Ella Nurlaila
05 September 2025
Shutterstock

Tanda-tanda Wanita Alami Anovulasi

Pada wanita, anovulasi adalah penyebab umum infertilitas. Anovulasi artinya tidak ovulasi atau lepasnya sel telur. Ovulasi adalah proses yang sangat penting untuk terjadinya kehamilan. Dengan tidak adanya sel telur yang lepas dan siap dibuahi sperma, maka tidak terjadi pembuahan. 


Penyebab tersering adalah gangguan hormonal. Tapi, karena banyak hormon yang berperan dalam ovulasi,maka ada banyak juga penyebab anovulasi. Apakah anovulasi bisa disembuhkan? 



Penyebab anovulasi


Kita harus tahu dulu proses terjadinya ovulasi yang normal.  Ovulasi biasanya terjadi pada hari ke-14 dari siklus menstruasi 28 hari. Hari pastinya dapat bervariasi dan, tergantung pada panjang siklus menstruasi, bisa terjadi lebih cepat atau lebih lambat.


Proses ovulasi dimulai ketika hipotalamus (bagian otak) melepaskan hormon  gonadotropin (GnRH). GnRH menyebabkan kelenjar pituitari (kelenjar di otak) mengeluarkan hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon luteinisasi (LH).


Antara hari keenam dan ke-14 siklus menstruasi, FSH menyebabkan folikel (kantung kecil berisi cairan di ovarium yang berisi sel telur yang sedang berkembang) di salah satu ovarium mulai matang. Selama hari ke-10 hingga ke-14 siklus, hanya satu folikel yang sedang berkembang yang membentuk sel telur yang matang sepenuhnya. Sekitar hari ke-14 siklus menstruasi, lonjakan LH yang tiba-tiba menyebabkan ovarium melepaskan sel telurnya.


Mums dapat membayangkan ovulasi sebagai orkestra dengan hormon-hormon di tubuh sebagai instrumennya. Ketika semuanya dimainkan secara harmonis, lagu dapat mengalir dari awal hingga akhir dengan mudah. 


Namun, jika satu instrumen saja tidak selaras, seluruh lagu akan berantakan. Hormon-hormon lainnya akan terganggu dan tidak dapat memainkan perannya dalam lagu tersebut. Hal ini serupa dengan apa yang terjadi jika salah satu hormon sedikit tidak selaras pada hari-hari menjelang ovulasi.


Anovulasi tidak hanya terjadi pada wanita produktif

Anovulasi tidak hanya terjadi pada wanita produktif, atau usia subur untuk dapat hamil dengan sehat (usia 12 sampai 51 tahun). Kondisi ini dapat memengaruhi siapa pun yang memiliki ovarium. Berikut ini adalah kondisi di mana anovulasi bisa terjadi:

- Remaja yang baru saja mulai menstruasi.

- Wanita yang sedang dalam masa perimenopause (transisi ke masa menopause).

- Insufisiensi ovarium primer (POI).

- Sindrom ovarium polikistik (PCOS).

- Memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang sangat rendah, yang biasanya disebabkan oleh gangguan makan atau olahraga berlebihan.


Gejala

Gejala utama anovulasi adalah perdarahan vagina yang tidak teratur. Menyadari tanda-tanda umum ovulasi dan mencatat siklus menstruasi dapat membantu seorang wanita mewaspadai tanda dan gejala anovulasi. 


Penting untuk diingat bahwa menstruasi tidak selalu berarti sudah terjadi ovulasi. Tanda dan gejala anovulasi dapat meliputi:


1. Menstruasi tidak teratur

Jika jarak antar periode menstruasi terus berubah, itu adalah menstruasi yang tidak teratur. Siklus menstruasi rata-rata adalah 28 hari, tetapi bisa lebih pendek atau lebih panjang beberapa hari.


2. Menstruasi yang sangat deras atau ringan

Menstruasi yang deras berarti kehilangan lebih dari 16 sendok teh (80 mL) darah selama menstruasi dan/atau menstruasi yang berlangsung lebih dari tujuh hari. Sedangkan volume darah kurang dari 4 sendok teh (20 mL) selama menstruasi dianggap sebagai menstruasi ringan. 


Akan lebih mudah untuk mengetahui seberapa sering Mums mengganti pembalut selama menstruasi. Secara umum, mengisi pembalut setiap jam selama beberapa jam berturut-turut menunjukkan menstruasi yang deras. 


3. Tidak menstruasi (amenore)

Tidak mengalami satu atau lebih menstruasi tanpa kehamilan bisa menjadi tanda anovulasi.


4. Tidak mengeluarkan lendir serviks berwarna putih telur

Tepat sebelum dan selama ovulasi, keputihan menyerupai putih telur mentah, akan terjadi. Keputihan ini akan menjadi bening, licin, dan elastis. Jika seorang wanita tidak mengeluarkan cairan ini, kemungkinan mengalami anovulasi.


5. Memiliki suhu basal tubuh yang tidak teratur

Suhu basal tubuh adalah suhu saat kita benar-benar beristirahat. Mums dapat mengukurnya tepat setelah bangun tidur dan sebelum bangun dari tempat tidur. Ovulasi dapat menyebabkan sedikit peningkatan suhu basal tubuh.


Bisakah mengalami anovulasi dan tetap menstruasi?

Menstruasi, atau mendapatkan menstruasi, terjadi karena sel telur tidak dibuahi oleh sperma. Ketika tidak berovulasi, tidak ada sel telur yang dapat dibuahi. Berdasarkan definisi medis ini, secara teknis seorang wanita tidak dapat menstruasi tanpa ovulasi.


Namun, penderita anovulasi masih dapat mengalami perdarahan atau "menstruasi" Kondisi ini dikenal sebagai perdarahan uterus abnormal (PUA), atau perdarahan anovulasi. PUA adalah perdarahan uterus yang tidak teratur dan tidak mengikuti siklus menstruasi. Perdarahan uterus abnormal umum terjadi , sekitar 30% wanita mengalaminya di beberapa titik dalam hidup mereka.


Apa saja komplikasi anovulasi?

Anovulasi berpotensi menyebabkan komplikasi. Namun, tidak semua orang akan mengalami komplikasi. Beberapa kemungkinan komplikasi meliputi:


1. Infertilitas

Tidak berovulasi dapat menjadi penyebab utama infertilitas.


2. Amenore

Ini adalah istilah medis untuk tidak mendapatkan menstruasi yang teratur.


3. Ketidakseimbangan hormon

 Tidak berovulasi atau tidak mendapatkan menstruasi merupakan salah satu tanda ketidakseimbangan hormon, tetapi bisa juga ada tanda-tanda lainnya. Gejala ketidakseimbangan hormon lainnya dapat meliputi penambahan berat badan, rambut rontok, dan jerawat.


4. Hiperplasia endometrium

Ketika lapisan rahim  (endometrium) tidak meluruh dengan baik karena kekurangan progesteron, lapisan tersebut dapat menjadi terlalu tebal.


5. Osteoporosis

Hal ini terutama disebabkan oleh kurangnya estrogen, yang penting untuk menjaga kekuatan tulang.


6. Penyakit kardiovaskular

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perubahan hormon dapat meningkatkan risiko  terhadap kondisi yang juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Misalnya, kadar estrogen yang rendah dapat berkontribusi pada peningkatan resistensi insulin, yang meningkatkan risiko terkena diabetes.


Jadi para wanita, kalau mengalami gejala-gejala di atas ada baiknya cek ke dokter sedini mungkin untuk memastikan apakah ada gangguan ovulasi atau tidak. 



Referensi:

Clevelandclinic. anovulation

  • # ovulasi
  • # Infertilitas anovulatori