Ella Nurlaila
16 Maret 2026
Shutterstok

Anak Menjadi Murung dan Mudah Menangis, Mums Harus Cari Tahu Sebabnya

Bagi anak menangis adalah salah satu bentuk komunikasinya. Tetapi bila anak yang basanya ceria lalu tiba-tiba jadi sering murung, bahkan menangis tanpa sebab yang jelas, Mums patut waspada. Apalagi jika ia menangis tidak terkendali dan berlangsung cukup intens, tentu jadi pertanyaan tersendiri, ada apa dengan si Kecil? 


Meskipun mungkin tidak langsung terlihat, biasanya ada alasan yang melatarbelakangi anak menangis tanpa sebab. beberapa penyebab si Kecil menjadi murung, sedih, dan mudah menangis bisa jadi karena merasakan sakit yang tidak bisa diungkapkan, menginginkan sesuatu, atau yang paling Mums takuti adalah dia mengalami kejadian yang membuatnya trauma.

Yang pasti, jangan anggap sepele anak menangis tanpa sebab. Bisa jadi tangisan yang sering jadi sinyal penting tentang kondisi fisik, emosi, maupun tumbuh kembangnya secara umum. Di artikel ini kita akan bahas secara lengkap tentang penyebab anak tiba-tiba sering menangis.


Beberapa penyebab umum anak menangis 

Secara ilmiah, sebenarnya jarang ada tangisan anak yang benar-benar “tanpa sebab”. Yang sering terjadi adalah orang tua tidak dapat melihat langsung penyebabnya. Penelitian terbaru dari Nature Review Neuroscince (2023) menyebutkan bahwa tangisan seorang anak balita dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, perkembangan otak, genetik, dan regulasi emosi.


Penelitian neuroscience terbaru menunjukkan suara tangisan bayi berkaitan dengan sistem saraf sosial dan hormon oksitosin. Tangisan adalah sinyal biologis kuat untuk mendapatkan respon dari orang tua atau pengasuh agar peduli atau membantunya. 


Meskipun tangisan anak mungkin tampak terjadi “tanpa alasan,” biasanya ada beberapa penyebab umum yang bila ditelusuri jadi pemicu munculnya anak menangis tanpa sebab, di antaranya : 


1. Kesakitan  

Rasa sakit yang dialami bisa menjadi salah satu alasan anak menangis tanpa sebab. Misalnya sakit kepala atau sakit telinga yang terlihat “bentuk cederannya” namun bikin si Kecil nangis tiba-tiba. Apalagi jika rasa sakitnya meningkat atau tidak tertahankan.


2. Ingin sesuatu 

Karena komunikasi verbalnya masih terbatas, menangis adalah cara anak berkomunikasi. Menangis jadi cara anak menyampaikan bahwa dia ingin atau butuh sesuatu. Misalnya, si Kecil kangen perhatian Mums dan Dads, atau ia menginginkan mainan yang diimpi-impikan.


3. Merasa takut 

Air mata bisa jadi tanda bahwa si Kecil ketakutan, baik karena sesuatu yang terjadi saat itu atau yang terjadi di masa lalu. Bentuk ketakutannya sangat beragam seperti bertemu orang asing, suara keras, kegelapan, mimpi buruk, kesendirian, berjauhan dari orang tua. 

4. Perubahan rutinitas

Kadang-kadang penyebab anak menjadi murung dan menangis adalah karena perubahan rutinitas. Seorang anak umumnya sangat terbiasa dengan rutinitas yang stabil. Ketika terjadi perubahan seperti pindah ke lingkungan baru, pindah sekolah, atau perubahan jadwal harian, maka ini semua dapat membuat anak merasa tidak nyaman atau cemas, sehingga mereka menjadi lebih sensitif dan mudah menangis.


5. Lelah dan kurang tidur

Bahkan kita sudah paham bahwa bayi akan menjadi lebih rewel jika kurang tidur. Di saat seorang anak bertambah usia, kelelahan dan kurang tidur pun bisa membuat perubahan suasana hati seorang anak naik turun. Ia mudah terganggi dan menangis. Anak yang kurang tidur biasanya akan mudah menangis, sulit tidur dan sulit ditenangkan. Karena sistem saraf yang terlalu aktif membuatnya “terjebak” dalam siklus menangis. 


6. Kesulitan di sekolah atau lingkungan sosial

Sekolah adalah lingkungan pertama anak jauh dari orang tuanya. Bagi seorang anak, sekolah bisa sangat menantang dan membuat cemas. Anak bisa merasa sedih karena pengalaman sosial, seperti bertengkar dengan teman, merasa tidak diterima dalam kelompok bermain, atau bahkan kesulitan mengikuti pelajaran. Karena belum bisa menjelaskan apa yang dirasakan, ia hanya bisa menangis dan bersedih.

Kapan Perlu Lebih Waspada?

Semua peristiwa tersebut mungkin bisa diselesaikan dengan mudah, setelah penyebab anak bersedih diatasi. Namun, orang tua sebaiknya mempertimbangkan berkonsultasi dengan profesional jika anak terus terlihat sedih dalam waktu lama. Apalagi jika disertai perubahan perilaku dengan sering menarik diri dari aktivitas yang biasanya disukai.

Si kecil yang biasanya suka bermain bola mendakak menolak untuk bermain bola. MUms juga perlu waspada saat terjadi perubahan emosi disertai gangguan tidur atau makan, dan anak sering mengatakan hal-hal yang menunjukkan perasaan sangat tertekan.

Ini yang harus Mums lakukan:

1. Telusuri lebih detail 

Gunakan kemampuan detektif naluri seorang ibu. Pastikan ia tidak sakit atau Jika tampaknya baik-baik saja, cari tahu apa yang mungkin anak mengalami perundungan di sekolah, atau bahkan pelecehan dan kekerasan. Ajak di kecil bicara tanpa mendesaknya.


2. Validasi perasaan anak
Misalnya dengan mengatakan, "Mama tahu kamu sedang sedih."Enggak apa-apa kalau mau menangis." Peluk si kecil dan tenangkan saat ia sedih. Rasa aman dan nyaman, dengan menunjukkan ibunya selalu ada di sisinya akan membantu ia mengungkapkan apa yang ia sedihkan.

3.Luangkan waktu berkualitas
Jika anak menjadi sedih karena kurang perhatian dari Mums atau Dads, atau karena kehadiran adik baru, coba luangkan waktu untuk berdua saja dengan si Kecil. Ajak ia bermain, membaca buku, atau sekadar berbincang dengan anak.

4. Amati pola perubahan perilaku
Perhatikan apakah perubahan mood terjadi hanya sesekali atau berlangsung lama. Ketika Mums memerlukan bantuan, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog.

Mums, itulah kondisi yang mesti diperhatikan jika anak tiba-tiba murung, sedih dan bahkan kerap menangis diam-diam. Sebagai orang tua, Mums dan Dads tetap harus peka terhadap perubahan perilaku anak. Alih-alih mengabaikan, pendekatan terbaik adalah menelusuri apa yang terjadi. Semakin orang tua belajar membaca sinyal tersebut, semakin mudah membantu anak merasa aman dan teratur secara emosional.




Referensi : 

NCBI. 2025. A support package for parents of excessively crying infants: development and feasibility study.

  • # Anak
  • # Psikologi Anak