Irma Fajar Hadi
23 Juli 2018
unsplash.com

Mengenal Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik (metabolic syndrome: MetS) adalah serangkaian gangguan metabolisme, yang terdiri dari gangguan toleransi glukosa, obesitas sentral, dislipidemia, dan hipertensi. Definisi MetS ini pertama kali diakui internasional pada tahun 1998.

 

Sindrom metabolik dapat dianggap sebagai pengelompokan beberapa faktor risiko, termasuk hipertensi, dislipidemia, gangguan toleransi glukosa, dan adipositas sentral. Pengakuan pengelompokan ini telah berevolusi selama hampir 90 tahun. Di awal abad ke-20, beberapa dokter Eropa menyarankan bahwa kelainan metabolik, seperti hipertensi dan diabetes, sering ditemui pada individu yang sama.

 

Pertama kali pengelompokan faktor risiko dikategorikan sebagai sindrom dilakukan oleh Kylin. Ia mengusulkan"hipertensi-hiperglikemia-hiperurisemia sindrom" pada tahun 1923. Pada tahun 1947, Vague pertama kali menggambarkan distribusi lemak laki-laki (dismorfisme seksual distribusi lemak tubuh). Beberapa tahun kemudian, ia menggambarkan hubungan yang lebih erat antara obesitas buah apel/android, diabetes, hipertensi, dan aterosklerosis dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular dan jenis distribusi lemak tubuh gynoid/buah pir.

Baca juga: Kenali Sindrom Gilbert yang Membuat Pembalap MotoGP Ini Mundur

 

Hubungan ciri-ciri sindrom dan penyakit kardiovaskular mulai terlihat pada awal 1960-an, yang disebut sebagai trisyndrome metabolic. Masih di tahun yang sama, nutrisi, gaya hidup, dan asam lemak teridentifikasi berkontribusi pada DM dan resisten insulin.

 

Akhirnya pada tahun 1977, Haller mendefinisikan sindrom metabolik sebagai pertemuan antara obesitas, DM, hyperlipoproteinuria, hyperuricemia, dan hepatic steatosis. Ia menggarisbawahi efek potensiasi dari kombinasi risiko pada aterosklerosis. Istilah sindrom metabolik juga digunakan oleh Hanefeld dan Leonhardt pada tahun 1981, untuk menggambarkan hubungan antara DM, hiperinsulinemia, obesitas, hipertensi, hiperlipidemia, asam urat, dan trombofilia. Dari uraian-uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa gaya hidup dikaitkan dengan adanya gangguan metabolisme.

 

 

Berdasarkan beberapa sumber, sindrom metabolik didefinisikan sebagai kumpulan dari faktor risiko vaskuler dan abnormalitas metabolik, di antaranya obesitas, dyslipidemia atherogenik, peningkatan tekanan darah, hiperglikemia, dan keadaan proinflammatory. Beberapa kelainan dengan konsekuensi klinis ditandai dengan adanya gangguan toleransi glukosa, resistensi insulin, dyslipidemia, hipertensi, kelainan koagulasi, dan obesitas visceral. Semua faktor tersebut secara bersamaan dapat menyebabkan aterosklerosis dini, sehingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Baca juga: Operasi Metabolik, Solusi Cegah Diabetes pada Penderita Obesitas

 

WHO adalah organisasi besar pertama yang mengusulkan kriteria klinis untuk MetS tahun 1998. Kriteria ini mengarah pada potensi pengembangan DM tipe 2. Jadi, MetS meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular pada individu yang menderita DM atau yang berisiko mengalami DM.

 

Adapun kriteria sindrom metabolik menurut WHO yaitu harus memiliki salah satu dari daftar berikut (konsentrasi glukosa yang diberikan dalam mmol / L (mg / dL):

o Diabetes melitus

  • Glukosa plasma puasa ≥7 (126) atau 2 jam pasca-glukosa beban ≥11,1 (200).

o Gangguan toleransi glukosa

  • Glukosa plasma puasa.

o Gangguan glukosa puasa

  • Glukosa plasma puasa ≥6,1 (110).

o Resistensi insulin

 

Selain itu, kriteria sindrom metabolik juga dipublikasikan oleh ATP III dari National Cholesterol Education Program (NCEP), dengan tujuan untuk memperbarui pedoman klinis demi pengujian dan manajemen kolesterol. Definisi ini fokus pada pencegahan primer terhadap orang dengan banyak faktor risiko. Menurut definisi ATP III, MetS bukan mengenai DM, melainkan sebagai faktor risiko khusus untuk penyakit kardiovaskular yang aditif terhadap faktor risiko lain.

Adapun definisi sindrom metabolik menurut ATP III adalah jika memiliki minimal tiga kriteria berikut:

  • Obesitas abdominal (lingkar pinggang > 88 cm untuk wanita dan untuk pria > 102 cm).
  • Peningkatan kadar trigliserida darah (≥ 150 mg/dL, atau ≥ 1,69 mmol/L).
  • Penurunan kolesterol HDL (< 40 mg/dL atau < 1,03 mmol/L pada pria dan pada wanita < 50 mg/dL atau <1,29 mmol/L).
  • Tekanan darah (tekanan darah sistolik ≥ 130 mmHg, tekanan darah diastolik ≥ 85 mmHg, atau sedang memakai obat antihipertensi).
  • Peningkatan glukosa darah puasa (kadar glukosa puasa ≥ 110 mg/dL, ≥ 6,10 mmol/L, atau sedang memakai obat antidiabetes)

 

Meskipun terdapat perbedaan mendasar definisi sindrom metabolik antara WHO dan ATP III, keduanya sepakat bahwa sindrom metabolik meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

 

 

Referensi

Hansen, B.C., Bray, G.A., 2010. The Metabolic Syndrome:: Epidemiology, Clinical Treatment, and Underlying Mechanisms. Springer Science & Business Media.

Kurian, M., Wolfe, B.M., Ikramuddin, S., 2015. Metabolic Syndrome and Diabetes: Medical and Surgical Management. Springer.

  • # Cek Kesehatan
  • # Hipertensi