Ana Yuliastanti
26 Februari 2021
pixabay

Insulin Formula Baru “2-in-1” Lebih Memudahkan Pasien

Informasi kesehatan ditinjau dan diedit oleh
dr. William

Diabetes merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia. Data 2019 menempatkan Indonesia menjadi salah satu dari sepuluh negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia.

 

Menurut Ketua Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD dalam acara Diskusi Media bersama Novo Nordisk: Experience the Freedom with Co-formulation Insulin, Kamis, 25 Februari 2020, Indonesia harus waspada dengan peningkatan kasus diabetes di masa depan.

 

Saat ini jumlah penderita diabetes di Indonesia diperkirakan antara 10-12 juta penduduk. Namun, jumlah penderita prediabetes mencapai 30 juta orang. Artinya, jika tidak dilakukan intervensi dini pada penderita prediabetes ini, dalam 5-10 tahun akan menjadi pasien diabetes yang sebenarnya.

 

Bagaimana mengatasi hal ini? Inovasi apa seharusnya dilakukan untuk menekan angka diabetes di Indonesia?

 

Baca juga: Kenapa Ya, Berat Badan Naik Setelah Pakai Insulin?

 

Terapi Berjenjang untuk Penderita Diabetes

Dijelaskan Prof. Suastika, untuk mengatasi angka penderita diabetes yang terus meningkat, dibutuhkan terobosan dan inovasi, baik dalam tataran pencegahan hingga terapi. Tujuan terapi pada penderita diabetes adalah mengendalikan kadar gula darah senormal mungkin. PERKENI sudah menetapkan bahwa tingkat HbA1c pasien harus mencapai di bawah 7%, sehingga penderita diabetes akan terhindar dari berbagai komplikasi.

 

Sayangnya, lebih dari 70% pasien diabetes di Indonesia tidak berhasil mencapai target tersebut akibat prosedur terapi yang kompleks,” jelas Prof. Suastika.

 

Prof. Suastika menjelaskan, terapi pasien diabetes dilakukan sesuai kondisi pasien. Khusus pasien diabetes tipe 1, pilihannya hanya satu, yaitu insulin. Sedangkan untuk diabetes tipe 2, terapi tahap awal adalah dengan perubahan gaya hidup. Jika tidak ada perbaikan atau gula darah target tidak tercapai, bisa dimulai dengan pemberian satu jenis obat oral diabates, yang bisa ditingkatkan menjadi dua hingga tiga jenis obat oral diabetes, sampai kadar gula darahnya terkendali.

 

Namun ada sebagian pasien yang ketika terdiagnosis diabetes tipe 2 langsung kita berikan insulin, biasanya karena HbA1c sangat tinggi dan menunjukkan gejala ketobolik,” jelas Prof. Suastika.

 

 Baca juga: HbA1c Lebih dari 9% Sebaiknya Mulai Terapi Insulin
 

Insulin Kombinasi Memperbaiki Target HbA1c

Ada kesalahpahaman terkait penggunaan insulin. Sebagian penderita diabetes menganggap bahwa insulin diberikan ketika diabetes sudah parah. Banyak pasien diabetes yang baru mendapatkan insulin setelah 10-15 tahun terdiagnosis diabetes. Hal ini keliru. Tentu saja pasien akan meninggal karena insulin terlambat diberikan, saat komplikasi sudah banyak,” kata Prof. Suastika.

 

Pemberian insulin di waktu yang tepat bisa menyelamatkan pasien diabetes. Sejak ditemukan 100 tahun yang lalu, insulin sudah digunakan sebagai terapi diabetes. Dan inovasi insulin terus dikembangkan.

 

Novo Nordisk baru saja mengumumkan kehadiran insulin terbaru yang merupakan dua jenis insulin dalam satu pen, atau dikenal dengan formulasi 2-in-1. Dua jenis insulin yang digunakan adalah insulin basal (aksi panjang) dan insulin bolus (aksi pendek).

 

Insulin formula baru ini sangat menguntungkan pasien karena menyederhanakan terapi. Pasien yang menjalani terapi insulin biasanya membutuhkan lebih dari satu suntikan insulin setiap harinya untuk menjaga gula darah dengan baik. Prosedur terapi yang kompleks ini dapat menurunkan tingkat kepatuhan pasien dan menyebabkan kegagalan dalam menurunkan tingkat HbA1c yang ditargetkan.

 

2-in-1 insulin co-formulation IDegAsp merupakan 2-in-1 insulin co-formulation pertama dan satu-satunya di dunia yang mengandung insulin degludec yang merupakan insulin basal generasi baru dan insulin aspart (insulin aksi pendek) dalam satu suntikan.

 

Selain meningkatkan kepatuhan berobat dan HbA1c bisa tercapai, Prof. Suastika menjelaskan, formulasi insulin 2-in-1 ini dapat menurunkan risiko hipoglikemia. Penggunaannya pun sangat mudah, hanya dengan satu kali suntikan sehari dan tidak membutuhkan re-suspensi.

 

 

 

 

 

 

 

  • # Insulin
  • # Diabetes
  • # TD Hidup dengan Diabetes