Ella Nurlaila
19 April 2026
Shutterstock

Tips Menghadapi Anak yang Mudah Marah dan Tersinggung

Kemarahan adalah emosi yang normal, terutama pada anak-anak yang belum mampu mengendalikan emosi sehingga sering meledak menjadi kemarahan.Tantrum paling sering terjadi antara usia 1 dan 4 tahun, biasanya mencapai puncaknya sekitar usia 2 hingga 3 tahun.


Marah merupakan salah satu cara melampiaskan rasa kecewa dan frustrasi yang dialami anak. Di sinilah orang tua mesti peka terhadap kekecewaan anak yang melampaui batasnya. Selain sensitivitas, orang tua mesti memahami konteks apa yang memicu anak menjadi emosional. 


Tentunya, banyak cara dalam mengatasi anak yang mudah marah dan tersinggung yang efektif dan layak dicoba berikut ini.


Cara mengatasi anak yang mudah marah 

 

Menurut penelitian yang dimuat pada jurnal MDPI (2022) regulasi emosi atau kemampuan mengelola emosi memang belum optimal di masa kanak-kanak. Dalam psikologi perkembangan, kemampuan anak untuk mengelola emosi atau emotion regulation masih berkembang sehingga anak sering kesulitan mengendalikan emosi yang kuat, seperti marah atau frustrasi. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan orang tua berperan besar dalam membantu anak belajar mengatur emosi tersebut.


Karena itulah penting bagi orang tua untuk memahami cara mengatasi anak yang mudah marah berikut ini: 


1. Pahami penyebab mudah marah pada anak 

Memahami penyebab kemarahan anak serta memberikan respons yang tepat dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan emosional yang sehat. Karena itu, pahami penyebab mudah marah pada anak sehingga orang tua dapat mengatasinya dengan tepat sesuai penyebabnya. 


2. Validasi emosi anak 

Akui ketika anak meluapkan amarahnya. Katakan sesuatu, misalnya, “Ibu tahu kamu marah karena tidak bisa bermain bola lantaran harus pergi ke rumah Nenek.” Mums, validasi emosi ini sangat penting karena dapat mengurangi intensitas emosi, sehingga memudahkan anak-anak untuk mengatur emosinya. Sebaliknya, mengabaikan perasaan anak dengan mengatakan bahwa perasaan mereka "salah" dapat memperburuk situasi dan membuat anak semakin sulit mengendalikan emosi. 


3. Dorong anak menggunakan kata-kata 

Tidak semua anak-anak paham kata-kata apa yang harus digunakan saat ia marah atau kesal. Dorong anak gunakan frasa sederhana, seperti, “Saya marah karena ….” atau “Aku butuh waktu untuk sendiri.” Kata-kata spesifik membantu anak membangun narasi emosional dan membuat orang lain paham apa yang dirasakan dan diinginkan si Kecil. 


4. Pastikan tidur dan istirahat cukup 

Ketika lelah dan mengantuk, seseorang cenderung jadi lebih sensitif dan mudah tersinggung, karena energinya berkurang. Itu sebabnya, pastikan anak-anak tidur dan memiliki istirahat yang cukup agar tetap berenergi dan bisa mengendalikan diri mereka. 


5. Lakukan aktivitas fisik

Masih soal energi, mudah marah pada anak juga bisa dipicu oleh penyaluran energi dan emosi yang tidak tepat. Karenanya arahkan anak untuk melakukan aktivitas fisik. Bermain aktif di luar dan berolahraga sangat membantu anak yang mudah marah mengendalikan emosinya. Olahraga seperti karate, gulat, dan lari bisa sangat baik untuk anak-anak yang mencoba mengendalikan amarahnya. Aktivitas apa pun yang membuat jantung berdetak kencang dapat membantu membakar energi dan stres.


6. Tetap tenang, jangan reaktif 

Kadang ketika anak marah, bukan kemarahannya yang jadi sumber masalah, melainkan reaksi orang tua yang berlebihan atau meresponsnya dengan kemarahan yang lebih besar. Di sinilah konflik akan meningkat. Bukan karena amarah anak, melainkan respons reaktif berlebihan. Padahal anak selalu meniru respons emosional orang dewasa. Karena itu, ketika anak marah, sebisa mungkin tetaplah bersikap tenang, bicara dengan lembut agar situasinya tidak semakin memanas. 


7. Beri apresiasi 

Saat anak bisa mengendalikan emosinya, jangan lupa berikan apresiasi. Sekecil apa pun, apresiasi tersebut akan sangat berarti sebagai penguat positif atas sikapnya yang mampu mengendalikan emosi. 

Misalnya: 

“Mama bangga banget kamu bisa tetap tenang tadi.”

“Wah, kamu hebat ya, nggak marah walaupun lagi kecewa.”

“Terima kasih sudah bisa sabar ya, Nak.”

“Kamu tadi keren banget, bisa kontrol diri.”



Apa saja penyebab mudah marah pada anak?

Anak yang mudah marah tidak muncul tiba-tiba, pasti ada penyebab yang melatarbelakanginya. Berikut ini beberapa penyebab mudah marah pada anak muncul dalam kesehariannya: 


1. Kemampuan regulasi emosi 

Anak-anak cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi yang rendah karena masih proses tumbuh kembang. Kemampuan regulasi emosi yang belum matang inilah, jadi pemicu anak mudah marah dan tersinggung, hanya karena hal sepele sekalipun.  


2. Sulit mengungkapkan perasaan 

Tidak sedikit anak yang bingung mengungkapkan apa yang dirasakan. Apalagi bila anak belum punya referensi kata yang cukup, tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaannya atau kebutuhannya. Ia tidak menemukan kata dan kalimat yang tepat, dan hal ini bikin dia frustrasi dan emosi.


3. Karakter temperamental 

Anak dengan karakter temperamental cenderung lebih sensitif atau reaktif terhadap lingkungan atau masalah yang dihadapi sekecil apa pun itu. Anak dengan  karakter temperamental ini perlu dukungan ekstra untuk belajar mengendalikan diri dan emosinya.


4. Lingkungan dan pola asuh 

Kemampuan anak dalam mengelola emosinya tidak terlepas dari kondisi hubungannya dengan orang tua. Dalam hal ini pola asuh yang penuh kehangatan dan dukungan emosional, akan membuat anak memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Sebaliknya, pola asuh atau lingkungan yang terlalu keras, tidak sehat, dan penuh kritik dapat membuat anak kesulitan mengelola emosinya. 


Kesimpulan

Mums, itulah beberapa cara menghadapi anak yang mudah marah dan tersinggung. Sesuaikan cara mengatasinya dengan penyebab anak latar belakang yang membuat mudah marah dan tersinggung. Di sinilah tugas orang tua mengarahkan dan membimbing anak untuk melatih kemampuan regulasi emosinya sejak dini. 


Dukungan dan validasi perasaan dari orang tua sangat dibutuhkan. Tentu saja mesti dibarengi dengan contoh nyata, di mana orang tua menjadi teladan bagi anak dalam mengelola emosi, sehingga tidak mudah marah maupun tersinggung. Dengan begitu, anak perlahan belajar mengelola emosi dengan cara yang lebih sehat. 

Apabila Mums memerlukan panduan lengkap soal parenting dan kehamilan, Mums bisa mendapatkannya di website Teman Bumil dan Parenting dengan artikel yang ditinjau oleh para dokter dan ahli kesehatan di bidangnya.


Referensi : 

MDPI. 2022. Negative Parenting, Adolescents’ Emotion Regulation, Self-Efficacy in Emotion Regulation, and Psychological Adjustment

  • # Anak
  • # Anak pemarah