Dampak Orang Tua Bertengkar di Depan Anak
Perselisihan dalam rumah tangga adalah hal yang wajar. Bahkan bertengkar sesekali tidak masalah. Hanya saja, jangan pernah bertengkar di depan anak. Tanpa Mums dan Dads sadari, pertengkaran terus menerus akan dilihat, diamati, bahkan tertanam dalam benak anak dan memengaruhi perilakukanya saat dewasa.
Banyak faktor yang menyebabkan sebagian anak berperilaku agresif dan suka dengan tindak kekerasan saat remaja atau dewasa. Kekerasan dalam keluarga salah satunya. Apa yang terjadi di rumah benar-benar memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan jangka panjang anak.
Selain hubungan antara orang tua dan anak, bagaimana orang tua berinteraksi satu sama lain juga memainkan peran besar dalam kesejahteraan anak, bahkan memengaruhi segala hal mulai dari kesehatan mental hingga keberhasilan akademis dan hubungan di masa depan. Lalu apa dampak terburuk jika sering bertengkar di depan anak? Baca artikel ini sampai habis ya!
Dampak Bertengkar di Depan Anak
Sebuah studi dilakukan oleh Journal of Family Psychology (2021) yang mengikuti lebih dari 200 keluarga selama sepuluh tahun. Tebak apa yang mereka temukan, Mums dan Dads?
Anak-anak yang sering melihat orang tua mereka bertengkar lebih cenderung mengalami kecemasan, depresi, dan masalah perilaku di kemudian hari. Dan tidak masalah apakah pertengkaran itu terselesaikan atau tidak. Yang penting adalah seberapa sering dan seberapa intens orang tua mereka bertengkar.
Pertengkaran di rumah bahkan dapat mempersulit anak-anak untuk berprestasi di sekolah. Ada studi lain di Journal of Child Development (2008) yang menemukan bahwa anak-anak yang sering mendengar orang tua mereka bertengkar mengalami kesulitan untuk memperhatikan di sekolah. Stres yang disebabkan oleh konflik antara orang tua dapat mempersulit anak-anak untuk fokus, menyerap informasi, dan memberikan upaya penuh mereka.
Anak-anak belajar dari orang tua sejak dini
Sejak usia sekitar dua tahun atau lebih dini, anak-anak adalah pengamat yang jeli termasuk terhadap perilaku orang tua mereka. Mereka sering memperhatikan pertengkaran, bahkan ketika orang tua berpikir anak-anak mereka tidak memperhatikan, atau percaya bahwa pertengkaran mereka tidak akan direkam dalam memori anak usia 2 tahun.
Jika orang tua berteriak atau saling menghina saat bertengkar, anak-anak kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama karena pada dasarnya, anak-anak meniru apa yang mereka lihat dan dilakukan orang tua mereka.
Begitu juga dengan orang tua yang kerap melakukan silent treatment, hal ini dapat ditiru oleh anak. Banyak yang tidak sadar akan dampak silent treatment dalam rumah tangga, padahal sikap tersebut merupakan salah satu bentuk marah yang jarang disadari pasangan.
Berdasarkan pengalaman masa lalu mereka, anak-anak bisa menjadi cemas, memikirikan apakah konflik akan meningkat, apakah akan melibatkan mereka, atau apakah kedua orang tuanya akan berpisah dan meninggalkan mereka? Ini adalah kekhawatiran yang kerap dirasakan beberapa anak kecil.
Mereka mungkin juga khawatir tentang kemungkinan hubungan mereka dengan orang tua mereka memburuk sebagai akibatnya.
Penelitian dalam Journal of Affective Disorders (2025) menunjukkan bahwa anak laki-laki dan perempuan mungkin juga merespons secara berbeda, di mana anak perempuan berisiko lebih besar mengalami masalah emosional, dan anak laki-laki berisiko lebih besar mengalami masalah perilaku.
Oleh karena itu Mums dan Dads, sebagai orang tua, kita adalah panutan bagi anak-anak kita. Jadi, penting untuk bersikap baik dan hormat dengan satu sama lain, bahkan ketika kita berbeda pendapat.
Cara menghindari bertengkar di depan anak
Orang tua yang terbiasa bertengkar di depan anak dapat melakukan hal-hal untuk memperbaikinya. Berikut ini cara yang tepat untuk menghindari bertengkar secara terus menerus di depan anak:
1. Menyadari bahwa pertengkaran mereka memengaruhi anak-anak
Jadi, penting untuk mencoba menyelesaikan pertengkaran tanpa berteriak atau berkelahi. Terkadang, berbicara dengan seorang profesional atau konselor pernikahan dapat membantu, seperti pergi ke terapi atau mengikuti kelas pengasuhan anak atau pernikahan.
2. Menjadikan rumah sebagai tempat yang aman dan bahagia
Menjadikan suasana rumah yang aman dapat membantu anak-anak merasa lebih aman. Pengertian aman tentu saja tidak hanya aman dari intervensi dari luar, namun justru kehangatan antara anggota keluarga di rumah.
3. Banyak menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga
Sering-sering berbicara secara terbuka, dan memastikan anak-anak tahu bahwa mereka dicintai akan sangat membantu. Dan jika Mums dan Dads berpikir pertengkaran telah menyakiti anak-anak, tidak apa-apa untuk membicarakannya dengan mereka.
4. Kenali tipe anger language pasangan
Sama seperti bahasa cinta, marah juga memiliki bahasanya sendiri. Dengan mengenali anger language atau bahasa marah pasangan, Mums dan Dads jadi tahu harus bertindak seperti apa dan menghindari marah yang berkepanjangan.
Ketika seorang anak merasakan ketegangan antara orang tua, mereka akan memendam emosi mereka dan sering menyalahkan diri sendiri. Ini adalah hal yang normal bagi anak-anak dan seharusnya mendorong orang tua untuk mendekati mereka dengan rasa ingin tahu dan meyakinkan mereka tentang kasih sayang dan rasa aman dalam keluarga.
Dengan melakukan itu, kita dapat membantu anak-anak kita tumbuh bahagia dan sehat. Ingat ya Mums dan Dads, anak adalah investasi jangka panjang. Cobalah memberikan lingkungan yang aman untuk anak-anak, karena luka atau trauma mereka akan terekam selamanya dan menentukan masa depannya kelak.
Referensi:
1. Journal of child and family studies. 2021. The Implications of Early Marital Conflict for Children’s Development
2. Journal of Child Development (2008). Children Who Are Concerned About Parents Arguing Are Prone To School Problems
3. Journal of Affective Disorders. 2025. Gender differences in behavioral and emotional problems among school children and adolescents in China: National survey findings from a comparative network perspective
-
# Depresi
-
# Psikologi Anak