Ganti-ganti Pengasuh, Apa Dampaknya untuk Anak?
Sudah wawancara belasan orang, akhirnya dapat pengasuh. Eh, tiga bulan kemudian resign. Bagi Mums, ini bukan sekadar repot. Yang bikin cemas adalah apa dampaknya untuk anak?
Pengasuh punya peran sebagai pengganti orang tua bagi anak-anak ketika orang tua tidak berada di rumah. Sayangnya, memiliki pengasuh yang ideal memang sangat sulit. Tidak sedikit orang tua yang akhirnya berganti-ganti pengasuh. Lalu, apakah sering berganti pengasuh bisa berdampak jangka panjang?
Jawabannya: ya, bisa. Tapi, bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan. Artikel ini akan membantu Mums memahami apa yang sebenarnya dirasakan anak, dan langkah apa yang bisa diambil orang tua.
Kenapa anak butuh figur pengasuh yang stabil?
Menurut teori kelekatan (attachment theory) yang dikembangkan psikolog John Bowlby, anak-anak terutama di bawah usia 3 tahun membutuhkan figur lekat yang konsisten untuk membangun rasa aman. Figur lekat ini tidak harus selalu ibu atau ayah. Pengasuh yang hadir setiap hari, responsif, dan penuh kasih sayang bisa menjadi figur lekat yang penting bagi anak.
Ketika figur ini terus berganti, anak harus berulang kali membangun kepercayaan dari nol. Bagi bayi dan balita yang belum bisa memahami konsep "pengasuh pergi bukan berarti tidak menyayangi", setiap pergantian bisa terasa seperti kehilangan kecil.
Oleh karena itu, berganti-ganti pengasuh atau baby sitter akan berdampak pada pada tumbuh kembang anak karena pengasuhan yang konsisten dapat membangun rasa aman pada dirinya.
Dampak berganti-ganti pengasuh berdasarkan usia anak
Mencari pengasuh yang ideal tidak ubahnya mencari jarum di tumpukan jerami, terutama bagi orang tua yang sibuk dan diharuskan keadaan memiliki pengasuh anak. Sebab mencari pengasuh tidak semudah mencari ART yang mengurus rumah dengan segala perabotannya.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa berganti-ganti pengasuh juga bisa berdampak pada tumbuh kembang anak yang masih kecil, bahkan bayi, di momen emas tumbuh kembangnya. Berikut ini dampak berganti-ganti pengasuh ada anak yang perlu Mums ketahui:
Bayi (0–12 bulan)
Ini adalah usia paling rentan. Bayi sangat bergantung pada konsistensi pengasuhan untuk membangun rasa aman dasar. Pergantian pengasuh di usia ini bisa memengaruhi kualitas tidur dan pola makan bayi, karena ia belum bisa "bernegosiasi" dengan situasi baru.
Balita (1–3 tahun)
Anak di usia ini sudah mulai membentuk attachment yang kuat. Pergantian pengasuh bisa memunculkan perilaku regresi — tiba-tiba ngompol lagi, lebih rewel, atau tidak mau ditinggal orang tua. Ini adalah sinyal stres, bukan kenakalan.
Anak usia 3–6 tahun
Pada usia ini anak sudah bisa diberikan penjelasan sederhana. Respons mereka terhadap pengasuh baru umumnya lebih cepat — biasanya butuh 2–4 minggu untuk beradaptasi penuh, asalkan proses perkenalan dilakukan dengan baik.
Apa dampak berganti-ganti pengasuh pada anak?
Baby sitter atau pengasuh yang datang silih berganti dalam hitungan bulan, bahkan minggu, dapat memengaruhi perkembangan emosional anak. Beberapa dampanya ialah:
1. Gangguan kelekatan
Attachment atau kedekatan antara anak dan pengasuh terutama yang bayi dan balita bisa terganggu. Sebab attachment atau kelekatan antara anak dan pengasuh utama sebagai dasar rasa aman sudah terbangun sedemikian rupa dengan pengasuhnya. Jika berganti di tengah jalan, atau sering ganti pengasuh, bisa berdampak pada anak. Pergantian pengasuh terlalu sering membuat anak sulit membangun kelekatan yang stabil, sehingga muncul rasa tidak aman atau cemas.
2. Masalah emosional
Anak bisa menjadi lebih rewel, mudah marah, atau cemas saat berpisah dengan pengasuhnya. Pada usia yang usianya lebih besar, anak dapat menunjukkan perilaku menarik diri atau agresif sebagai bentuk ketidaknyamanan.
3. Perkembangan sosialnya terhambat
Mums, anak belajar keterampilan sosial dari pengasuh melalui interaksi sehari-hari. Dampak berganti-ganti pengasuh pada anak bisa mengganggu proses belajar si Kecil dalam memahami ekspresi emosi, empati, kepercayaan.
4. Inkonsistensi
Setiap pengasuh mungkin memiliki gaya pengasuhan berbeda, seperti jadwal makan, cara menenangkan, belajar memahami aturan. Nah, dampak bergant-ganti pengasuh bisa membuat inkonsistensi dalam pengasuhan. Sehingga membuat anak jadi bingung dan sulit membentuk kebiasaan seperti pola tidur, jadwal makan, juga disiplin anak itu sendiri.
Hal penting saat memilih pengasuh yang tepat
Mendapatkan pengasuh yang tepat memang tidak mudah. Mintalah rekomendasi dari teman atau keluarga sehingga bisa mendapatkan pengasuh yang terpercaya. Maupun melalui kanal resmi seperti yayasan atau pihak ketiga yang legal.
Namun hal ini kadang tidaklah cukup. Agar tidak berganti-ganti pengasuh, ada beberapa hal penting yang mesti diperhatikan dalam mencari pengasuh untuk anak, di antaranya:
1. Memiliki referensi yang baik
Jangan ragu meminta referensi. Sama seperti proses rekrutmen lainnya, meminta referensi pengasuh itu wajar dan sangat dianjurkan. Setelah ia memberikan referensi, hubungi langsung untuk menanyakan umpan balik kinerja dan keterampilannya. Jika ia tidak mau atau ragu memberikan referensi, hal ini bisa jadi peringatan.
2. Memiliki pelatihan
Pelatihan memang bukan syarat wajib tetapi bisa sangat menguntungkan. Mengetahui pengasuh telah memiliki pelatihan merawat bayi akan membuat orang tua lebih tenang. Karena ia siap menghadapi situasi darurat dan paham pengasuhan bayi secara umum.
3. Mampu berinteraksi baik dengan anak
Jika masih ragu, biarkan pengasuh bermain dengan anak, sambil Mums mengawasi di rumah. Lihat gaya pengasuhan, cara mengikuti instruksi, menghadapi situasi, dan terutama interaksinya dengan anak. Percayalah pada insting Mums, apakah ia pengasuh yang tepat atau tidak.
4. Anak menyukainya
Jika anak sudah bisa bicara, libatkan ia dalam proses ini. Setelah sesi uji coba, tanyakan pendapat si Kecil tentang waktu bersama pengasuhnya, apakah ia ingin bertemu lagi. Ini memberi gambaran seberapa nyaman anak bersama pengasuh tersebut.
Cara mengenalkan pengasuh baru tanpa trauma
Jika Mums terpaksa harus berganti-ganti pengasuh dalam hitungan yang tidak lama, ikuti beberapa cara memperkenalkan pengasuh baru ke anak di bawah ini agar anak tidak merasa trauma dan lebih mudah menerima pengasuh barunya:
1. Lakukan sesi perkenalan bertahap
Undang pengasuh baru untuk datang satu atau dua hari sebelum resmi mulai bekerja. Biarkan anak berinteraksi dengan pengasuh baru sementara kamu masih ada di dekatnya. Ini membantu anak merasa aman karena ada "jembatan kepercayaan" dari orang tua.
2. Ceritakan kepada anak siapa pengasuh barunya
Untuk anak usia di atas 2 tahun, ceritakan siapa pengasuh barunya sebelum mereka bertemu. "Nanti ada Kak Sari yang akan menemani kamu bermain. Kak Sari baik sekali dan suka cerita dongeng." Ini membantu anak memiliki ekspektasi positif.
3. Jangan menghilang diam-diam
Saat kamu harus pergi, selalu pamit. Meski terasa lebih mudah menyelinap keluar ketika anak sedang bermain, ini bisa memperburuk kecemasan anak karena ia tidak tahu kapan kamu akan "tiba-tiba menghilang" lagi.
4. Beri pengasuh informasi detail tentang anak
Jadwal tidur, makanan kesukaan, cara menenangkan saat rewel, dan hal-hal kecil yang penting. Pengasuh yang paham kebiasaan anak akan lebih mudah membangun kepercayaan si kecil.
Kesimpulan
Mums, pergantian pengasuh sering kali memicu rasa tidak aman dan kesulitan pada anak dalam membangun kedekatan dan kepercayaan pada orang asing. Apalagi jika sering berganti-ganti pengasuh. Itu sebabnya menjaga konsistensi pengasuhan sangatlah penting.
Lakukan transisi dengan lembut, dan pertahankan rutinitas yang dapat membantu mengurangi dampak sering ganti pengasuh pada anak bagi tumbuh kembang si Kecil. Untuk Mums yang ingin bertanya lebih jauh soal pengasuhan anak, Mums bisa bertanya pada para pakar secara online di aplikasi Teman Bumil dan dapatkan berbagai artikel menarik lainnya di sini.
Referensi
-
# Tumbuh Kembang
-
# Keluarga
-
# Psikologi Anak