Oldest Child Syndrome: Anak Sulung dan Cara Mendidik dengan Tepat
Benarkah urutan kelahiran itu menentukan kepribadian? Selama ini kita memiliki keyakinan kalau anak pertama biasanya kuat dan tahan banting, anak tengah adalah anak paling asik, dan anak bungsu itu biasanya manja.
Secara ilmiah, hal itu tidak sepenuhnya salah. Menurut penelitian, urutan lahir memang menentukan identitas dan kepribadian seseorang. Salah satunya penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Frontline Psychiatry (2021), yang menyatakan bahwa urutan kelahiran berdampak terhadap kesehatan mental anak, baik dari sisi positif maupun negatif.
Secara khusus, anak pertama biasanya dicirikan sebagai pribadi yang bertanggung jawab, biasanya memiliki tipe kepribadian A yang sering tertarik pada peran kepemimpinan dalam keluarga dan juga dalam kehidupan mereka.
Lalu, apa yang dimaksud dengan Oldest Child Syndrome dan bagaimana cara mendidik anak sulung dengan tepat? Mums dan Dads dapat membacarnya secara lengkap di artikel berikut!
Pengertian Oldest Child Syndrome
Sindrom anak tertua atau anak sulung, disebut Oldest Child Syndrome, mengacu pada bagaimana menjadi anak pertama dalam keluarga dapat membentuk identitas seseorang. Urutan kelahiran telah lama dianggap sebagai salah satu faktor utama yang memengaruhi kepribadian dan perkembangan kita.
Namun Prof. Ronny Rachman Noor, seorang ahli Genetika Ekologi di Universitas IPB (2025), menjelaskan bahwa hingga saat ini berbagai hasil penelitian menggunakan data besar menunjukkan bahwa urutan kelahiran tidak memiliki pengaruh nyata pada kepribadian anak.
“Berbagai hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan kepribadian anak sulung, anak tengah, anak bungsu, atau anak tunggal lebih dipengaruhi oleh peluang perangkat genetik (cetak biru) dari kedua orang tua,” katanya.
Menurutnya, kepribadian anak, jika diuraikan lebih lanjut, dipengaruhi oleh faktor genetik sebesar 50 persen sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Menjadi anak tertua mungkin memiliki keuntungannya, tetapi terkadang juga terasa seperti beban. Pengertian ‘sindrom anak sulung’ artinya tekanan yang dirasakan oleh anak tertua untuk memenuhi harapan tinggi yang dibebankan kepadanya, serta stres karena merasa harus menjadi panutan yang sempurna bagi saudara-saudaranya yang lain.
Ciri-ciri atau karakter anak sulung
Tidak ada aturan ketat tentang seperti apa anak sulung itu, dan para peneliti belum mencapai kesimpulan yang jelas tentang karakteristik mereka, kecuali bahwa mereka sering kali berprestasi sedikit lebih baik dalam tes kecerdasan daripada adik-adik mereka.
Prof. Ronny lalu merujuk pada satu teori paling terkenal yang sering disebut dalam hal ini adalah Teori Adler yang dikembangkan pada awal abad ke-20. Alfred Adler adalah seorang psikiater Austria yang mencoba menghubungkan dan menyimpulkan bahwa urutan kelahiran dapat memengaruhi kepribadian anak. Pemikiran Andler tidak terlepas dari pemikiran Sigmund Freud, seorang analis psikologi ahli.
“Secara umum, teori Andler menyatakan bahwa anak sulung cenderung mengembangkan rasa tanggung jawab yang kuat, anak tengah cenderung menginginkan perhatian, dan anak bungsu cenderung memiliki rasa petualangan dan pemberontakan,” jelasnya.
Sebenarnya, kata Prof. Ronny, pola pikir Andler tidak sepenuhnya salah jika dilihat dari perkembangan ilmiah terbaru. Karena, selain faktor genetik, sifat dan kepribadian anak juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, termasuk lingkungan keluarga tempat anak dibesarkan.
“Perkembangan anak sulung tentu tidak terlepas dari porsi perhatian orang tua. Anak sulung biasanya mendapatkan lebih banyak perhatian daripada anak yang lahir kemudian karena kedua orang tua mendapatkan anak untuk pertama kalinya,” katanya.
Selain itu, orang tua pada fase anak sulung masih banyak belajar tentang pengasuhan sehingga mereka cenderung lebih berhati-hati. Oleh karena itu, tidak jarang anak sulung mengalami "sindrom anak sulung" yang ditandai dengan perasaan tersisihkan ketika dihadapkan pada kenyataan kehadiran adik-adiknya dalam keluarga.
Secara umum, anak sulung memiliki kepribadian sebagai berikut:
1. Seorang pemimpin
Anak sulung sering tumbuh menjadi sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan karena terbiasa “mengatur” adik-adiknya sejak kecil. Mereka jadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan bahkan cenderung ingin memegang kendali dalam situasi tertentu.
Sudah menjadi nasib anak sulung yang sering dijadikan panutan oleh adik atau bahkan teman mereka. Ini terjadi karena anak sulung biasanya mendapat ekspektasi lebih dari orang tua sejak awal.
2. Memiliki prestasi yang menonjol
Banyak anak sulung dikenal berprestasi, baik di sekolah maupun bidang lain karena terbiasa mendapat dorongan untuk “menjadi contoh”. Anak sulung juga lebih disiplin dan terarah dalam mencapai tujuan dan memiliki motivasi tinggi untuk membanggakan orang tua.
Anak sulung cenderung perfeksionis atau menginginkan hasil yang terbaik. Namun, tekanan untuk selalu berprestasi juga bisa membuat mereka mudah stres jika tidak diimbangi dengan dukungan emosional.
3. Lebih bertanggung jawab
Anak sulung sering dianggap “tangan kanan” orang tua. Mereka sering diberi tugas menjaga atau membantu adik-adiknya. Orang tua juga sering lebih mengandalkan anak sulung dalam menghadapi situasi tertentu.
Karena itu, anak sulung cenderung terbiasa memikirkan konsekuensi dari tindakan sebelum mengambil keputusan dan memiliki tanggung jawab yang kuat. Karena sering diberi kepercayaan, mereka belajar bertanggung jawab lebih cepat dibanding saudara lainnya.
4. Lebih Dewasa
Dibandingkan anak lainnya, anak sulung biasanya terlihat lebih dewasa sejak dini. Cara berpikir mereka lebih matang dan lebih mampu mengontrol emosi.
Mereka bisa memahami situasi orang lain (empati tinggi) dan cenderung serius dan hati-hati dalam bertindak. Kedewasaan ini muncul karena mereka sering berada dalam posisi “harus mengerti” dan “tidak boleh merepotkan”.
Dampak Psikologis Menjadi Anak Sulung
Karena karakteristik anak sulung yang dikaitkan dengan beban harus selalu menjadi contoh dan bisa menjadi pelindung dan pemimpin, maka anak sulung cenderung memiliki psikologis tertentu.
Dampak psikologis anak sulung di antaranya ialah:
1. Perfeksionisme dan mudah cemas
Anak sulung sering kali memendam ekspektasi tinggi, yang menyebabkan perfeksionisme. Dorongan yang tak henti-hentinya ini dapat mengakibatkan stres dan kecemasan kronis, karena mereka takut gagal atau mengecewakan orang lain. Seiring waktu, hal ini dapat mengikis harga diri dan menyebabkan kelelahan.
2. Beban tanggung jawab berlebihan
Anak sulung sering kali dibebani peran pengasuhan, yang menumbuhkan rasa tanggung jawab yang berlebihan. Sebagai orang dewasa, mereka mungkin kesulitan mendelegasikan tugas atau menetapkan batasan, yang menyebabkan rasa kewalahan dan kebencian.
3. Dominasi sosial dan masalah kontrol
Menjadi "pemimpin" di antara saudara kandung dapat membuat anak sulung cenderung mengambil alih kendali dalam situasi sosial. Namun, ini juga dapat menyebabkan kecemasan sosial, karena mereka mungkin merasa perlu terus-menerus mempertahankan kendali dan memenuhi harapan orang lain.
Kecenderungan ini dapat mempersulit mereka untuk mendelegasikan tugas atau mempercayai orang lain, yang menyebabkan hubungan yang tegang dan peningkatan stres.
4. Tekanan untuk memenuhi standar
Tekanan untuk memenuhi harapan orang tua dan masyarakat dapat membuat anak sulung kesulitan mengeksplorasi identitas dan keinginan mereka sendiri. Kebutuhan untuk mematuhi standar ini dapat mengakibatkan kurangnya kepuasan dan ketidakpuasan dalam kehidupan pribadi dan profesional, karena mereka mungkin kesulitan mengejar hasrat atau minat sejati mereka.
Cara mendidik atau cara menyikapi anak sulung
Orang tua dapat memberikan dampak positif pada perkembangan dan kesehatan mental anak tertua mereka. Hal ini dapat dicapai dengan bersikap bijaksana tentang harapan dan tanggung jawab apa yang Mums dan Dads berikan kepada anak tertua.
Para ahli mengatakan bahwa orang tua umumnya harus menyadari pesan-pesan yang secara tidak sengaja mereka kirimkan kepada anak tertua mereka. Orang tua bisa jadi terlalu menekan mereka sehingga anak sulung mungkin merasa orang tuanya hanya mencintai mereka ketika mereka 'bersikap sempurna'.
Berikut ini cara mendidik dan menghadapi anak sulung agar mereka terlepas dari sindrom anak sulung:
1. Lepaskan beban mereka harus selalu bisa menyelesaikan masalah
Sadari bahwa anak sulung bukanlah anak yang bertanggung jawab atas emosi semua orang atau menyelesaikan semua masalah keluarga. Mereka hanya terlahir lebih dulu, namun karakter, sifat dan kepribadian mereka belum tentu sekuat itu.
2. Tetapkan batasan
Tetapkan batasan yang tegas pada pengasuhan atau beban emosional ke anak sulung. Ingat, anak sulung tidak harus menjadi pengganti orang tua bagi saudara kandung atau adik-adik mereka.
3. Bebaskan dari tuntutan kesempurnaan
Berusahalah secara aktif untuk menghilangkan sifat "perfeksionis" pada anak sulung yang sering berkembang sejak usia muda.
4. Pahami kebutuhan mereka
Selalu amati dan pahami apa yang menjadi kebutuhan anak sulung. Layaknya anak lain, mereka juga butuh istirahat, bermain, dan kebahagiaan mereka sendiri daripada kewajiban untuk memberi contoh.
Anak sulung memiliki karakter yang kuat yang bila diasuh dengan benar, kelak ia dapat berkembang menjadi manusia yang hebat, punya jiwa pemimpin, mandiri, sekaligus melindungi.
Tugas Mums dan Dads adalah mengawal si sulung dalam tumbuh kembangnya, apalagi saat ia memiliki adik. Perhatian kepada si kakak hendaknya tidak berkurang, bahkan mungkin saat adiknya bayi, jangan sampai si kakak merasa tidak lagi menjadi kesayangan Mums dan Dads. Di masa ini justru Mums harus mendekat dan menunjukkan bahwa kasih sayang Mums tidak berkurang sedikitpun dengan kehadiran adik.
Meskipun harapan orang tua sangat tinggi terhadap anak sulung, namun tidak semua anak sulung pasti mampu memenuhinya. Faktor pola asuh, lingkungan, dan kepribadian juga sangat berpengaruh. Jadi didiklah anak sulung seperti anak lainnya dan tidak memberikannya beban terlalu tinggi.
Referensi:
1. Frontline Psychiatry. 2021. Association of Birth Order With Mental Health Problems, Self-Esteem, Resilience, and Happiness Among Children: Results From A-CHILD Study.
2. IPB University. 2025. Ecological Genetics Expert
-
# Keluarga