Ruby Astari
27 April 2020
freepik.com

Melatih Anak Menjadi Pribadi yang Jujur

Si Kecil gemar berbohong? Ia mengaku menghabiskan sayuran bekal makan siangnya di sekolah, padahal diam-diam membuangnya. Malas ikut kegiatan seni dengan alasan gurunya galak, padahal sebenarnya ia takut melakukan kesalahan dan ditegur guru.

 

Hmm, pasti Mums dan Dads tidak ingin anak kemudian menjadikan berbohong sebagai kebiasaan. Yang ada, lama-lama anak tidak akan merasa bersalah. Namun, bagaimana agar anak menjadi pribadi yang jujur? Nah, inilah beberapa hal yang bisa Mums dan Dads lakukan!

 

  1. Memberikan contoh yang baik

Anak adalah peniru sempurna orang tua. Nasihat ini pasti sudah pernah Mums dan Dads dengar berulang-ulang. Bagaimana anak bisa menjadi pribadi yang jujur bila orang tuanya sendiri ketahuan gemar berbohong, apalagi tanpa rasa bersalah sama sekali?

 

Baca juga: Waspada Si Kecil Terkena Gastroenteritis

 

  1. Jangan memaksa anak untuk jujur 

Misalnya, Mums kebetulan menemukan minuman tumpah di atas meja kerja Dads. Kalau sudah tahu, jangan bertanya dan langsung menghakimi si Kecil dengan berkata, “Kamu yang menumpahkan minuman, ya?”

 

Bila merasa terpojok dan takut dimarahi, anak punya kecenderungan langsung berbohong agar tidak terkena masalah. Begitulah menurut Peter Stavinoha, seorang psikolog saraf klinis dari Pediatric Psychiatry at Children’s Medical Center of Dallas. Lebih baik sekalian ajak si Kecil untuk bertanggung jawab dengan mengatakan, “Mama lihat kamu tadi menumpahkan minuman. Yuk, dibersihkan biar Papa bisa kerja di meja ini.”

 

 

  1. Tidak mudah marah saat anak memutuskan jujur

Pastinya, Mums dan Dads lebih memilih anak untuk berani bersikap jujur. Masalahnya, terkadang reaksi Mums dan Dads langsung panas begitu si Kecil buka suara, alih-alih menghadapinya dengan kepala dingin. Jangan heran bila anak kemudian lebih memilih bungkam atau bohong sekalian di kemudian hari. Ibaratnya, berbohong sudah salah, jujur malah tambah salah.

 

Namun, bukan berarti anak bisa bebas dari konsekuensi. Mums dan Dads bisa memberikan efek jera tanpa harus membuat ia ketakutan untuk jujur lain kali. Misalnya, daripada langsung membentak-bentak, berbicaralah dengan nada tenang dan jelas. Jelaskan kepada si Kecil apa kesalahannya dan ajak ia untuk menyelesaikan masalah tersebut. 

 

Baca juga: Jika Anak Terkena Cacingan

 

  1. Berikan kisah-kisah positif tentang makna kejujuran

“Kenapa sih, kita harus jujur?” Bila si Kecil bertanya soal ini, banyak orang tua yang langsung ceramah. Bahkan, tidak jarang isi ceramah Mums dan Dads berisi hukuman yang lebih berefek menakut-nakuti anak. Daripada begitu, kenapa tidak berikan saja kisah-kisah positif tentang makna kejujuran? Bukankah rasanya terdengar lebih menyenangkan?

 

  1. Mintalah si Kecil berjanji untuk jujur

Untuk amannya, sebelum anak mulai bercerita, mintalah ia untuk berjanji agar jujur. Jadi, anak cenderung akan sulit untuk berbohong. Apalagi bila Mums dan Dads meyakinkannya kejujuran akan jauh lebih baik meskipun artinya harus menyampaikan kabar buruk.

 

Bila anak masih nekat berbohong, mungkin Mums tidak akan selalu tahu. Namun bila akhirnya tahu, Mums bisa mengingatkan anak mengenai janji yang sudah diucapkannya sebelum bercerita. Supaya si Kecil ingat untuk tidak melakukannya lagi, mintalah anak untuk menulis janjinya tersebut di atas kertas. Lalu Mums dan Dads simpan kertas itu sebagai pengingat anak di kemudian hari.

 

  1. Puji anak yang sudah berani untuk jujur

Ingat, tidak mudah bagi beberapa anak jujur. Selain malu, ada rasa takut akan dimarahi bila yang dikatakannya akan membuat Mums dan Dads kecewa. Ucapkan terima kasih kepada anak karena telah berani bersikap jujur. Setelah itu, barulah mengatasi masalah yang dilakukan si Kecil. Intinya, Mums dan Dads harus membuat anak lebih berani bersikap jujur, daripada memilih berbohong karena ingin cari aman.

 

Banyak cara agar anak menjadi pribadi yang jujur. Yang pasti, Mums dan Dads harus bersabar dan mengingatkannya secara bertahap. Semoga anak tidak sampai merasa harus berbohong, ya. (AS)

 

 

Sumber:

  • # Anak
  • # TBN Psikologi
  • # Bayi & Balita
  • # TBN 3 Tahun