Ella Nurlaila
27 Mei 2026
Shutterstock

Anak Susah Berbagi: Wajar atau Perlu Intervensi?

Mengapa sejak kecil anak seharusnya diajarkan konsep berbagi? Tahukah Mums, bahwa inti dari keadilan adalah kemampuan untuk membagi sumber daya secara adil di antara banyak orang yang memerlukan. 


Kelak anak akan tumbuh dewasa, dan semua orang tua tentu mengharapkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang adil, dermawan, dan punya empati tinggi. Menurut penelitian di Society for Research in Child Development (2022) menyatakan  bahwa perilaku berbagi yang adil adalah keterampilan yang biasanya dipelajari antara usia empat dan enam tahun. Namun, penelitian ini ingin tahu lebih banyak kaitan antara perilaku berbagi dengan perkembangan kognitif anak. 


Para peneliti dari Universitas Harvard, Boston College, dan Universitas California, ini menemukan, ternyata keterampilan berhitung simbolik adalah prediktor terbesar tunggal dari perilaku berbagi yang adil pada anak-anak. Intinya, anak-anak yang pintar berhitung, cenderung mudah untuk berbagi. 


Wah menarik ya? Lalu apa lagi yang perlu kita tahu tentang manfaat mengajarkan anak berbagi dan bagaimana caranya? Simak di artikel selengkapnya, ya!


Mengapa Berbagi Itu Penting

Anak-anak perlu belajar berbagi agar mereka dapat berteman dan mempertahankan persahabatan, bermain dengan damai, punya pengertian tentang konsep bergantian, bernegosiasi, dan juga belajar mengatasi kekecewaan. 


Berbagi mengajarkan anak-anak tentang kompromi dan keadilan. Mereka belajar bahwa jika kita memberi sedikit kepada orang lain, kita juga bisa mendapatkan sebagian dari apa yang kita inginkan.


Berbagi adalah bagian penting dari bergaul dengan orang lain, jadi hal ini menjadi semakin penting ketika anak mulai bermain bersama teman-teman dan pergi ke tempat penitipan anak, prasekolah, atau taman kanak-kanak.


Cara Membantu Anak-Anak Belajar Tentang Berbagi

Anak-anak belajar banyak hanya dengan mengamati apa yang dilakukan orang tua mereka. Ketika Mums dan Dads mencontohkan berbagi dan bergantian yang baik dalam keluarga, itu memberi anak contoh yang bagus untuk diikuti.


Anak-anak juga membutuhkan kesempatan untuk belajar dan berlatih berbagi. Berikut adalah cara untuk mendorong berbagi dalam kehidupan sehari-hari:


1. Bicarakan mengapa berbagi itu baik

Mums dapat mengatakan sesuatu seperti, ‘Ketika kamu berbagi mainanmu dengan temanmu, semua orang bisa bersenang-senang. Kamu mungkin juga bisa berbagi mainan temanmu.’


2. Tunjukkan contoh

Misalnya, ‘Temanmu tadi meminjamkan bolanya, hebat banget ya teman kamu tidak pelit.”



3. Berikan pujian

Ketika Mums melihat si Kecil mencoba berbagi atau mau bergiliran, berikan banyak pujian dan perhatian kepadanya. Misalnya, ‘Ibu suka caramu membiarkan Aziz bergiliran bermain ayunan. Berbagi yang hebat!’


4. Mainkan permainan dengan metode berbagi dan bergiliran

Jelaskan langkah-langkahnya kepada anak, dengan mengatakan hal-hal seperti, ‘Sekarang giliran saya untuk memainkan kartu, dan kemudian giliranmu’ atau ‘Kamu berbagi balok merah denganku, dan aku akan berbagi balok hijau denganmu’.


5. Bicaralah dengan anak tentang berbagi sebelum bermain bersama anak-anak lain

Misalnya,  Mums bisa mengatakan, “Nanti kalau Aisha datang, kamu perlu berbagi beberapa mainanmu, ya?”  Mums juga dapat berbicara dengan si kecil tentang berbagi sebelum mereka mulai masuk penitipan anak atau prasekolah.


Ketika anak-anak kesulitan berbagi


Jika anak kesulitan berbagi, ada baiknya untuk tetap berada di dekatnya saat ia bermain dengan anak-anak lain dan cobalan bantu dan tunjukkan cara berbagi. Ketika usaha ini berhasil, katakan Mums sangat bangga padanya.


Mums jangan malah putus asa dan akhirnya menghindari acara bermain bersama teman karena si kecil sulit berbagi mainan. Sebaliknya, gunakan acara bermain bersama teman sebagai kesempatan untuk membantu anak berlatih. 


Mums dapat mengingatkan di Kecil di awal acara bermain, bahwa berbagi adalah hal yang baik untuk dilakukan dengan teman. Kemudian Mums dapat membantu anak  dan temannya untuk memutuskan mainan apa yang dapat mereka bagi.


Untuk anak-anak di atas 3 tahun, akan sangat membantu jika ada konsekuensi jika tidak berbagi.


Saat Mums menggunakan konsekuensi untuk tidak berbagi, penting agar konsekuensi tersebut berkaitan dengan hal yang dibagikan atau tidak dibagikan! Misalnya, jika ada anak yang tidak mau berbagi kereta mainan, Mums mengambil keretaa atersebut selama 30 detik. 


Ini akan memberi mereka waktu untuk tenang dan kesempatan untuk berpikir tentang cara berbagi. Kemudian kembalikan kereta mainan itu dan biarkan mereka mencoba lagi.  Jika mereka masih tidak bisa berbagi, Mums bisa mengambilnya lebih lama. Kedua anak tidak bisa bermain dengan kereta mainan itu, jadi konsekuensinya terasa sama bagi keduanya.


Untuk anak yang berusia 2 tahun mungkin belum mengerti tentang berbagi. Mereka cenderung merebut mainan teman karena belum paham konsep bergantian. Mengharapkan anak mampu berbagi pada usia ini mungkin tidak realistis. Menghukumnya dengan konsekuensi juga tidak akan membantu balita  belajar berbagi.  Lebih baik membimbing anak ketika mereka perlu berbagi. Lakukan contoh dan latihan terus menerus sesuai usianya. 



Referensi:

Society for Research in Child Development. 2022. Study shows sharing behavior among young children may be related to their counting skills.

Berekely Education. Why Is Your Preschooler Not Sharing?

  • # Anak
  • # Psikologi Anak
  • # Psikolog Corner