GueSehat
13 Desember 2018
google image

Waktu adalah Segalanya ketika Terjadi Serangan Jantung

Penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu di dunia. Ketika seseorang terkena serangan jantung atau henti jantung mendadak (cardiac arrest), peluang ia selamat tidaklah besar. Di Amerika Serikat, data Institute of Medicine, seperti dikutip dari Sciencedaily, menunjukkan serangan jantung dan henti jantung mendadak dialami sedikitnya 600.000 orang setiap tahun dan sebagian besar tidak tertolong.

 

Dari angka tersebut, 395.000 kasus henti jantung terjadi di luar rumah sakit, dan yang berhasil selamat hanya kurang dari 6%. Sisanya, sekitar 200.000 kasus henti jantung terjadi di rumah sakit pada pasien yang dirawat, dan peluang bisa diselamatkan jauh lebih baik, yaitu 24%.

 

Data tersebut menunjukkan bahwa pertolongan cepat dan tepat adalah segalanya ketika terjadi serangan jantung. Amerika Serikat yang sudah melengkapi sebagian besar ruang publiknya dengan alat pacu jantung portabel dan memiliki sistem panggilan darurat yang sangat cepat melalui 911 saja tetap tidak mampu berbuat banyak untuk korban serangan jantung di luar rumah sakit.

 

Baca juga: Ini yang Harus Dilakukan Saat Serangan Jantung! 

 

Bagaimana dengan Indonesia? Jika saja di Indonesia ada data, tentu kondisinya lebih memprihatinkan. Hal itu dikatakan oleh kardiologis dari Bethsaida Hospital, Serpong, Tangerang, dr. Dasaad Mulijono. Menurutnya, ketika pasien mengalami henti jantung atau serangan jantung mendadak bahkan di rumah sakit sekalipun, peluang selamat sangatlah kecil.

 

“Apalagi jika rumah sakit tidak memiliki peralatan yang memadai, ibaratnya kita hanya bisa berdoa saja. Hanya mukjizat yang bisa menyelamatkan pasien tersebut,” jelas dr. Dasaad dalam acara Media Briefing yang diadakan di Rumah Sakit Bethsaida, 6 Desember 2018.

 

Apa yang diungkapkan oleh dr. Dassad sepertinya tidak berlebihan. Alasannya, saat ini belum semua rumah sakit di Indonesia dilengkapi ruang kateterisasi atau cathlab, yang dapat digunakan untuk membuka sumbatan pembuluh darah di jantung, yang menjadi penyebab serangan jantung. Padahal, tindakan ini harus dilakukan secepatnya, paling lambat dalam 1 jam setelah serangan. 

 

Mengapa Waktu Sangat Menentukan?

Serangan jantung terjadi ketika aliran darah yang membawa okisigen ke jantung terhenti akibat pembuluh darah utama di jantung (arteri koroner) tersumbat 100%. Sumbatan di pembuluh darah ini disebabkan aterosklerosis, yaitu penumpukan plak atau lemak yang terakumulasi selama bertahun-tahun.

 

Ketika jantung tidak mendapatkan pasokan darah, setiap menit terjadi kerusakan otot jantung yang bersifat permanen. Semakin cepat sumbatan ini dibuka, dilanjutkan  pemasangan stent (ring) atau balon, maka semakin minimal kerusakan otot jantung.

 

Otot jantung ini berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Ketika pasien berhasil diselamatkan dari serangan jantung tetapi kerusakan otot jantung sudah sangat berat, maka yang tertinggal adalah kecacatan karena jantung menjadi lemah. Kita menyebutnya dengan gagal jantung.

 

Baca juga: Jangan Abaikan Gejala Serangan Jantung Ini!

 

Menurut dr. Dasaad, penting sekali untuk mengenali gejala serangan jantung sedini mungkin. Gejala khas serangan jantung adalah nyeri dada hebat yang menyebar ke lengan, punggung, dan rahang, keringat dingin, sesak napas, pusing, hingga hilang kesadaran. Jika Kamu menemukan orang terdekat terjatuh mendadak dengan gejala tersebut, maka cara satu-satunya adalah membawanya ke rumah sakit terdekat. Diutamakan rumah sakit dengan fasilitas cathlab.

 

Semakin lama pasien dibiarkan tanpa pertolongan, entah dengan CPR atau alat pacu jantung portabel, maka peluang ia selamat semakin kecil. Data menunjukkan, peluang selamat turun 10% setiap 1 menit yang tertunda. Maka sebelum sampai ke rumah sakit terus berikan CPR agar jantungnya tetap berdetak.

 

Deteksi Dini Penyakit Jantung tak Perlu ke Luar Negeri

Serangan jantung dapat terjadi pada siapa saja, terutama yang berisiko, yaitu usia lanjut, perokok, kelebihan berat badan, memiliki diabetes melitus, atau ada riwayat penyakit jantung di keluarga. “Hati-hati, jangan-jangan di antara kita ada yang sudah memiliki penyakit jantung tetapi tidak mengetahuinya, dan hanya menunggu bom waktu terjadi serangan jantung,” ujar dr. Dasaad.

 

Penyakit jantung koroner yang disebabkan aterosklerosis tidak selalu menimbulkan gejala. Gejalanya, ujar dr. Dasaad, kadang mirip dengan nyeri dada saat sakit maag. Untuk memastikannya, setiap orang yang berisiko direkomendasikan untuk melakukan cek kesehatan secara rutin. Faktanya, sebagian orang Indonesia pergi ke luar negeri untuk sekadar check up kesehatan. Setidaknya, 600 ribu orang Indonesia berobat ke luar negeri setiap tahun dan menghabiskan biaya 18,2 triliun rupiah.

 

Menurut dr. Dasaad, mendeteksi penyakit jantung tidak sulit dan tidak membutuhkan peralatan canggih. Paling minimal adalah dengan rontgen. Rontgen dapat mendeteksi apakah jantung membesar tetapi tidak bisa mendeteksi adanya sumbatan. Bisa juga dengan elektrokardiogram (EKG), yang hampir semua rumah sakit memilikinya. Deteksi penyakit jantung koroner juga bisa dengan treadmil. Deteksi ini sekaligus bisa menentukan ada tidaknya sumbatan pada pembuluh darah koroner. Sayangnya, tingkat keakurasiannya hanya 50%.

 

“Sebenarnya, alat paling akurat untuk mendeteksi penyakit jantung koroner adalah dengan CT-scan. Itupun masih memiliki tingkat kesalahan 5-10%, sehingga hanya kateterisasi jantung yang bisa mendeteksi sekaligus membuka sumbatan arteri koroner di jantung dengan tingkat kesalahan hanya 0,5%. Bahkan bisa akurat 100% seberapa berat sumbatannya,” jelasnya.

 

Prosedur kateterisasi dilakukan dengan memasukkan semacam wire atau kawat menuju jantung. Kawat ini dilengkapi balon di ujungnya. Ketika tiba di lokasi terjadinya penyempitan, balon dikembangkan dan akan menekan plak ke dinding pembuluh darah. Aliran darah pun bisa kembali lancar.

 

Namun, ada risiko terjadi penyempitan kembali sebesar 20-50% dengan balon, sehingga dikembangkan cincin dari logam untuk menahan plak lebih kuat. Dengan pemasangan stent, risiko penyempitan kembali bisa diturunkan menjadi hanya 5-10%.

 

Baca juga: Diabetes Tingkatkan Risiko Serangan Jantung
 

“Kita harus mengedukasi pasien bahwa ketika memiliki penyakit jantung koroner, pergi ke luar negeri bisa jadi sia-sia karena tidak mendapatkan pertolongan secepatnya ketika terjadi henti jantung. Jika dalam waktu 1 jam setelah terjadi serangan jantung pasien langsung menjalani tindakan kateterisasi, maka otot jantung yang mati hanya 10% saja. Dengan kata lain, mau tidak mau harus dilakukan di rumah sakit terdekat. Tidak ada pilihan terbang ke luar negeri untuk serangan jantung,” tegas dr. Dasaad yang merupakan ahli kardiologi intervensi.

 

Ditambahkan oleh dr. Dasaad, sebenarnya rumah sakit di Indonesia sudah dilengkapi dengan teknologi canggih di bidang kardiologi yang terintegrasi dengan para dokter yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya. Bethsaida Hosptital sendiri memilliki layanan unggulan untuk kardiologi intervensi ini karena sudah memiliki cathlab terpadu dan dokter-dokter berpengalaman, sehingga mampu menangani tindakan kateterisasi jantung, angiografi, serta pemasangan ring. (AY/AS)

 

 

  • # Serangan Jantung
  • # Kardiovaskular
  • # Angina Pectoris (Serangan Jantung)
  • # Kardiologi