Remaja Berantem dengan Sahabatnya, Kapan Ortu Perlu Intervensi?
Siapa bilang kehidupan remaja tidak serumit orang dewasa? Layaknya interaksi antar individu, selalu ada potensi konflik seperti pertengkaran. Sering terdengat remaja bertengkar dengan sahabatnya.
Melihat anak pulang ke rumah dengan mata merah karena ribut sama sahabat karibnya, rasanya Mums ingin langsung turun tangan dan menyelesaikan semuanya. Tapi tunggu dulu, apakah ikut campur selalu menjadi keputusan terbaik?
Faktanya, menurut riset terbaru 2024, orang tua yang terlalu sering mengintervensi konflik sosial anak justru berisiko membuat anak kehilangan kemampuan menyelesaikan masalah secara mandiri. Di sisi lain, membiarkan begitu saja juga bukan jawaban, karena ada jenis konflik yang memang butuh campur tangan orang dewasa.
Artikel ini akan bantu Mums membaca situasi dengan lebih jernih: kapan harus diam, kapan harus bertindak, dan bagaimana caranya.
Berantem biasa vs serius: cara membedakannya
Tidak semua pertengkaran remaja perlu direspons dengan cara yang sama. Sebelum memutuskan untuk turun tangan, coba kenali dulu jenis konflik yang terjadi:
Konflik normal (bisa biarkan anak remaja selesaikan sendiri):
Berebut mainan atau giliran
Salah paham kecil soal janji atau rencana
Perbedaan pendapat tentang minat
Pertengkaran yang sudah terjadi dan reda dalam hitungan jam
Konflik yang perlu perhatian lebih:
Berlangsung lebih dari beberapa hari
Memengaruhi nafsu makan, tidur, atau semangat sekolah anak
Ada unsur pengucilan, intimidasi, atau ancaman
Terjadi melalui media sosial (cyberbullying)
Melibatkan kekerasan fisik
Tanda orang tua harus turun tangan
Sebagai orang tua, perlu bersikap bijak ketika mendapati remaja bertengkar dengan sahabatnya. Bukan bermaksud mengabaikan, melainkan mencari waktu yang tepat untuk melakukan intervensi. Atau sekadar memberikan masukan pada individu yang sedang berkonflik.
Ingat ya Mums, intervensi yang tepat dalam mengatasi remaja bertengkar dengan sahabatnya, sangat penting dilakukan untuk menjaga hubungan yang sehat di antara mereka.
Lalu, kapan orang tua boleh ikut campur pertengkaran anak? Pakar Sandra Whitehouse menyarankan orang tua untuk benar-benar turun tangan ketika melihat tanda-tanda ini:
1. Ada kekerasan fisik
Ketika remaja bertengkar dengan sahabatnya sudah mulai mengandung kekerasan baik verbal apalagi fisik, inilah saatnya orang tua mengintervensi. Misalnya menghina, mengancam, meneror, atau melakukan kekerasan fisik. Seperti memukul, menendang, mencekik, dan seterusnya.
2. Anak menunjukkan tanda-tanda perundungan (bullying)
Adanya tanda-tanda perundungan atau bullying yang dialami bisa menjadi alasan orang tua untuk melakukan intervensi pada remaja bertengkar dengan sahabatnya. Misalnya temannya menyebar rumor yang tidak benar, terus menerus mengejek atau menghina secara terbuka. Ini yang membedakan berantem biasa vs bullying pada anak remaja.
3. Memengaruhi kondisi emosional anak
Pertengkaran remaja terkadang bisa berdampak serius pada kesehatan mentalnya. Bila ini terjadi, orang tua mesti turun tangan menyelamatkan kondisi psikologis remaja. Apalagi jika ia tampak stress, menarik diri dari pergaulan, mengalami gangguan tidur, atau menangis terus menerus.
4. Konflik terjadi di media sosial dan melibatkan banyak pihak
Jika konflik mulai meluas, termasuk diposting di sosial media dan melibatkan banyak pihak, ini tandanya Mums perlu mulai turun tangan dan mencarikan solusinya bersama-sama.
5. Anak remaja sendiri meminta bantuan
Jika remaja meminta bantuan langsung tanpa inisiatif dari orang tua, ini tandanya ia sangat membutuhkan bantuan segera. Lakukan intervensi secara bijak yang bisa orang tua perbuat. Agar remaja bertengkar dengan sahabatnya bisa segera mendapatkan titik terang.
Namun, Mums perlu ingat bahwa terdapat beberapa hal yang tidak boleh dilakukan orang tua saat intervensi. Saat remaja berantem dengan temannya, ada beberapa respons orang tua yang justru memperburuk situasi, seperti:
Langsung menghakimi pihak lain. Ingat, Mums baru mendengar satu sisi cerita. Kemungkinan anak untuk berbaikan dengan temannya selalu ada.
Mengecilkan perasaan anak. Jangan bilang "Ah, nanti juga baikan sendiri." Lebih baik validasi dulu: "Kamu pasti sedih banget, ya."
Langsung menghubungi orang tua anak lain tanpa dipikir matang. Ini bisa memperparah konflik antar keluarga.
Memaksa anak untuk langsung berbaikan. Berikan waktu kepada anak, karena rekonsiliasi yang dipaksakan jarang bertahan lama.
Cara Efektif Membantu Mengatasi Konflik Remaja
Jika harus melakukan intervensi dan berbuat sesuatu untuk membantu mengatasi konflik remaja, ada beberapa hal yang bisa Mums lakukan sebagai orang tua. Tentu saja langkah ini akan cukup efektif membantu menghadapi remaja bertengkar dengan sahabatnya bila dilakukan dengan benar, adil, dan tidak berlebihan.
Berikut ini ialah cara mengatasi remaja yang bertengkar dengan sahabatnya:
1. Jadilah pendengar yang baik
Langkah awal menghadapi remaja bertengkar dengan sahabatnya adalah dengan menjadi pendengar yang baik. Dengarkan cerita darinya seutuhnya tanpa menghakimi dan benar-benar pahami sudut pandang mereka. Ciptakan ruang yang aman yang berkomunikasi sehingga ia bisa leluasa bercerita tanpa ada yang ditutupi.
2. Konsisten dan konsekuen
Orang tua perlu bersikap konsisten dalam memberikan konsekuensi pada remaja jika ada hal-hal yang dilanggar. Misalnya ternyata remaja tidak menepati janjinya untuk meminta maaf terlebih dahulu. Ini penting untuk mengajarkan dan melatih tanggung jawab pada remaja.
3. Cari solusi bersama
Ajak anak untuk terlibat aktif dalam mencari solusi atas konflik yang dihadapi. Jangan menganggap remaja tidak bisa mencari solusi, bisa jadi ia punya ide yang lebih menarik dari orang tuanya. Jadi, tidak ada salahnya memberikan kesempatan pada remaja untuk mencari solusi bersama.
4. Regulasi emosi
Ajarkan remaja bagaimana mengelola emosi yang baik dan benar. Misalnya, ajarkan teknik pernapasan dalam, menulis, meditasi. Kemampuan tersebut efektif membantu remaja meregulasi emosi dengan cara yang tepat.
5. Coping skills
Selain regulasi emosi, coping skills atau keterampilan menghadapi masalah sangat penting diajarkan pada remaja. Sampaikan cara menghadapi konflik, stres, dan kondisi tidak nyaman dan tidak terduga lainnya dengan benar. Misalnya, menenangkan diri, komunikasi terbuka, berolahraga, cari solusi bertahap, siapkan beberapa opsi. Hal ini akan meningkatkan ketahanan mental dan emosionalnya.
Kesimpulan
Mums, itulah waktu yang tepat melakukan intervensi ketika remaja bertengkar dengan sahabatnya. Lengkap dengan cara membantu remaja mengatasi konflik yang dihadapinya. Sebab konflik sering kali tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan adalah menghadapi dan mengatasinya dengan benar.
Jika Mums membutuhkan berbagai artikel parenting lainnya, silakan nikmati berbagai artikel di aplikasi Teman Bumil dan bergabung dengan komunitas para Mums, dan juga berkonsultasi dengan ahli.
Referensi
Healthcentre. parenting-teens-strategies-for-effective-conflict-resolution
-
# Anak
-
# Anak pemarah
-
# Psikologi Anak