Kenali Bagaimana Anak Mengekspresikan Rasa Frustrasi dan Cara Mengatasinya
Mempelajari sesuatu yang baru atau menghadapi tantangan yang dirasa sulit, dapat menguji kesabaran anak. Anak dapat merasakan frustrasi, dan biasanya ia akan mengekpresikan rasa frustrasinya dengan perilaku tidak biasa. Sebagai orang tua, Mums dan Dads harus tahu tanda dan cara anak mengekspresikan rasa frustrasi dan mencari cara membantunya.
Bagaimana anak mengekspresikan rasa frustrasi? Ada berbagai macam, mulai dari perilaku seperti mengamuk hingga menghindari tugas yang dapat menyebabkannya tidak mengumpulkan tugas sekolah.
Cara Anak Mengekspresikan Rasa Frustasi
Semua anak mengekspresikan rasa frustrasi, tetapi mereka mengekspresikannya dengan cara yang berbeda. Frustrasi adalah perasaan tegang dan tidak senang yang muncul saat anak (atau orang dewasa) tidak dapat melakukan sesuatu yang seharusnya dapat dilakukan atau ingin dilakukan.
Beda usia tentu beda cara anak mengekspresikan rasa frustrasi. Sebagian besar anak mengalami puncak frustrasi antara usia satu dan tiga tahun. Mereka menemukan bahwa ada begitu banyak hal yang ingin mereka lakukan tetapi tidak dapat atau mungkin tidak dapat mereka lakukan.
1. Balita
Balita yang belum berusia 5 tahun akan cenderung tantrum atau menangis saat merasa frustrasi. Misalnya meremas kertas, melempar mainan, dan menendang dinding. Ia juga bisa berteriak dan menangis saat merasa frustrasi.
2. Usia prasekolah
Pada tahun-tahun prasekolah, sumber frustrasi bisanya muncul saat muncul perbandingan dengan teman sebaya, harapan baru, dan pengamatan terhadap anak-anak yang lebih tua (terutama saudara kandung) dan orang dewasa.
Seorang anak mungkin rentan terhadap frustrasi apabila ia mengalami keterlambatan kecil dalam beberapa area perkembangan, atau apabila ia mengembangkan gaya kepribadian yang agak perfeksionis.
3. Anak usia sekolah
Ada pula anak yang lebih besar, frustrasinya diekspresikan dengan lebih halus. Misalnya diam-diam menyingkirkan gambarnya yang baru setengah jadi, lalu menghapus namanya hingga merobek kertas tugasnya, lalu meninggalkan mejanya dan memilih bermain atau tidur.
Perfeksionismenya, yang terkait dengan kesenangannya atas prestasinya dan usahanya untuk menjadi dewasa, membuatnya mencoba tugas yang terlalu sulit. Ia kemudian gagal memenuhi standarnya sendiri yang terlalu tinggi. Setelah berulang kali mencoba tetapi tampaknya tidak berhasil, ia memutuskan berhenti.
Cara Membantu Anak Mengatasi Rasa Frustrasi
Berbeda dengan orang dewasa. Saat merasa cukup frustrasi, orang dewasa akan mengakuinya, dan memutuskan untuk meninggalkan tugas untuk sementara, mencari bantuan, atau mencoba pendekatan lain.
Ini juga sebenarnya strategi yang baik untuk digunakan pada anak-anak. Anak-anak harus diajarkan mengenali dan menerima perasaan frustrasi tersebut. Untuk memahami apa yang menyebabkannya, mereka juga harus mengembangkan kontrol impuls yang cukup untuk menahan diri dari respons langsung yang meledak-ledak.
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua menghadapi anak yang sedang frustrasi:
1. Kenali
Kenali cara anak mengekspresikan rasa frustrasi dan aktivitas atau situasi sosial yang cenderung memunculkannya. Kemudian berikan alternatif untuk mengekspresikan rasa frustrasi, daripada melampiaskan kemarahan dengan cara merusak.
2. Jelaskan
Jelaskan bahwa setiap orang terkadang merasa frustrasi. Mums bisa memberikan contoh dari kehidupan Mums sendiri. Bicarakan tentang proses yang dilalui setiap orang saat tidak mampu melakukan sesuatu, lalu berlatih dan menjadi lebih baik dalam melakukannya.
Sebagai contoh, Mums dapat menjelaskan kepada si kecil bagaimana mereka dulu belajar berjalan. Awalnya ia tidak bisa berdiri, lalu ia berdiri dan sering terjatuh, lalu ia mencoba melangkah dan terjatuh, dan seterusnya.
3. Bantu
Terakhir, bantu anak mengembangkan strategi untuk mengambil satu langkah kecil pada satu waktu dalam menghadapi hal-hal baru. Libatkan guru anak jika anak sudah sekolah, sebagai anggota tim, jika memungkinkan.
4. Berikan banyak dorongan untuk pencapaian kecil
Saat anak mencapai titik jenuh dengan tugas baru, rayakan seberapa jauh kemajuan yang telah dicapainya. Yakinkan dia bahwa seiring berjalannya waktu, segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah dan rasa frustrasinya akan berkurang, yang terkadang muncul kembali sebagai tanda kerja kerasnya.
Merasakan putus asa dan frustrasi tentu adalah hal yang wajar. Sejak kecil anak sudah harus dikenalkan dengan rasa ini dan kemudian diberikan solusi dan alternatif bagaimana mengatasi rasa frutrasinya. Kelak ia akan bisa menjadi anak yang tangguh dan siap menghadapi tantangan apapun dalam hidup.
Mums bisa mendapatkan artikel seputar tumbuh kembang anak lainnya di aplikasi Teman Bumil, ya!
Referensi:
Scholastic. How-children-express-frustration
-
# Anak
-
# Psikologi Anak