk minat, bakat, dan hobi mereka, yang mungkin berbeda secara signifikan dari saudara kandung mereka.
4. Hindari Sindrom "Barang Bekas"
Pastikan mereka menerima pakaian, mainan, atau barang baru, daripada selalu menerima barang bekas dari kakaknya yang lebih tua, yang dapat menyebabkan perasaan rendah diri.
5. Beri mereka kesempatan untuk bersuara
Dorong mereka untuk berbagi apa saja, dan dorong mereka berani bicara tentang kebutuhan, pikiran, dan perasaan mereka untuk mencegah penarikan diri.
Kesimpulan
Anak tengah mungkin mengalami perasaan terjebak yang sangat kuat di antara saudara-saudaranya, yang menyebabkan kesulitan dalam membangun hubungan yang efektif dengan orang tua mereka.
Untuk membantu anak tengah mengatasi tekanan Sindrom Anak Tengah, penting untuk menekankan kualitas unik mereka dan membantu mereka memahami nilai peran mereka dalam keluarga. Orang tua dan guru dapat membantu anak tengah mengenali prestasi mereka, merayakan kesuksesan mereka, dan menawarkan kesempatan untuk mengembangkan kepribadian mereka.
Penting juga bagi orang tua untuk memberikan perhatian dan pengakuan yang sama kepada semua anak mereka, terlepas dari urutan kelahiran mereka. Ini membantu anak tengah membangun kepercayaan diri dan mengembangkan hubungan yang sehat dengan saudara kandung dan orang tua mereka.
Referensi:
EBSCO. 2024. Middle Child syndrome.
Lotus Mecial Center. 2023. Middle Child Syndrome: Personality, Traits, Characteristics, & Unique Challenges
-
# Anak
-
# Keluarga
-
# Psikologi Anak