Kenali Tipe Pasangan saat Marah dan Cara Menghadapinya
Marah adalah salah satu bentuk emosi. Manusia normal, tentu saja punya emosi marah. Namun, kemarahan itu ternyata ada jenis-jenisnya, ada tipe kemarahan yang tidak terkendali, intens, atau kemarahan disertai kekerasan. Data dari Psychology Today (2023) menyatakan bahwa sekitar 8 dari 100 orang dewasa di Amerika Serikat memiliki kemarahan yang tidak terkendali atau intens.
Lalu, bagaimana jika salah satu dari delapan orang itu mirip dengan pacar, kekasih, atau pasangan kita? Oleh karena itu, Mums dan Dads wajib tahu jenis-jenis kemarahan dan bagaimana tipe pasangan saat marah. Dengan begitu, kemarahan tidak berlanjut hingga memengaruhi hubungan menjadi negatif.
4 Jenis Kemarahan
Masih menurut Psychology Today (2023), kemarahan dapat dikategorikan menjadi empat jenis: asertif, agresif, pasif-agresif, dan supresif. Dari keempat tipe kemarahan tadi, hanya kemarahan asertif yang sehat. Tanda-tanda kemarahan yang tidak sehat meliputi intimidasi, manipulasi, ancaman, atau kekerasan fisik.
Berikut ialah penjelasan untuk jenis-jenis kemarahan tersebut:
1. Asertif
Ini adalah satu-satunya kemarahan yang sehat. Pasangan yang memiliki kemarahan yang sehat akan menunjukkan sikap berikut saat marah:
- Jujur tentang perasaan mereka
- Tidak melakukan ancaman, penghinaan, atau intimidasi
- Tidak menyalahkan orang lain atas perasaan mereka
- Menghormati orang lain, bahkan ketika mereka tidak setuju
- Berusaha menyelesaikan konflik
2. Agresif
Kemarahan agresif adalah bentuk marah yang tidak lagi sekadar emosi, tapi sudah keluar dalam perilaku menyerang, bisa verbal, non-verbal, bahkan fisik. Biasanya muncul karena emosi terlalu penuh, merasa terancam, tidak didengar, atau ingin mengontrol situasi orang lain.
3. Pasif-Agresif
Kemarahan pasif-agresif adalah marah yang tidak diungkapkan secara langsung, tapi disalurkan lewat sikap, sindiran, atau perilaku yang “halus tapi menyakitkan”. Di luar terlihat tenang, tapi sebenarnya menyimpan kesal.
Silent tretament atau mendiamkan adalah contoh nyata dari kemarahan pasif agresif. Seseorang yang diperlakukan dengan silent treatment ini bisa sangat terdampak secara emosi dan mental.
4. Supresif
Kemarahan supresif adalah kemarahan yang ditahan, dipendam, dan tidak diekspresikan sama sekali , bahkan sering sampai orangnya sendiri berusaha tidak merasa marah.
Berbeda dengan pasif-agresif (yang masih “menyerang diam-diam”), kemarahan supresif benar-benar ditutup rapat. Dari luar terlihat sabar atau baik-baik saja, tapi di dalam penuh tekanan emosi.
Jenis kemarahan agresif, pasif-agresif, dan supresif semuanya tidak sehat dengan cara yang berbeda. Jika pasangan Mums mengintimidasi, mengejek, memanipulasi, mengancam, atau melukai Mums secara fisik saat marah, ini adalah kemarahan yang tidak sehat.
Kemarahan bisa Memicu Krisis Hubungan Pernikahan
Penelitian di MSI Publisers (2024), menemukan bahwa kemarahan pasangan suami istri yang intens dapat menjadi indikator krisis perkawinan. Faktor psikologis pasangan suami istri memiliki dampak signifikan terhadap hubungan antara kemarahan dan stabilitas perkawinan, ditambah latar belakang budaya memiliki dampak signifikan terhadap kemarahan dan implikasinya terhadap dinamika perkawinan.
Buku The Five Love Languages, karya Gary Chapman, mengatakan bahwa pasangan yang mencari "rahasia cinta yang langgeng” disarankan mempelajari bahasa cinta pasangan.
Lalu bagaimana dengan bahasa kemarahan, apakah ada jenis-jenisnya seperti love languange? Dilansir dari PsychologyToday (2023), berikut ini 5 jenis anger language.
1. Righteous (Aku benar kamu salah)
“Saya yang benar dan kamu salah!” adalah kemarahan yang menunjukkan superioritas. Kalimat ini dapat mengobarkan api dalam pernikahan, apalagi jika kesalahan masa lalu ikut dibawa yang membuat api perseteruan makin membesar.
2. Indignation (Tidak percaya)
Kemarahan yang dipicu ketidakpercayaan biasanya diawali “Bagaimana bisa?” Pesan yang mendasarinya adalah bahwa "korban" tidak pantas menerima apa pun yang mereka terima. Ini adalah teknik klasik membalikkan keadaan yang paling sering membuat kedua pihak berada dalam posisi defensif.
3. Retribution (Pembalasan)
“Kamu akan membayar untuk ini semua!” sering diungkapkan sebagai, "Aku tidak akan memaafkan kamu dan melupakan kesalahan kamu.” Ini adalah salah satu bahasa kemarahan yang paling menular, ungkapan ini dapat terpendam untuk jangka waktu yang lama dan kemudian keluar kembali saat ada momen pembalasan.
4. Distraction (Pengalihan perhatian)
“Bagaimana dengan waktu itu ketika...? Ini adalah seni pengalihan dan digunakan untuk menghindari tanggung jawab dan membuat pasangan berada dalam posisi defensif. Ini adalah versi dewasa dari tertangkap basah kemudian marah duluan sebelum dimarahi.
5. Justification (Pembenaran)
“Kamu pantas mendapatkannya” keluar saat ada dorongan besar pasangan yang sekarang bertindak layaknya hakim dan juri.
Menghadapi pasangan yang marah
Tidak semua orang siap menghadapi saat pasangannya marah. Banyak lho yang justru menghindar karena tidak ingin ada konflik atayu pertengkaran. Biasanya alasan utama menghindari pasangan yang sedang marah adalah rasa takut, baik itu takut salah, takut dimanfaatkan, takut kehilangan kendali, takut menghadapi kebenaran, atau takut dianggap lemah.
Namun, ada cara yang bisa Mums atau Dads lakukan saat menghadapi pasangan yang marah:
1. Jadikan hubungan sebagai prioritas
David Burns, dalam bukunya Feeling Good Together, menyarankan bahwa salah satu masalah utama dalam konflik hubungan bukanlah masalah komunikasi, tetapi kurangnya kepedulian terhadap pasangan dan tidak lagi menjadikan hubungan sebagai prioritas.
Saat pasangan marah, insting alami kita biasanya membela diri, menyerang balik, atau menarik diri. Padahal di momen itu lebih baik lakukan pendekatan yang memprioritaskan hubungan.
Bukan berarti mengalah terus, tapi memilih cara merespons yang benar untuk melindungi hubungan. Misalnya: tunda reaksi dan pikirkan bahwa yang menjadi lawan bukan pasangan, tetapi masalah yang menyebabkan marah.
Memprioritaskan hubungan berarti:
lebih penting memahami daripada menang
lebih penting menenangkan daripada membalas
lebih penting memperbaiki daripada membuktikan
2. Ketahui kapan harus melepaskan sesuatu
Artinya tidak semua hal perlu diperjuangkan pada saat itu juga. Ada momen ketika tujuan utama bukan memenangkan poin, tapi menjaga kondisi emosi agar hubungan tidak terluka. “Melepaskan” di sini bukan menyerah, melainkan memilih prioritas: hubungan dulu, pembahasan nanti.
Melepaskan itu kemampuan membedakan mana yang harus diselesaikan sekarang dan mana yang harus diselamatkan dulu. Karena dalam konflik hubungan, timing sering lebih penting daripada kebenaran.
3. Bersedia memaafkan
Saat pasangan marah, sering kali kata-katanya lebih tajam dari niat aslinya. Di titik itu, muncul dua pilihan: menyimpan luka atau Mums dan dads memilih memaafkan.
Tapi memaafkan bukan berarti membenarkan perilaku. Bukan juga pura-pura Mums tidak terluka. Memaafkan adalah keputusan sadar untuk tidak membiarkan kemarahan merusak kedekatan hubungan Mums dan Dads lebih jauh.
Itulah jenis-jenis dan bahasa kemarahan yang dapat ditemukan dalam pasangan. Mengenali pasangan masing-masing, baik bahasa cinta maupun bahasa marahnya, dapat membuat hubungan Mums dan Dads lebih langgeng. Karena itu artinya Mums dan Dads tahu kapan harus mengungkapkan rasa cinta, kapan harus meminta maaf, dan kapan harus memaafkan.
Referensi
1. Psychology Today. 2023. The 5 Anger Languages in Relationships
2. MSI Publishers. 2024. Spouses’ Anger As An Indicator Of Marriage Crisis: Understanding The Dynamics And Implication For Counselling.
-
# Hubungan
-
# Pernikahan