Mengenal Pola Asuh Permisif: Kekurangan dan Kelebihannya
Sulit mengatakan tidak pada anak, selalu menuruti kemauannya, memberikan akses yang luas pada segala hal yang menyenangkan si Kecil, tidak tega membiarkan dia merana karena tertekan dengan aturan yang biasa saja? Jika semua jawabannya ya, itu tandanya pola asuh permisif yang diterapkan.
Pola asuh permisif cenderung memberikan kelonggaran pada anak. Berbanding terbalik dengan pola asuh otoriter. Dalam pola asuh permisif, orang tua cenderung menerapkan disiplin yang begitu longgar. Gaya pola asuh permisif ini tidak dianjurkan oleh terapis maupun psikolog anak.
Dampak Pola Asuh Permisif terhadap Anak
Pola asuh permisif adalah gaya parenting yang memberikan kebebasan luas kepada anak dengan sedikit aturan. Sekilas memang terlihat menyenangkan, tetapi dampaknya bisa cukup serius jika tidak dikontrol oleh Mums dan Dads.
Salah satu dampak utama adalah kurangnya disiplin pada anak. Karena tidak terbiasa dengan aturan, anak cenderung sulit mengatur waktu, tanggung jawab, dan kebiasaan sehari-hari.
Selain itu, anak juga bisa mengalami kesulitan mengelola emosi. Mereka tidak terbiasa menghadapi batasan atau penolakan, sehingga mudah frustrasi ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Kalau diterapkan dalam jangka panjang, pola asuh permisif juga dapat menyebabkan:
prestasi akademik rendah
kurang motivasi
sulit mengambil keputusan
Pada penelitian berjudul Dampak Pola Asuh Permisif Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial-Emosional Anak Usia Dini (2021), pola asuh permisif juga dapat memengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak, termasuk risiko perilaku anti sosial dan kontrol diri yang rendah.
Jadi, meskipun terlihat penuh kasih sayang, pola asuh permisif tetap perlu dikontrol agar tidak berdampak negatif pada anak.
Contoh Pola Asuh Permisif dalam Kehidupan Sehari-hari
Mums dan Dads mungkin tidak sadar bahwa pola asuh permisif sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya:
Anak bebas menggunakan gadget tanpa batas waktu
Anak tidak memiliki jadwal tidur yang jelas
Semua keinginan anak selalu dituruti
Dalam situasi ini, orang tua cenderung menghindari konflik dan memilih mengikuti keinginan anak. Contoh lain adalah ketika anak melakukan kesalahan, tetapi tidak ada konsekuensi yang jelas. Orang tua mungkin hanya menegur ringan atau bahkan mengabaikannya.
Dalam pola asuh permisif, orang tua sering lebih berperan sebagai “teman” daripada figur yang memberi arahan. Meskipun hubungan terasa dekat, anak bisa kehilangan struktur yang penting untuk perkembangan mereka.
Yang perlu Mums dan Dads ingat adalah kebebasan tanpa batas bukan berarti baik. Anak tetap membutuhkan aturan agar bisa belajar tanggung jawab.
Kelebihan Pola Asuh Permisif bagi Anak
Setiap pola asuh yang diterapkan dalam keluarga memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu tidak ada pola asuh yang sempurna, termasuk pola asuh permisif ini.
Sebelum membahas kekurangan pola asuh permisif, ada baiknya Mums dan Dads mengetahui kelebihan pola asuh permisif bagi anak. Berikut ini kelebihan pola asuh permisif:
1. Kualitas positif
Ketika bicara tentang pola asuh permisif, memang tidak semuanya mengandung hal negatif atau merugikan. Berbeda dengan pola asuh otoriter, orang tua dengan pola asuh permisif memiliki beberapa kualitas positif, seperti responsive secara emosional dan peka terhadap kebutuhan anaknya.
2. Percaya diri
Bila anak didorong untuk mengekspresikan diri secara bebas, maka umumnya mereka sering menjadi lebih percaya diri dan siap mencoba hal-hal baru. Terlepas dari apa pun konsekuensinya.
3. Eksplorasi
Pola asuh permisif memungkinkan anak-anak memiliki lebih banyak kebebasan yang menginspirasi mereka untuk menjalani petualangan baru dengan rasa percaya diri yang lebih besar.
4. Memacu kreativitas
Karena tidak ada batasan dalam beraktivitas dalam pola asuh permisif, maka anak-anak bisa bereksperimen sesuai minat dan hobinya. Artinya anak tumbuh dalam lingkungan yang lebih fleksibel sehingga memungkinkan lebih mudah memacu kreativitasnya.
5. Memberikan kenyamanan
Salah satu alasan orang tua menerapkan pola asuh permisif adalah tidak ingin anaknya merana atau merasakan kehidupan yang sulit seperti orang tuanya dulu. Inilah alasan yang akhirnya membuat anak terlanjur nyaman dengan segala kemudahan yang dimilikinya.
Kekurangan Pola Asuh Permisif
Mums dan Dads, di balik kelebihan pola asuh permisif, ada kekurangan yang perlu diwaspadai. Umumnya orang tua yang menerapkan pola asuh permisif cenderung baik dan penuh kasih sayang kepada anak-anaknya.
Namun seiring waktu, kurangnya batasan atau disiplin ini, bisa jadi merugikan baik bagi orang tua maupun anak itu sendiri. Berikut ini kekurangan pola asuh permisif yang perlu diketahui orang tua:
1. Memanjakan anak
Salah satu problem utama pola asuh permisif adalah memanjakan anak. Kecenderungan ini tentu saja merugikan, sebab tidak adanya konsekuensi atau hukuman bagi anak ketika ia melakukan kesalahan. Akibatnya anak tidak belajar dari kesalahan yang dilakukan.
2. Sulit ikut aturan
Karena anak terbiasa tidak memiliki atau longgar dalam peraturan di rumah, kebiasaan ini akan terbawa di luar rumah, sisalnya di sekolah. Anak dengan pola asuh permisif cenderung sulit mematuhi aturan yang ada. Akibatnya ia sering melanggar aturan atau sulit berdisiplin.
3. Cenderung memberontak
Anak-anak yang dibesarkan dengan aturan yang longgar maka ketika dihadapkan pada disiplin yang ketat, maka cenderung akan memberontak. Mereka tidak segan untuk menentang peraturan yang membuatnya tidak nyaman. Karena peraturan atau disiplin hanya akan membatasinya.
4. Minimnya keterampilan sosial
Orang tua dengan pola asuh permisif cenderung mengabaikan perkembangan keterampilan sosial si Kecil. Akibatnya anak sulit beradaptasi, tidak kuat mental menghadapi tantangan. Padahal keterampilan sosial ini harus dilatih sedini mungkin.
5. Kebiasaan tidak sehat
Karena tidak ada batasan dan cenderung bersikap sesukanya, anak sulit mengendalikan keinginannya. Termasuk ketika anak tidak dibatasi untuk mengonsumsi makanan yang tidak sehat. Dampaknya anak bisa kegemukan atau obesitas.
6. Sering membantah
Anak dengan pola asuh permisif cenderung sulit mengikuti aturan, maka ia pun akan sering membantah. Sebab ia tidak terbiasa menaati aturan. Sikap ini merupakan konsekuensi dari longgarnya aturan yang di mata anak merupakan sesuatu yang mudah saja untuk dilanggar.
Kesimpulan: Apakah Pola Asuh Permisif Baik?
Banyak orang tua memilih pola asuh permisif karena ingin memberikan kebahagiaan dan kebebasan bagi anak. Namun, apakah ini benar-benar baik?
Pola asuh permisif memang memiliki kelebihan, seperti hubungan emosional yang dekat dan anak merasa bebas mengekspresikan diri.
Namun, tanpa batasan yang jelas, anak bisa tumbuh tanpa disiplin dan sulit mengontrol diri. Beberapa ahli menyebut bahwa pola asuh permisif dapat memicu perilaku sulit diatur dan kurang tanggung jawab pada anak.
Yang perlu Mums dan Dads ingat adalah: anak tetap membutuhkan struktur. Kebebasan yang sehat adalah kebebasan yang disertai dengan batasan.
Jadi, pola asuh permisif tidak sepenuhnya buruk, tetapi tidak ideal jika diterapkan tanpa kontrol.
Itulah dampak baik dan buruk pola asuh permisif yang cenderung memberikan kelonggaran pada anak. Pola asuh permisif tentu saja bisa menjadi pilihan bagi orang tua dalam mendidik dan membesarkan buah hatinya. Namun, sebelum menjatuhkan pilihan, pastikan orang tua memahami kelebihan dan kekurangan pola asuh permisif ini.
Untuk Mums yang masih bingung akan menerapkan pola asuh anak seperti apa, bisa mendapatkan berbagai artikel seputar dunia parenting di aplikasi Teman Bumil agar mendapatkan pencerahan sebelum menentukan apakah akan memilih pola asuh permisif atau tidak.
Referensi :
Parents. permissive-parenting-the-pros-and-cons-according-to-a-child-psychologist
-
# Keluarga
-
# Pola Asuh