Apakah Bertubuh Pendek dapat Melahirkan Normal?
Umumnya, tinggi badan di bawah 145 cm dianggap pendek bagi wanita di Indonesia, karena di bawah rata-rata. Tinggi badan bisa pendek karena sejumlah alasan, termasuk genetika, kekurangan gizi, atau kondisi seperti osteoporosis yang memengaruhi tinggi badan. Lantas, apakah wanita yang bertubuh pendek dapat melahirkan normal?
Sebenarnya, tidak ada patokan tinggi badan tertentu yang dikaitkan dengan persalinan normal. Artinya, tidak selalu wanita dengan tinggi badan kurang dari 145 cm tidak mampu melahirkan normal. Namun, ada beberapa kasus, di mana kondisi medis menyebabkan tubuh pendek membawa pengaruh pada kehamilan.
Bagaimana Tinggi Badan Pendek Mempengaruhi Kehamilan?
Banyak wanita bertanya-tanya dalam hati, Apakah bertubuh pendek dapat melahirkan normal atau memengaruhi kehamilan? Nah, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menetapkan hubungan antara tinggi badan pendek dan kehamilan untuk mengetahui akar penyebab sebenarnya dari dilema tersebut.
Dalam beberapa kasus, tinggi badan pendek seorang wanita memang menimbulkan beberapa komplikasi saat hamil. Berikut ini beberapa di antaranya:
1. Kelahiran Prematur
Prematuritas merupakan komplikasi paling utama dalam daftar di antara komplikasi kehamilan lainnya. Bayi yang lahir sebelum 37 minggu dianggap prematur. Bayi seperti itu berisiko mengalami masalah pernapasan atau pencernaan. Menurut sebuah penelitian, perawakan pendek seorang wanita dapat memengaruhi durasi bayi dalam kandungannya, yang dapat mengakibatkan kelahiran prematur.
2. Kekurangan Pasokan Oksigen ke Janin
Terkadang, persalinan yang lama dapat menciptakan kondisi yang tidak nyaman bagi janin di dalam rahim. Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, hal itu dapat menghambat pasokan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, persalinan normal menjadi berisiko pada kasus ini.
3. Perdarahan Berlebihan
Perdarahan berlebihan merupakan komplikasi lain yang mungkin harus dihadapi seseorang saat melahirkan. Selama persalinan per vaginam, wanita bertubuh pendek harus mengeluarkan lebih banyak tenaga untuk mendorong bayi keluar, karena bayi memiliki lebih sedikit ruang untuk keluar, hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan vagina, dan dapat menyebabkan pendarahan berlebihan.
4. Penyembuhan episiotomi lebih lama
Episiotomi adalah proses membuat sayatan kecil antara vagina dan anus wanita untuk membantu proses melahirkan. Biasanya, sayatan yang dibuat akan sembuh seiring waktu; namun, karena sayatan pada wanita bertubuh pendek jauh lebih dalam, waktu penyembuhannya lebih lama.
5. Berat Badan dan Tinggi Badan Bayi Lahir Rendah
Karena tidak ada cukup ruang bagi bayi untuk berkembang sepenuhnya karena ukuran rahim dan panggul yang lebih kecil, hal ini dapat mengakibatkan berat badan dan tinggi badan bayi lahir rendah.
6. Fistula Obstetrik
Fistula obstetrik mengacu pada lubang yang terbentuk antara vagina dan saluran kemih atau rektum. Lapisan antara vagina dan rektum memberi jalan bagi jalan keluar bayi. Namun, jika jalan lahir kecil bagi bayi untuk keluar, jika dorongan persalinan dilakukan dalam waktu lama, hal itu dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan jalan lahir. Oleh karena itu, kemungkinan terjadinya fistula obstetrik pada wanita bertubuh pendek lebih tinggi.
7. Disproporsi Sefalopelvik
Disproporsi sefalopelvik adalah kondisi di mana kepala bayi terlalu besar untuk masuk melalui panggul ibu untuk melahirkan normal melalui vagina. Kasus seperti itu lebih sering terjadi pada wanita bertubuh pendek karena panggul mereka relatif lebih kecil. Kondisi ini dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan panggul jika mengejan terlalu lama. Menurut sebuah penelitian, tinggi badan ibu dan komplikasi kehamilan sangat erat kaitannya pada beberapa wanita.
Pertimbangan untuk melahirkan caesar pada wanita bertubuh pendek
Sebuah penelitian mencari tahu tentang frekuensi sebarapa besar frekuensi operasi caesar yang berhubungan dengan tinggi badan ibu. Ternyata, wanita yang lebih pendek memiliki risiko operasi caesar yang lebih tinggi, dan sebaliknya risiko tersebut menurun pada wanita yang memiliki perawakan lebih tinggi.
Ibu dengan tinggi badan kurang dari 148 cm memiliki kemungkinan dua kali lipat untuk menjalani operasi caesar dibandingkan dengan ibu dengan tinggi badan 148 cm atau lebih.
Temuan ini konsisten dengan studi lain yang juga dilakukan di wilayah Afrika sub-Sahara, yang menganalisis semua kelahiran hidup dan kelahiran pertama. Studi tersebut juga menyimpulkan bahwa ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm memiliki kemungkinan dua kali lipat untuk menjalani operasi caesar dibandingkan dengan ibu dengan tinggi badan 145 cm atau lebih.
Menurut sebuah studi, tinggi badan ibu juga dikaitkan dengan risiko obstetrik selama persalinan. Misalnya, ibu dengan perawakan kecil (kurang dari 145–150 cm) memiliki risiko lebih tinggi mengalami persalinan lama atau penyumbatan persalinan akibat disproporsi sefalopelvik.
Selain tubuh pendek, BMI ibu juga merupakan faktor risiko operasi caesar, di mana ada peningkatan risiko caesar seiring dengan peningkatan BMI. Terdapat tren konsisten yang menunjukkan peningkatan risiko operasi caesar dengan peningkatan kelas BMI untuk setiap kategori tinggi badan ibu.
Faktor penting lain yang berkontribusi terhadap hubungan antara tinggi badan ibu yang pendek dan operasi caesar adalah status gizi. Wanita yang lebih pendek lebih mungkin mengalami kelebihan berat badan atau obesitas daripada wanita yang lebih tinggi, dan obesitas juga meningkatkan operasi caesar.
Referensi:
Parentingfirstcry. does-short-height-of-a-woman-affect-her-pregnancy
-
# Kehamilan Sehat
-
# TB Persalinan & Postpartum
-
# TBMinggu33
-
# TBTrimester3