Anak Tampak Sehat tapi Bisa Jadi Kekurangan Zat Besi!
Selama ini, kita sebagai orang tua sangat memperhatikan soal pemenuhan vitamin anak, seperti vitamin A, C, dan D, untuk membantu mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Namun, sebenarnya ada pula salah satu mikronutrien yang penting untuk perkembangan anak, yaitu zat besi lho, Mums dan Dads!
Faktanya, 3-4 dari 10 anak di Indonesia mengalami anemia. Menurut dr. Hans Natanael, Sp.A, BCCS, CIMI, CBATR, C.HydroT., Dokter Spesialis Anak, sebagian besar kasus anemia pada anak disebabkan kekurangan zat besi atau defisiensi zat besi.
Kekurangan Zat Besi pada Anak Suka Tidak Terdeteksi
“Anemia itu ada derajatnya, ada yang berat, sedang, dan ringan. Anemia pada anak tidak selalu berat, kadang masih di antara 7-9 yang sedang atau 9-11 yang ringan. Kadang-kadang anak masih aktif, tapi itu bisa bikin nafsu makan anak tidak bagus, anak pertumbuhannya jadi tidak baik,” ujar dr. Hans dalam talkshow “Temani Ibu Cerdas, Siapkan Anak Generasi Emas” pada di Jakarta pada Minggu, 28 Desember 2025.
Karena pada banyak kasus tidak terdeteksi, maka banyak orang tua yang tidak menyadari kalau si Kecil sudah mengalami anemia. Alih-alih hanya sekadar kekurangan darah, defisiensi zat besi pada anak bisa berdampak pada energi harian anak, mengganggu konsentrasi dan fokus anak, serta menghambat perkembangan otak dan emosi anak.
Di awal-awal, si Kecil akan mendapatkan asupan zat besi dari dalam kandungan, yakni pada trimester akhir kehamilan. Setelah itu, zat besi akan didapatkan dari ASI atau susu. Sayangnya, ketika usia si Kecil menginjak 6 bulan, cadangan zat besi di dalam tubuhnya akan menurun drastis. Padahal, kebutuhan akan zat besi semakin meningkat, bahkan hingga 36 kali lipat dibandingkan setelah lahir.
Belum lagi jika si Kecil terlahir prematur. Karena lahirnya lebih cepat dari waktu idealnya, jelas dr. Hans, maka cadangan zat besi yang ia dapatkan hanya sedikit dari Mums atau mungkin belum didapatkan sama sekali. Anak yang terlahir prematur membutuhkan usaha ekstra untuk tumbuh optimal dan sering kali mengalami penyakit tertentu atau komplikasi. Alhasil, pemberian zat besi perlu dilakukan lebih awal.
Penuhi Asupan Zat Besi Anak agar Tumbuh Kembangnya Optimal
Seperti diketahui, berdasarkan rekomendasi IDAI, kebutuhan zat besi bayi dan anak ialah:
- Bayi usia 6-12 bulan adalah 11 mg zat besi per hari.
- Anak usia 1-3 tahun adalah 7 mg zat besi per hari.
Dokter Hans juga menjelaskan Mums bisa menghitung kebutuhan zat besi harian anak berdasarkan berat badan anak, yaitu 2 mg per kg berat badan.
“Pemenuhan zat besi dianjurkan di 2 tahun pertama atau 1.000 hari pertama kehidupan. Pertumbuhan anak lagi pesat-pesatnya dan 80% perkembangan otak terjadi di 2 tahun pertama kehidupan anak, bahkan sampai usia 5 tahun 90-95%,” tambah dr. Hans.
Kalau zat besi anak tidak dioptimalkan, sayangnya bisa berefek ke mana-mana, seperti perkembangannya tidak optimal, kognitifnya tidak bagus, bahkan tumbuh kembangnya terganggu sampai stunting. Itu semua sifatnya tidak bisa dikembalikan. Jadi, itulah mengapa penting memenuhi zat besi harian anak.
Zat Besi untuk Anak Tidak Semua Sama Jenisnya
Karena setiap jenis zat besi bekerja dengan cara yang berbeda, sebagai ibu yang cerdas, disarankan agar Mums memilih zat besi yang pas dan bekerja cerdas bagi anak. Apa artinya pas dan bekerja cerdas?
- Zat besi dapat diserap terkendali sesuai kebutuhan tubuh anak.
- Tepat sasaran atau bekerja efektif tanpa membebani tubuh.
- Setiap anak berbeda, sehingga ibu perlu pintar menyesuaikan pemberian zat besi sesuai kebutuhan anak.
Menggandeng Teman Bumil & Parenting, dalam rangka Mother’s Day, dalam talkshow ini Maltofer memberikan edukasi terkait zat besi untuk si Kecil. Aditiya M. Sobari selaku Senior Brand Manager Maltofer, menjelaskan bahwa Maltofer adalah jenis zat besi yang unik karena menggunakan Iron Polymaltose Complex (IPC), yang efektif mengatasi kurang darah akibat defisiensi zat besi, dengan atau tanpa anemia.
Menurut Adit, Maltofer disebut zat besi unik karena jenisnya bisa diserap terkendali sesuai kebutuhan, sehingga aman untuk dikonsumsi jangka panjang. Lapisan Polymaltose Complex ini juga membantu mencegah perusakan saluran cerna sekaligus lebih minim efek samping, seperti diare, konstipasi, dan mual muntah, yang kerap dialami oleh orang-orang setelah mengonsumsi zat besi.
“Berbeda dengan produk lainnya, Maltofer juga dapat diminum kapan saja karena tidak ada interaksi dengan makanan atau obat-obatan. Jadi, bisa diminum sebelum makanan, saat makan, atau sesudah makan,” tambah Adit. Selain itu, permasalahan pengonsumsian zat besi adalah ada bau dan rasa besi, sehingga membuat anak mual dan tidak mau. Maltofer sendiri rasanya enak dan tidak bau besi, jadi lebih nyaman untuk dikonsumsi.
Selain mendapatkan edukasi tentang zat besi untuk anak, Mums yang hadir juga melakukan banyak aktivitas seru, mulai dari mengikuti kuis Cerdas CerMums untuk mengetes pengetahuan Mums seputar zat besi, mendekorasi kue, dan menulis komitmen sebagai ibu di tahun 2026 untuk menjaga dan merawat si Kecil agar tumbuh kembangnya optimal.
Referensi
Liputan talkshow “Temani Ibu Cerdas, Siapkan Anak Generasi Emas”
-
# TBN Kesehatan
-
# Bayi & Balita
-
# TBN 3 Tahun