Ella Nurlaila
23 Mei 2026
Shutterstock

Silent Stress pada Anak, Kenali Tanda yang Sering Tidak Disadari Orang Tua

Anak terlihat baik-baik saja, jarang tantrum, tidak menangis berlebihan, bahkan cenderung “nurutan”. Tapi, di balik sikap manisnya bisa saja ia sedang mengalami stress diam-diam atau silent stress. Ini adalah stres yang tidak terlihat jelas, tapi berdampak pada emosi dan tumbuh kembangnya.

Fenomena ini sering terlewat, karena orang tua mengira anak yang “tenang” berarti tidak punya masalah.Tanda anak mengalami stress antara lain menjadi lebih diam, menarik diri dari aktivitasnya, dan ada perubahan pola tidur dan makan. 

Mums perlu tahu semua perubahan sekecil apapun yang bisa jadi menjadi tanda anak sedang stres. Semua akan dibahas di artikel berikut. 


Apa Itu Silent Stress pada Anak? 

Silent stress adalah kondisi ketika anak mengalami tekanan emosional, tapi tidak mampu atau tidak berani mengungkapkannya. Orang tua perlu waspada karena tekanan emosional yang tidak terungkap dapat memicu gejala fisik seperti sakit kepala, sakit perut, dan gangguan tidur. Selain itu ada perubahan perilaku, dan kecemasan, yang seringkali tidak disadari oleh orang dewasa. 


Penelitian dari Departement of Pediatric University of Wisconsin School od Medicine dan Public Health (2023), menemukan bahwa bertentangan dengan anggapan umum, masalah kesehatan mental yang paling umum pada anak-anak bukanlah ADHD atau depresi, melainkan kecemasan. Gangguan kecemasan memengaruhi hingga 25 persen anak-anak, dibandingkan dengan 7 hingga 10 persen untuk ADHD atau depresi.


Stres dan kecemasan pada anak-anak juga seringkali tidak terdeteksi, yang dapat menyebabkan kesulitan akademis dan psikososial bahkan jika berlanjut dan tidak disadari akan meningkatkan risiko depresi, bunuh diri, dan penyalahgunaan zat, dan bahkan penyakit fisik.

Tanda Silent Stress yang Sering Terlewat

Sebelum menjadi lebih buruk, Mums dan Dads perlu mengenali tanda-tanda anak mengalami gangguan kecmasan dan stres. 

1. Anak terlalu “baik” atau selalu menuruti

Sekilas sikap manis anak ini terlihat positif, tapi bisa jadi anak diam karena takut dimarahi, tidak berani menolak dan sedang menekan perasaan sendiri. Sumber rasa tertekannya bisa dari rumah atau dari lingkungan di luar, seperti sekolah. 


2. Menarik diri atau lebih pendiam

Gejala ini seharusnya bisa lebih mudah dikenali, kalau anak Mums biasanya adalah anak yang ceria dan banyak bicara, lalu tiba-tiba menarik diri dan menjadi lebih pendiam. Menarik diri antara lain anak lebih suka sendiri, tidak mau banyak bercerita, dan menghindari interaksi.


3. Perubahan pola tidur dan makan

Mums, jangan abaikan saat anak mulai susah tidur atau sering terbangun dan menangis karena mimpi buruk. Begitu pula dalam perubahan pola makan, di mana nafsu makan menurun atau justru meningkat

4. Mudah lelah atau tidak semangat

Anak yang aktif mungkin bisa saja kelelahan. Namun, jika anak mudah lelah padahal tidak ada aktivitas berat, Mums patut curiga.


5. Sering mengeluh sakit fisik tanpa sebab jelas

Seperti dijelaskan sekilas di atas, stress pada anak bisa memengaruhi gejala fisik. Anak Mums jadi mudah mengeluh sakit kepala dan pusing, atau sakit perut namun seteah dicek ternyata tidak ada masalah pada fisiknya? Ini bisa jadi bentuk “bahasa tubuh” dari stres emosional.


6. Perfeksionis berlebihan

Ini juga gejala yang mungkin terluput dari perhatian orang tua. Anak tiba-tiba takut salah, mudah cemas, dan terlalu keras pada diri sendiri (memukul atau menyakiti diri sendiri) saat melakukan kesalahan, Mums wajib curiga.


Penyebab Silent Stress pada Anak

Kalau anak menunjukkan salah satu tanda stress emosional di atas, Mums patut curiga dan menaruh perhatian. Mums juga bisa mulai menelusuri apa yang menjadi pemicu stress pada anak.

Beberapa penyebab stress pada anak bisa berasal dari tekanan akademik, pola asuh yang terlalu menuntut, kurangnya komunikasi sehingga anak kurang kesempatan menyampaikan keluhan. Atau coba Mums perhatikan, apakah gejala stress muncul karena perubahan lingkungan (pindah rumah/sekolah)?

Mengetahui penyebabnya bisa menjadi jalan mencari solusi dan membantu anak pulih dari tekanan. Jangan sampai terlambat ditangani karena jika stress pada anak berlarut-larut, bisa menganggu kepercayaan diri, anak mengalami kesulitan mengelola emosi, dan risiko masalah mental di masa depan.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Ambil langkah cepat dan minta bantuan profesional. Sembari Mums lakukan hal berikut:

1. Bangun Ruang Aman untuk Bercerita

Biarkan anak tahu bahwa anak sangat aman untuk bercerita apa pun masalahnya. Tidak perlu takut dimarahi atau dihakimi. Ajak bicara, “Apa pun yang kamu rasakan, boleh diceritakan ke Mama dan Papa.”


2. Kurangi kalimat menghakimi

Hindari kalimat menghakimi saat anak sudah mau bercerita. Misalnya “Ah, gitu aja kok nangis”  atau “Kamu lebay” Ganti dengan “Kamu lagi ngerasa apa?”.


3. Luangkan waktu berkualitas

Kalau Mums dan Dads sibuk, Tidak harus lama, yang penting hadir sepenuhnya. Melihat ada perubahan perilaku pada anak, saatnya Mums dan Dads ambil inisiatif untuk meluangkan waktu berkualitas, entah mengajak makan di luar, menemani anak menjalankan hobi, atau sekadar jalan-jalan di kompleks.


4. Validasi Perasaan Anak

Tidak perlu langsung memberi solusi. Kadang anak hanya butuh didengar. Coba sambil melakukan aktivitas seperti biasa, Mums ajak anak ngobrol, dan buat suasana tidak terlalu formal atau kaku.


5. Perhatikan Perubahan Kecil

Karena silent stress sering muncul dari hal-hal subtle. Ini yang kerap terlewat oleh orang tua. Kadang karena terlalu sibuk atau menganggap anak sudah besar dan bukan balita lagi, maka orang tua kerap tidak menyadari ada yang berubah dari perilaku sehari-hari anak. Misalnya, anak jadi sering mengurung di kamar, enggak diajak ke mana-mana, dan perubahan lainnya.


Kapan Perlu Bantuan Profesional?

Segera konsultasi jika anak semakin tertutup, atau ada perubahan perubahan perilaku signifikan. Tanda lain yang membutuhkan aksi cepat adalah saat anak mengeluahkan gejala fisik terus berulang ditambah selau terlihat sangat cemas atau sedih berkepanjangan. Minimal bawa anak ke dokter, dan jangan tunda.




Referensi:

Departement of Pediatric of Wisconsin School of Medicine of Public Health. 2023. Pediatric Anxiety and Stress: ‘Silent, Secretive, and Insidious’

  • # Anak
  • # Stres