Ella Nurlaila
23 Februari 2026
Shutterstock

Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasi Anak Tidak Mau Sekolah

Anak tidak mau masuk sekolah tanpa sebab yang jelas memang sangat membingungkan dan bahkan bisa menyulut emosi. Menghadapi situasi ini, tidak sedikit orang tua yang menganggapnya sepele, hanya sekadar karena anak malas bangun pagi. 


Padahal, dalam banyak kasus, anak tidak mau sekolah tandanya ada masalah serius dan bisa jadi lebih dari sekadar kemalasan biasa. Jadi, jika Mums menghadapi situasi ini, cari tahu lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi, agar tidak salah dalam bersikap. 


Makanya, sangat penting buat orang tua untuk tidak hanya fokus pada hadir atau tidaknya anak di sekolah, melainkan juga paham mengapa anak menolak dan bagaimana cara menanganinya dengan tepat tanpa bikin anak makin tertekan atau trauma. 


Penyebab anak tidak mau sekolah 


Mums, anak tidak mau sekolah memang lumrah saja terjadi. Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai school refusal. Pada penelitian Springer Nature Link (2024) ditekankan bahwa school refusal berbeda dengan bolos biasa. Ia akan jujur soal ketidakhadirannya dan menunjukkan kecemasan yang jelas, bukan kabur diam-diam layaknya bolos sekolah. 


Dengan kata lain, anak tidak mau sekolah terjadi saat ia secara emosional kesulitan untuk datang atau bertahan di sekolah, bukan karena nakal atau ingin kabur diam-diam, melainkan murni karena ada penyebab tertentu.


Riset terbaru dari PubMed Central (2024) menyebutkan bahwa school refusal sering kali bukan masalah tunggal, melainkan bagian dari isu psikologis yang lebih dalam, seperti gangguan kecemasan, depresi, atau kondisi perkembangan tertentu. 


Beberapa tanda anak tidak mau sekolah di antaranya, mendadak sakit perut atau pusing tiap pagi, nangis hebat atau panik saat mau berangkat, cemas berlebihan, atau reaksi emosional yang intens setiap kali sekolah dibahas.


Sementara itu penyebab umum anak tidak mau sekolah, di antaranya: 


1. Kecemasan yang berhubungan dengan sekolah

Termasuk penyebab paling sering. Anak bisa mengalami kecemasan berpisah dari orang tua, kecemasan sosial (takut dinilai, diejek, atau tidak punya teman), atau tekanan akademik yang terasa terlalu berat. Buat anak, sekolah terasa seperti “zona bahaya” kalau kecemasannya tidak tertangani. 


2. Masalah kesehatan mental

Banyak literatur menemukan bahwa anak tidak mau sekolah punya tingkat kecemasan dan depresi lebih tinggi dibandingkan anak lain. Jadi bukan drama atau cari perhatian, bisa jadi ini pertanda kondisi emosional yang nyata dan serius. 


3. Kondisi neurodevelopmental

Anak dengan ADHD, autisme, atau gangguan perkembangan lain sering merasa lingkungan sekolah terlalu ramai, penuh tuntutan, dan melelahkan secara sensorik maupun sosial. Hal ini bisa bikin sekolah terasa berlebihan untuknya. 


4. Pengalaman negatif di sekolah

Bullying, konflik dengan teman, hubungan yang kurang baik dengan guru, atau kegagalan akademik bisa bikin anak mengasosiasikan sekolah dengan rasa takut dan tidak aman. Sekali trauma, tubuh anak bisa “langsung nolak” tiap kali harus ke sekolah. 


5. Tekanan dari lingkungan rumah

Stres di rumah seperti konflik orang tua, perubahan besar (pindah rumah, kehilangan orang terdekat), atau pola asuh yang tidak konsisten, bisa memperparah kecemasan anak terhadap sekolah. 


Dampaknya jika anak tidak mau sekolah dibiarkan 

Jika kondisi ini dibiarkan terlalu lama tanpa penanganan, dampak untuk anak bisa serius, seperti: 


1. Kesehatan mental makin menurun

Kecemasan dan depresi bisa makin kuat, anak jadi menarik diri dan merasa sendirian. 


2. Prestasi akademik tertinggal

Makin sering absen, maka semakin sulit anak mengejar pelajaran, dan ini bisa bikin stresnya makin parah.


3. Kemampuan sosial terhambat

Sekolah adalah tempat utama anak belajar bersosialisasi. Absen berkepanjangan bisa bikin anak makin canggung dan sulit berinteraksi dengan orang lain. 


4. Rasa percaya diri menurun

Anak bisa merasa “aku gagal”, “aku lemah”, atau menganggap sekolah sebagai sumber tekanan, bukan tempat belajar. Hal ini perlahan akan menurunkan rasa percaya dirinya.


Cara efektif mengatasi anak tidak mau sekolah


Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan paksaan semata. Justru pendekatan yang empatik dan bertahap terbukti lebih efektif. Berikut ini cara efektif mengatasi anak tidak mau sekolah: 


1. Cari akar emosinya

Jika penyebab utamanya kecemasan, terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti membantu anak mengelola pikiran negatif tentang sekolah dan mengurangi penolakan. 


2. Kembali ke sekolah secara bertahap

Tidak harus langsung seharian. Anak bisa mulai dari datang sebentar, masuk beberapa jam, lalu meningkat pelan-pelan sesuai kesiapan emosinya. Pendekatan gradual exposure ini sering dipakai dalam CBT. 


3. Pentingnya peran orang tua 

Cara orang tua merespons kecemasan anak sangat berpengaruh. Dukungan emosional, pola asuh yang stabil, dan intervensi keluarga terbukti membantu anak kembali ke sekolah. 


4. Kerja sama dengan sekolah

Bukan hanya orang tua, guru dan konselor sekolah juga mesti berperan. Kedua pihak ini bisa membantu dalam hal penyesuaian tugas, dukungan emosional di kelas, dan mentor atau sistem pendamping sementara. Lingkungan yang terasa aman akan bikin anak lebih berani mencoba lagi.


5. Jangan abaikan kesehatan mental

Jika anak tidak mau sekolah berkaitan dengan kecemasan berat atau depresi, bantuan profesional (psikolog/psikiater anak) sangat disarankan.


Mums, anak tidak mau sekolah bukan anak manja atau malas. Ini adalah kondisi kompleks yang sering berkaitan dengan emosi, kesehatan mental, pengalaman sosial, dan lingkungan keluarga. Pendekatan yang penuh empati, bertahap, dan melibatkan orang tua serta sekolah jauh lebih efektif dibanding paksaan. 


Dengan dukungan yang tepat, serta diiringi dengan menerapkan gaya parenting efektif untuk anak usia sekolah, si Kecil akan tumbuh dengan kondisi emosional yang lebih kuat dan juga sehat.


Referensi : 

  1. Springer Nature Link. 2024. "A systematic review of school refusal | Current Psychology"

  • PubMed Central. 2024. School Refusal in Youth: A Systematic Review of Ecological Factors

    • # Anak
    • # tumbuh kembang balita
    • # Tumbuh Kembang