Ella Nurlaila
19 Februari 2026
Shutterstock

Hubungan Tetap Harmonis Meskipun Ada Kehadiran Anak Sambung

Jika pasangan sudah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, perlu pertimbangkan semaksimal mungkin untuk menerimanya masuk ke dalam keluarga baru ini. Perlu strategi khusus agar ia bisa diterima oleh semua orang di rumah dan merasa nyaman. 


Anak sambung atau anak tiri bukan cuma soal panggilan “Ayah” atau “Ibu.” Ini tentang dinamika keluarga yang baru, perasaan yang kadang rumit, attachment yang bisa lambat terbentuk, dan kebutuhan untuk membangun hubungan secara alami dan penuh kesadaran. 


Dinamika anak sambung atau anak tiri 


Terkait keberadaan anak tiri dalam keluarga, riset yang dimuat dalam jurnal PubMed (2022) menyebutkan bahwa dalam konteks parenting dan sosiologi keluarga, dinamika keluarga dengan anak tiri sangat berbeda dibanding keluarga yang semua anggota berasal dari hubungan pertama. Seseorang yang baru masuk ke keluarga yang udah punya anak, akan jadi bagian dari “keluarga campuran” di mana proses adaptasi menjadi tantangan tersendiri. 


Harus diakui, hubungan antara orang tua tiri dan anak tiri tersebut berdampak besar pada well-being psikologis, sosial, akademik, dan perilaku anak. Hubungan yang baik akan mengurangi risiko masalah psikologis dan perilaku pada anak. Sementara hubungan yang buruk bisa menaikkan level stress atau konflik dalam keluarga. 


Artinya hubungan yang sehat antara orang tua, anak kandung, dan anak tiri itu sangat penting untuk memperhatikan kesejahteraan semuanya yang ada di dalam keluarga tersebut, bukan sekadar aman dan baik-baik saja yang tampak dari luar.  


Tantangan utama ketika ada anak tiri di rumah


Mums, agar tidak kaget dan bingung harus melakukan apa ketika ada anak tiri di rumah, berikut ini hal-hal yang biasanya muncul dalam rumah tangga tersebut : 


1. Attachment perlu proses 

Berbeda dengan anak biologis yang punya bonding sejak lahir, anak tiri perlu proses untuk dekat dan nyaman dengan orang tua tirinya. Penelitian PubMed NCBI (2019)  menunjukkan bahwa kualitas hubungan ini terbentuk dari proses penegasan dan usaha orang tua tiri untuk membangun kedekatan dengan anak sambungnya. Ini bukan hanya soal “lebih sering bersama”, tapi kualitas interaksi. Usaha yang tulus sering mengurangi konflik dan meningkatkan keharmonisan keluarga. 


2. Konflik identitas dan loyalitas anak

Anak yang sudah punya satu figur orang tua biologis bisa jadi merasa “loyalitas ganda”: mencintai orang tua biologisnya sekaligus mencoba membuka ruang untuk orang tua tiri. Kualitas hubungan antara orang tua dan anak tiri mampu menurunkan masalah kecemasan atau depresi, juga perilaku agresif dalam beberapa bulan setelah mereka hidup bersama. Artinya hubungan yang baik berdampak positif secara emosional jika dijaga dengan baik. 


3. Perbedaan peran parenting

Anak bisa punya standar perilaku yang berbeda tergantung siapa figur orang tua yang mendisiplinkan. Kadang si anak nurut ke orang tua biologis, tapi sebaliknya ketika orang tua tiri yang ngatur. Ini masalah klasik yang sering muncul karena anak dan keluarga sebelumnya punya pola asuh yang berbeda. 


Cara membangun hubungan yang harmonis dengan anak tiri

Untuk mencegah atau meminimalisir drama dalam keluarga dengan anak tiri di dalamnya, berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan agar keluarga tetap harmonis : 


1. Mulai dari mencari kesamaan 

Ketika orang tua tiri aktif menunjukkan minat dan keterlibatan positif dengan si anak tiri — misalnya menjadi bagian di hobi si anak, ngobrol soal sekolah, atau bantu mengerjakan tugas sekolahnya. Hal ini akan meningkatkan rasa percaya dan menguatkan ikatan emosional. Jadi bukan soal langsung jadi orang tua nomor dua, melainkan jadi figur yang mendukung dan hadir secara kualitas. 


2. Kolaborasi dengan orang tua biologis

Koordinasi kedua orang tua itu super penting. Hubungan yang baik antara ibu dan ayah tiri berkaitan dengan perilaku anak yang lebih sehat dibanding ketika komunikasi kurang baik. Meskipun Mums bukan orang tua biologisnya, tetap jadi bagian dari tim parenting yang sama, dan komunikasi sangat penting untuk konsistensi aturan, kasih sayang, dan rasa aman bagi anak. 


3. Sabar, konsisten, dan tidak memaksa

Proses menjadi figur penting dalam kehidupan anak tiri itu butuh waktu dan kesabaran. Beberapa anak memerlukan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar menerima figur baru, dan itu normal. Jika Mums maksa hubungan jadi “super dekat” langsung, justru anak bisa merasa tertekan. Pendekatan yang lebih baik adalah konsisten dalam support, komunikasi terbuka, dan ruang untuk anak menyatakan perasaan mereka. 


Tips memperkuat hubungan dengan anak tiri 


Jika Mums ingin hubungan keluarga tiri di rumah jadi nyaman dan harmonis, ini beberapa hal yang sering direkomendasikan oleh para pakar parenting : 


1. Buka dialog sejak dini 

Tanyakan perasaan si anak secara berkala, “Eh, gimana rasanya tinggal di rumah baru?” atau “Ada yang bikin kamu nyaman atau nggak nyaman?” Pendekatan ini membantu anak merasa didengar, bukan diatur.


2. Berikan ruang dan waktu

Beberapa anak butuh waktu lebih lama untuk membuka diri. Jika ia belum bisa beradaptasi, biarkan saja semua berjalan secara alami dan berproses. Seiring waktu, adaptasi ini akan memberikan hasil yang baik untuk semua. 


3. Libatkan aktivitas bersama

Salah satu cara paling efektif membangun kelekatan dengan anak tiri adalah melakukan aktivitas bersama. Seperti olahraga, nonton film, atau perjalanan kecil. Ini bisa bikin koneksi emosional tumbuh organik, bukan dipaksakan.


Mums, hubungan dengan anak tiri bisa hangat, namun tidak bisa instan. Hubungan antara orang tua tiri dan anak bukan sesuatu yang langsung terjadi begitu Mums resmi jadi ibu barunya. Ini merupakan sebuah proses yang melibatkan berbagai hal, seperti adaptasi emosional, komunikasi yang jujur, kesabaran, konsistensi, dan dukungan dari pasangan. 



Referensi : 

1. PubMed. 2022. "Stepparent-Child Relationships and Child Outcomes: A Systematic Review and Meta-Analysis - PubMed"

2. PubMed NCBI. 2019. "Stepfathers' affinity-seeking with stepchildren, stepfather-stepchild relationship quality, marital quality, and stepfamily cohesion among stepfathers and mothers - PubMed"

  • # Anak
  • # Keluarga