Ella Nurlaila
06 Maret 2026
Shutterstock

Ciri-ciri Hubungan Toksik dengan Pasangan dan Cara Menyikapinya

Hubungan toksik adalah hubungan yang membuat kita merasa tidak didukung, disalahpahami, direndahkan, atau diserang. Suatu hubungan dikatakan toksik ketika kesejahteraan kita terancam baik secara emosional, psikologis, dan bahkan fisik. Hubungan toksik dapat terjadi di hampir semua konteks, dari hubungan kerja, keluarga, bahkan rumah tangga. 


Berikut adalah hal-hal yang perlu Mums ketahui tentang hubungan toksik dengan pasangan, termasuk apa yang membuat suatu hubungan menjadi toksik dan bagaimana menentukan apakah Mums saat ini berada dalam hubungan toksik, serta kiat-kiat tentang cara efektif untuk mengelola jenis hubungan ini.

Ciri-ciri Hubungan Toksik


Berikut adalah beberapa tanda yang perlu diperhatikan yang dapat membantu mengidentifikasi apakah Mums atau Dads berada dalam hubungan yang tidak sehat:


1. Perilaku obsesif

Ketika pasangan terus-menerus ingin terhubung dengan Mums sampai Mums seperti tidak dapat bernapas, ini adalah tanda pasangan berperilaku obsesif. 


Penelitian di International Journal of Behavioral Science (2024), menemukan orang dengan perilaku obsesif dapat secara signifikan memengaruhi komitmen perkawinan di antara individu yang sudah menikah. 


Bagaimana pun, pasangannya akan tertekan saat diteror melalui telepon, pesan teks, atau pesan langsung. Hanya intuk bertanya di mana, dengan siapa, kapan pulang, dll. Perilaku ini bukan tanda cinta, dan sangat berlebihan dan bisa menjadi tanda bahwa keadaan menjadi terlalu intens.


2. Sifat posesif

Cemburu mungkin tanda pasangan mencintai kita, dan ini adalah emosi manusia yang normal. Namun cemburu yang berlebihan akan berubah menjadi sifat posesif. Misalnya Mums sampai dituduh melakukan hal-hal yang tidak Mums lakukan, saat Mums hanya bertegur sapa dengan tetangga baru pria. Menuduh Mums menggoda atau berselingkuh, dan mencoba mengendalikan hal-hal yang Mums lakukan dan dengan siapa Mums menghabiskan waktu.


3. Manipulasi

Manipulatif adalah perilaku ketika pasangan Mums berusaha mengontrol, memengaruhi, atau mengarahkan Mums secara tidak jujur atau tidak langsung demi kepentingannya sendiri.

Orang yang manipulatif jarang berbicara blak-blakan tentang keinginannya. Mereka lebih sering memakai cara halus yang menimbulkan rasa bersalah, ketakutan, kebingungan, atau tekanan emosional pada pasangannya.


4. Membuat kita merasa bersalah

Ini adalah bentuk manipulasi di mana Mums dibuat merasa bertanggung jawab atas tindakan pasangan. Mereka juga dapat menekan Mums untuk melakukan hal-hal yang tidak Mums inginkan, dengan meyakinkan Mums bahwa itu akan menyakiti perasaan mereka, atau mereka mungkin mengancam akan melukai diri sendiri atau bunuh diri jika Mums tidak melakukannya.


5. Meremehkan

Ini termasuk perilaku yang dilakukan untuk mencoba membuat Mums merasa buruk dengan diri Mums sendiri. Pasangan Mums mungkin mengatakan atau melakukan hal-hal yang membuat Mums merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, seringkali menganggapnya sebagai lelucon atau bahwa Mums bereaksi berlebihan. Mereka mungkin membuat Mums merasa tidak percaya diri dengan kemampuan Mums untuk mengambil keputusan sendiri.


6. Sabotase

Perilaku meremehkan juga dapat berupa sabotase yang mencakup menyebarkan rumor tentang Mums untuk merusak hubungan Mums dengan teman atau saudara dan merusak reputasi Mums.


7. Isolasi

Pasangan mungkin sengaja mencoba menjauhkan Mums dari keluarga besar dan teman-teman Mums untuk memisahkan Mums dari orang-orang yang peduli kepada Mums. Hal ini sering dilakukan untuk mendapatkan kekuasaan dan kendali yang lebih besar atas hubungan tersebut. 


Hal ini dapat disamarkan sebagai keinginan mereka untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama Mums sendirian, tetapi dapat menyebabkan Mums tidak bertemu teman, keluarga, atau rekan kerja sesering yang Mums inginkan.


8. Perilaku mengontrol

Pasangan menunjukkan perilaku mengontrol jika mereka melakukan hal-hal seperti mencegah Mums bertemu teman atau keluarga, mencoba mengontrol ke mana Mums pergi dan dengan siapa, atau mengontrol apa yang Mums kenakan. 


Perilaku mengontrol juga dapat mencakup melacak pergerakan seseorang melalui peretasan panggilan telepon mereka atau memasang alat pelacak pada kendaraan mereka, untuk memeriksa telepon, pesan teks, email, dan media sosial mereka.


9. Pengalihan tanggung jawab

Misalnya terus menerus menyalahkan Mums atau orang lain atas tindakan mereka sendiri. 


10. Pengkhianatan

Ketika seseorang dalam suatu hubungan secara konsisten berbohong atau bertindak dengan cara yang sengaja tidak jujur. Ini mungkin termasuk berbohong kepada orang lain tentang Mums, membagikan informasi sensitif tentang Mums, berselingkuh, atau tidak setia.

Dampak Hubungan Toksik  

Hubungan toksik dalam pernikahan dapat menyebabkan kerusakan nyata pada harga diri dan kesehatan mental secara keseluruhan, serta kesehatan fisik orang yang menjalaninya.


Drama yang terus-menerus dalam suatu hubungan dapat mengalihkan perhatian kita dari keluarga, karir, pertemanan yang menyebabkan isolasi sosial. Hal ini dapat menyebabkan masalah lain seperti depresi, kecemasan, hingga gangguan kesehatan mental lainnya.


Cara melepaskan diri dari hubungan toksik dalam pernikahan


Dibutuhkan keberanian besar untuk lepas dari hubungan toksik dalam hubungan pernikahan. Namun, percayalah, langkah yang Mums ambil untuk lepas dari hubungan toksik ini sepadan dengan kebebasan  dan kesejahteraan kita sebagai manusia berharga.


Jika Mums ingin melepaskan hubungan toksik dalam pernikahan, mungkin langkah Mums akan panjang dan menantang. Mums butuh banyak dukungan agar dapat meninggalkan hubungan tersebut dengan aman. 


1. Bicarakan

Jangan pendam sendiri. Bicarakan dengan orang lain tentang apa yang Mums rasakan. Bersikaplah tegas tentang kebutuhan dan perasaan yang Mums rasakan. Jika Mums khawatir tentang bagaimana reaksi pasangan, Mums dapat memilih untuk berbicara dengannya di tempat umum. Beri tahu orang yang Mums percayai kapan dan di mana Mums akan berada.


2. Menjauh

Sementara, Mums mungkin perlu tinggal bersama keluarga atau teman sampai Mums menemukan tempat tinggal baru, jauh dari pasangan.


Saat menghadapi hubungan yang toksik penting untuk fokus pada kesehatan dan kesejahteraan kita. Oleh karena itu, jika Mums berurusan dengan suami yang menguras energi dan kebahagiaan,  pertimbangkan untuk menjauh dari mereka atau setidaknya membatasi waktu yang Mums habiskan bersama mereka. Dan, jika Mums mengalami pelecehan emosional atau fisik, segera cari bantuan.



3. Evaluasi 

Evaluasi kembali hubungan Mums dan tanyakan pada diri sendiri: Apakah pasangan Mums saat  ini benar-benar merusak harga diri dan kesehatan mental Mums secara keseluruhan?


4. Sadarilah bahwa beberapa orang yang toksik memang tidak mau berubah

Ada yang namanya NPD atau narsistik personality disorders (NPD). Orang dengan tipe kepribadian ini adalah sumber hubungan yang toksik dan sampai kapanpun tidak akan pernah berubah. Berpisah mungkin keputusan terbaik demi kesehatan mental Mums. 


5. Konseling 

Konseling pernikahan bisa membantu membuka pola komunikasi yang buntu.
Kadang pasangan butuh mediator agar tidak saling defensif. Jika memang perilaku toksik pasangan sudah tidak tertahankan lagi, maka berpisah mungkin bisa dipertimbangkan demi kebahagiaan Mums. 


Nah, itulah ciri-ciri hubungan toksik, dampak berada di hubungan toksik, hingga cara mengatasi atau meredakan hubungan toksik


Hubungan toksik kadang tidak bisa dihindari. Memilih pasangan memang tidak semudah membeli barang. Tetapi ketika Mums terlanjur memiliki hubungan toksik dalam pernikahan, jangan hanya diam dan menerima nasib. Kebahagiaan kita adalah yang utama. Lakukan langkah berani untuk memperbaiki hubungan toksik atau meninggalkannya. 


Referensi

The Journal of Gerontology. 2016. Stress and Negative Relationship Quality among Older Couples: Implications for Blood Pressure 

International Journal of Behavioral Science (2024). Commitment in Romantic Relationships: The Role of Relationship Obsessive Compulsive Disorder (ROCD) Symptoms and Evaluating Romantic Alternatives

  • # Hubungan
  • # Psikologis
  • # Keluarga
  • # TBN Parents Life