Bisa Ganggu Perkembangan Otak Anak, Hindari Gunakan Cat Mengandung Timbal
Hidup sehat tidak hanya ditentukan oleh gaya hidup, tetapi juga oleh lingkungan tempat kita beraktivitas. Kualitas ruangan yang kita tempati, terutama rumah yang kita huni, sangat menentukan kualitas hidup penghuninya.
Tahukah Mums, sebagian orang menghabiskan lebih dari 90% waktu di dalam ruangan, baik di rumah maupun di tempat kerja. Oleh karena itu, ketika Mums dan Dads akan membangun atau merenovasi rumah, salah satu pertimbangan penting adalah pemilihan material bangunan yang bebas dari senyawa kimia berbahaya. Salah satunya cat. Apakah Mums sudah tahu, bahwa masih banyak cat yang mengandung logam berat timbal? Lalu apa saja bahaya paparan timbal untuk kesehatan anak?
Mengenal Timbal dan Potensi Bahayanya
Timbal (lead) merupakan unsur logam yang secara alami terdapat di lingkungan maupun material yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Timbal dikenal sebagai salah satu logam berat yang penggunaannya cukup luas di berbagai sektor industri karena sifatnya yang stabil, mudah dibentuk, dan tahan terhadap korosi.
Timbal banyak digunakan pada cat generasi lama, sekitar 83% cat konvensional mengandung timbal dalam kadar yang tinggi. Fungsinya untuk memperkuat pigmen sehingga warna cat lebih cerah dan kuat, dan cat lebih cepat kering. Hal ini dipaparkan oleh Prof. Dr. Yuni Krisyuningsih Krisnandi, M.Sc., Ahli Kimia dan Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia, dalam diskusi media yang diselenggarakan oleh Forum Ngobras di Jakarta, 8 April 2026.
Menurut Prof. Yuni, sebenarnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan regulasi untuk batas maksimal timbal dari cat 90 ppm. Menurut Prof. Yuni, pada cat konvensional yang lama, kadarnya bisa sangat tinggi mencapai 5.000 – 100.000 ppm.
"Di Indonesia, kadar timbal dalam cat sudah mulai digalakkan. Kita mulai beralih dari cat konvensional ke cat yang bebas timbal atau mengandung kadar timbal rendah. Sedangkan di negara maju, cat sudah tidak menggunakan timbal sama sekali,” papar Prof. Yuni.
Sayangnya, paparan timbal ini sering tidak disadari olah banyak orang tua dan dalam jangka panjang bisa menumpuk di tubuh. Cat berwarna-warni tidak hanya ditemukan di rumah namun juga di taman bermain, di mana anak sering menghabiskan waktu. Hasil Laporan Surveilans Nasional menemukan bahwa 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas 5 µg/dL, berdasarkan pemantauan di enam provinsi.
Cat yang mengelupas merupakan salah satu faktor risiko paparan timbal di tingkat rumah tangga. “Cat sebenarnya tidak berbahaya. Namun, kadar timbal yang tinggi dapat meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang,” ujar Prof. Yuni.
Bagaimana Timbal Masuk dan Terakumulasi dalam Tubuh Kita?
Timbal bisa masuk ke tubuh secara tidak sengaja melalui ingesti (tertelan), terhirup, atau melalui pori-pori kulit. Dokter Spesialis anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A (K), melanjutkan, bahwa tubuh kita sebenarnya memiliki mekanisme yang sangat kompleks dan cerdas untuk mengeliminasi zat-zat berbahaya yang masuk ke tubuh.
“Kita memiliki organ sekresi yaitu ginjal dan hati. Bila zat berbahaya yang masuk jumlahnya sedikit, dan gaya hidup kita baik, bisa dieliminasi oleh tubuh. namun bila jumlah yang masuk terlalu banyak, apalagi dalam jangka waktu panjang, yang harusnya dikeluarkan jadi tidak bisa, dan akhirnya menumpuk di organ-organ tubuh,” papar dr. Reza.
Menurut dr. Reza, logam berat seperti timbal sangat berbahaya bila terakumulasi dalam tubuh. Tingginya kasus infertilitas dan gagal ginjal ronis pada anak, bisa jadi berhubungan dengan paparan timbal,” ujarnya.
Penyakit akibat paparan logam berat seperti timbal, disebut dengan keracunan logam berat. Di Indonesia, ini masih jadi fenomena gunung es karena kita masih banyak menghadapi penyakit-penyakit infeksi. Keracunan logam berat baru sedikit terdeteksi terdeteksi karena belum banyak surveilans. “Namun BPN menemukan, satu dari tujuh anak terappar akdar timbal yang cukup tinggi,” imbuh dr. Reza.
Dampak Timbal pada Kesehatan
Timbal yang masuk akan diserap ke dalam aliran darah dan terdistribusi ke berbagai organ, termasuk tulang, ginjal, dan sistem saraf. Berikut beberapa dampak kesehatan jangka panjang akibat akumulasi timbal dalam tubuh:
1. Gangguan perkembangan otak
Pada anak, paparan timbal berdampak pada perkembangan otak, sehingga dapat menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, prestasi belajar yang lebih rendah, berkurangnya rentang perhatian, serta gangguan perilaku.
2. Penyakit kronis
Pada orang dewasa, paparan timbal dikaitkan dengan penyakit ginjal dan penyakit kardiovaskular, termasuk hipertensi dan penyakit jantung koroner.
3. Gangguan kehamilan
Sedangkan bagi ibu hamil, paparan timbal menjadi perhatian khusus karena dapat melintasi plasenta. Hal ini bisa meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, hingga berat badan lahir rendah.
Paparan timbal umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba dalam jumlah besar, melainkan secara bertahap dalam kadar kecil tapi berulang dari berbagai sumber di lingkungan sekitar. Misalnya dari debu rumah, serpihan cat lama, tanah yang terkontaminasi, atau material tertentu di lingkungan hunian dan fasilitas publik. “Karena sifatnya yang akumulatif, paparan jangka panjang meskipun dalam kadar rendah tetap dapat berdampak terhadap kesehatan tubuh,” imbuh dr. Reza.
Pentingnya Memilih Material Bangunan yang Aman
Arsitek dan Urban Designer di KIND Architects, Adjie Negara, menekankan pentingnya memilih material bangunan yang aman, baik itu lantai, plafon, hingga dinding. “Kita menghabiskan 90% waktu kita di dalam ruangan (indoor). Dalam sehari, sekitar 30% waktu kita di tempat tidur, dan 30% di kantor. Material bangunan sangat berpengaruh pada kualitas hidup penghuninya. Karenanya, pemilihan material bangunan sangat penting. Tidak hanya soal estetika, tapi juga keamanannya,” tuturnya.
Kalau Mums dalam waktu dekat akan membangun atau merenovasi rumah, jangan salah pilih cat. Berikut ini ciri-ciri cat yang aman:
- Memiliki kandungan Volatile Organic Compounds (VOC) sangat rendah / nol
- Tidak mengandung logam berat seperti timbal (Pb), Merkuri (Hg) datau Cadmium (Cd)
- Cat berbasis air (water-based), bukan pelarut organik
- Bau tidak menyengat (low odor) kalau untuk indoor
- Non-toksik dan aman bagi kesehatan
- Menggunakan bahan alami / terbarukan
- Memiliki sertifikasi ramah lingkungan (eco-label)
- Daya tahan baik, tidak mudah mengelupas
Adjie mengingatkan juga bahwa penting untuk melakukan perawatan dan inspeksi rutin pada bangunan maupun fasilitas publik. “Seiring waktu, akibat pengaruh dari faktor usia, cuaca, maupun intensitas penggunaan, kualitas material bangunan bisa mengalami penurunan. Misalnya, cat yang mengelupas atau rusak, sebaiknya dihindari,” ujarnya.
-
# Keluarga
-
# Rumah Tinggal
-
# Kesehatan anak