Ella Nurlaila
11 Mei 2026
AI

Mengenal Sejarah Iduladha dan Kisah Nabi Ibrahim

Umat Islam diberkahi dengan dua perayaan besar sepanjang tahun. Yang pertama adalah Idulfitri, yaitu perayaan untuk memperingati berakhirnya bulan Ramadan, dan yang kedua adalah Iduladha, yaitu perayaan untuk memperingati perjuangan ibadah Haji.


Iduladha jatuh pada bulan Dzulhijjah, tepatnya pada tanggal 10 bulan ke-12 dalam kalender Islam. Artikel ini akan membahas sejarah Iduladha dan kisah nabi Ibrahim yang menjadi tanda ketakwaan kepada Allah SWT, agar lebih mudah dipahami oleh si Kecil.


 

Pengertian Iduladha


Iduladha sering juga disebut  "Hari Raya Kurban". Hari raya ini menandai berakhirnya ibadah haji di Mekah dan ada banyak ibadah utama yang dianjurkan di bulan Dzulhijjah yang mendahului Iduladha. 


Umat Islam di seluruh dunia menjalani puncak ibadah dengan menyembelih hewan kurban, dan bagi yang menjalani ibadah Haji, Iduladha adalah akhir dari perjalanan ibadah haji. 


Untuk memahami Iduladha, ada beberapa aspek yang perlu Mums dan Dads pahami:


1. Makna

Hari raya Iduladha adalah hari untuk memperingati keimanan Ibrahim AS yang teguh, di mana Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan putranya Ismail, sebagai bukti ketaatan pada Allah SWT. Namun, Allah kemudian menggantikan Ismail dengan seekor domba jantan pada saat-saat terakhir.


2. Waktu

Hari raya Iduladha jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, bulan terakhir kalender lunar Islam. 


3. Kurban (Udhiyah/Qurbani)

Umat Muslim yang mampu akan menyembelih domba, kambing, sapi, atau unta. Dagingnya dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk kerabat/teman, dan sepertiga untuk fakir miskin dan yang membutuhkan.


4. Tradisi

Perayaan Iduladha meliputi salat ied di masjid atau lapangan, mengenakan pakaian bersih, memotong hewan kurban, dan tradisi lain sesuai kebiasaan setiap  muslim di dunia.


5. Hubungan dengan Haji

Hari raya Iduladha juga sering disebut Hari Raya Haji karena jatuh pada akhir ibadah haji, rukun Islam kelima.


Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim


Dalam kekayaan tradisi Islam, kisah Nabi Ibrahim yang bersedia mengorbankan putranya, Ismail, merupakan bukti mendalam akan iman yang teguh dan pengabdian tertinggi kepada Allah. 


Al-Quran menceritakan momen penting ketika Nabi Ibrahim menerima perintah Allah (dalam mimpinya) untuk mengorbankan putranya yang tercinta, Ismail. Ini adalah ujian iman dan pengabdian kepada Allah SWT. 


Terlepas dari besarnya perintah tersebut, Nabi Ibrahim bersiap untuk memenuhinya tanpa ragu-ragu, menunjukkan kepercayaan penuhnya pada kebijaksanaan Allah. Namun, menurut cerita, ketika Ibrahim hendak melakukan pengorbanan, Allah turun tangan dan menyediakan seekor domba jantan untuk dikorbankan sebagai pengganti, sehingga Ismail selamat.


Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran:

"Dan ketika ia mencapai usia dewasa, ia berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku telah melihat dalam mimpi bahwa aku harus mengorbankanmu.' Ia berkata, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Sekiranya Allah menghendaki, engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang teguh pendirian.'"


(Surah As-Saffat, 37:102)


Dari kisah Nabi Ibrahim ini, umat Muslim bisa mengambil berapa hikmah dan pelajaran:


1. Hakikat keimanan

Bagi mereka yang kesulitan memahami apa itu keimanan yang teguh, mungkin tampak seolah-olah Allah sengaja menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai kesulitan. Perspektif ini dapat menyebabkan kesalahpahaman, di mana seseorang mungkin melewatkan aspek rahmat-Nya yang agung.


Sangat penting untuk menyadari bahwa ujian Allah bukanlah untuk menyebabkan penderitaan yang tidak perlu, melainkan untuk memperkuat iman kita dan mendekatkan kita kepada-Nya. 


Setiap ujian adalah manifestasi rahmat dan kebijaksanaan Allah, dan melalui cobaan inilah kita diberi kesempatan untuk menunjukkan iman, ketahanan, dan komitmen kita kepada jalan-Nya dalam beberapa cara yang berbeda:


2. Memahami kebijaksanaan Allah SWT

Kebijaksanaan Allah melampaui pemahaman manusia. Apa yang tampak sebagai kesulitan seringkali merupakan cara untuk mencapai kebaikan yang lebih besar. Ujian Nabi Ibrahim bukan hanya tentang pengorbanan, tetapi tentang membuktikan keimanan teguhnya dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.


2. Mengenali rahmat yang tersembunyi

Kesulitan dapat menjadi bentuk rahmat Allah yang dirancang untuk membersihkan kita, menghapus dosa-dosa kita, dan meningkatkan keimanan kita. Kesulitan mengajarkan kita kesabaran, ketergantungan kepada Allah, dan membantu kita tumbuh lebih kuat dalam iman kita.


3. Melihat gambaran yang lebih besar

Dalam kisah Nabi Ibrahim, penggantian Ismail dengan seekor domba jantan oleh Allah merupakan pengingat yang kuat akan rahmat-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak menginginkan kesulitan bagi kita. 


Sebaliknya, Allah ingin melihat kesediaan kita untuk taat dan percaya kepada-Nya, dan pada akhirnya, Allah akan memberikan pertolongan di setiap kesulitan dan disertai dengan pahala.


4. Memiliki kepercayaan penuh kepada Allah

Kesiapan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya menggambarkan tingkat kepercayaan tertinggi kepada Allah. Kisah ini mengajarkan kita bahwa pengabdian kepada Allah melibatkan keihkhlasan pada rencana-Nya, bahkan ketika menghadapi ujian yang paling berat sekalipun. 


Nah, kepercayaan yang teguh ini lah yang menjadi landasan iman, mengingatkan kita bahwa hikmah Allah melampaui pemahaman dan logika manusia.


5. Ketaatan tanpa syarat

Kisah ini menekankan bahwa pengabdian kepada Allah membutuhkan ketaatan tanpa syarat. Nabi Ibrahim, maupun putranya Ismail, tidak mempertanyakan perintah tersebut tetapi siap melaksanakannya.


Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian sejati berarti tunduk pada kehendak Allah tanpa ragu-ragu, bahkan ketika itu melibatkan pengorbanan pribadi.

Ibadah yang dilakukan saat Iduladha

Nabi Muhammad SAW menganjurkan beberapa amalan dan ibadah-ibadah tertentu dalam bulan Dzul Hijjah. Selain itu, pada bulan ini umat Muslim menyempurnakan rukun Islam yang terakhir, yaitu melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. 


Dari Abu Bakrah RA, Rasulullah SAW bersabda:

شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ

”Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR Bukhari 1912 dan Muslim 1089).

Umat Muslim dianjurkan melakukan berbagai ibadah ini di bulan Dzul Hijjah hingga puncaknya di  Hari Iduladha:

1. Puasa Arafah

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dijalankan pada tanggal 09 Dzulhijjah tahun Hijriyah. Puasa Arafah dianjurkan bagi umat muslim yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji di Makkah. Cara melaksanakan puasa arafah sama seperti puasa sunnah lainnya.

Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu. (HR. Muslim no. 1162)


2. Takbir dan Dzikir

Perbanyak dzikir termasuk bertahlil, bertasbih, beristigfar, bertahmid, bertakbir dan memperbanyak doa merupakan suatu amalan yang dianjurkan pada bulan ini, tidak hanya dijalankan pada bulan Dzulhijjah saja tetapi juga dibiasakan pada keseharian hidup kita.


3. Menunaikan Ibadah Haji dan Umroh

Ibadah haji merupakan salah satu ibadah dari rukun Islam yang kelima, dan wajib dikerjakan oleh setiap muslim bagi yang mampu mengerjakan baik secara finansial maupun fisik.

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al Baqarah [2]; ayat: 196-197)


4. Berqurban

Pada tanggal 10 Dzulhijjah umat Islam berlomba-lomba menyisihkan sebagian hartanya untuk membeli kambing, sapi, domba, atau unta untuk disembelih setelah shalat hari raya Iduladha,  dilaksanakan dan tiga hari setelahnya atau yang kita kenal dengan hari tasyrik. 


Udhiyah atau menyembelih hewan qurbah disyariatkan oleh Allah sebagaiman firman Allah dalam surat al-kautasar [108]: 2 “Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an-nahr)


Berkurban juga merupakan bentuk  rasa cinta dan ketaqwaan seorang muslim kepada Allah.


5. Bertaubat (tidak bermaksiat)

Perintah bertaubat dan tidak melakukan maksiat sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat Islam untuk melaksanakan perintah tersebut, namun hal serupa ditekankan bagi umat Islam bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat di awal bulan Dzulhijjah. Artinya kita menyibukkan diri di awal bulan Dzulhijjah dengan amal-amal shaleh serta meninggalkan kezholiman terhadap sesama. 


Perbedaan Iduladha dengan Idulfitri


Perbedaan utama adalah waktu dan maknanya. Idul Fitri (1 Syawal) menandai berakhirnya puasa Ramadan dengan fokus pada penyucian diri dan zakat fitrah, sementara Idul Adha (10 Zulhijjah) berkaitan dengan ibadah haji dan kurban. 


Idul Fitri disunnahkan makan sebelum shalat, sedangkan Idul Adha disunnahkan tidak makan hingga setelah shalat kurban. Untuk memudahkan, berikut inti perbedaan dua hari raya umat Islam ini:


1. Waktu dan Makna

Idulfitri (1 Syawal) adalah perayaan kemenangan setelah sebulan puasa Ramadan. Iduladha (10 Zulhijjah) adalah perayaan pengorbanan (kurban) dan puncak ibadah haji.


2. Sunnah makan dan puasa

Pada Idulfitri, disunnahkan makan pagi sebelum shalat Id. Pada Iduladha, disunnahkan tidak makan hingga selesai shalat, lalu memakan hasil hewan kurban.


3. Waktu Shalat

Shalat Idulfitri sering diakhirkan untuk memberi waktu zakat fitrah, sedangkan Shalat Iduladha disegerakan agar penyembelihan kurban dapat segera dilakukan.


4. Takbiran

Takbiran Idulfitri (takbir mursal) dilakukan dari malam 1 Syawal hingga shalat Id. Takbiran Iduladha (takbir muqayyad) dilakukan mulai subuh 9 Dzulhijjah hingga ashar hari tasyrik (13 Dzulhijjah).


5. Ibadah Khusus

Idulfitri identik dengan puasa dan zakat fitrah, sementara Iduladha identik dengan kurban dan ibadah haji. 


Kesimpulan

Mums dan Dads, itulah sejarah Iduladha yang memiliki makna mendalam dari kisah keteladanan Nabi Ibrahim serta Nabi Ismail. Dari peristiwa ini, umat Muslim diajak memahami arti keimanan, ketaatan tanpa syarat, serta kepercayaan penuh kepada rencana Allah SWT. 


Dengan mengingat pelajaran-pelajaran ini, Mums dan Dads dapat membantu diri sendiri dan anak-anak dalam memahami nilai-nilai inti dari kepercayaan penuh, ketaatan, semangat pengorbanan, serta keinginan untuk berbagi.


Referensi:

Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam. 2025. Amalan Shaleh di 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah.

MUI 2023. Keutamaan Szulhijjah dan Amalan-amalan yang Dianjurkan

NU Jatim. 2026. Perbedaan antara Takbir Idul Fitri dan Idul Adha.

  • # Keluarga
  • # Hari Raya
  • # Iduladha
  • # Hari Besar