Kenali Tujuan Pernikahan dari Berbagai Pandangan
Bertemu, saling kenal, lalu jatuh cinta dan akhirnya menikah, begitulah umumnya siklus sebuah hubungan terbentuk. Jika dulu pernikahan sering dianggap sebagai akhir cerita bahagia, kini pernikahan justru digambarkan sebagai titik awal dimulainya sebuah cerita panjang dua anak manusia.
Memahami tujuan pernikahan dalam Islam maupun dari berbagai sudut pandang lainnya sangatlah penting, agar sebuah rumah tangga punya arah dan tujuan yang jelas, ada standar yang harus dijalani, ada nilai dan norma yang mesti dijaga.
Lantas, apa tujuan pernikahan dalam pandangan agama Islam, perspektif sosial, dan perspektif psikolog?
Tujuan pernikahan dalam pandangan Islam
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah)...”
(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sudah menciptakan jodoh untuk semua orang dengan tujuan menikah dan membentuk keluarga samawa.
Masih dari Al-Qur'an:
“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka…”
(QS. Al-Baqarah: 187
Ayat ini menunjukkan bahwa menikah itu bertujuan saling melindungi, saling menutupi kekurangan, dan memberi kenyamanan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan…”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hadist ini menunjukkan bahwa pernikahan juga bertujuan untuk menjaga diri dari perbuatan yang dilarang dan menjalani hidup yang lebih terarah secara moral.
Dari pernikahan, akan lahir keturunan yang akan melanjutkan tradisi, menjaga nilai, dan terus melestarikan ritual ibadah. Karena itu, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua orang dengan latar belakang yang berbeda dalam satu biduk rumah tangga, melainkan untuk beribadah sepanjang hidup bersama.
Dengan kata lain, pernikahan bukan sekadar formalitas, apalagi legalitas untuk hubungan suami istri, melainkan sebuah institusi dengan tujuan yang dalam dan luas.
Tujuan pernikahan dari berbagai sudut pandang
Selain memahami tujuan pernikahan dalam Islam, pahami pula tujuan pernikahan dari berbagai sudut pandang atau perspektif yang berbeda. Dengan begitu setiap orang akan punya satu pemahaman yang utuh terhadap pernikahan. Sehingga pernikahan dipandang sebagai sebuah institusi yang sakral dan bermartabat.
Dalam psikologi modern, tujuan utama pernikahan adalah mencapai, psychological well being atau kesejahteraan psikologis. Penelitian Journal of Islamic Education Guiden and Consulting (2023) menunjukkan bahwa pernikahan yang sehat meningkatkan kebahagiaan, menjadi sumber dukungan emosional, dan membantu individu menghadapi stres hidup.
Fungsi psikologis utama pernikahan ada pada asa aman dan keterikatan (attachment), dukungan emosional, dan validasi diri. Karena itu pernikahan yang sehat bukan membuat hidup sempurna, tapi membuat seseorang lebih kuat secara mental.
Berikut ini tujuan pernikahan dari berbagai sudut pandang atau perspektif:
1. Perspektif sosial
Dari keluargalah sistem dukungan emosional lahir dan menciptakan stabilitas ekonomi, di mana keluarga sebagai fondasi masyarakat dimulai. Keluarga menjadi tempat pendidikan pertama anak dan menjaga keteraturan sosial.
Sejarah membuktikan bahwa banyak peradaban besar runtuh ketika struktur keluarga melemah. Itu sebabnya kekuatan suatu bangsa sangat bergantung pada kekuatan keluarga yang ada di dalamnya.
2. Perspektif spiritual
Akad nikah atau ijab Kabul adalah perjanjian suci antara manusia dengan Tuhannya. Dalam hal ini, pernikahan dipandang sebagai janji seumur hidup, komitmen sakral, hubungan yang tidak hanya emosional, tapi juga spiritual.
Makna ini membuat pernikahan berbeda dengan sekadar “tinggal bersama”. Jadi, pernikahan bukan sekadar perjanjian, melainkan komitmen yang melampaui perasaan.
3. Perspektif psikologi
Pernikahan sebagai sumber kesejahteraan mental karena pernikahan yang sehat akan berkontribusi besar pada kebahagiaan, stabilitas emosi, rasa aman, dan dukungan ketika menghadapi tekanan atau beban hidup.
Dari pernikahan, seseorang akan punya tempat untuk didengar, ada ruang untuk menjadi diri sendiri, dan punya sistem dukungan saat hidup terasa berat. Dalam hal ini, pernikahan bukan membuat hidup bebas dari masalah, melainkan memberi kekuatan untuk menghadapinya.
4. Perspektif relasi
Hubungan tanpa komitmen sering kali rapuh. Itu sebabnya salah satu tujuan pernikahan dalam Islam adalah menciptakan rasa aman jangka panjang, kepercayaan mendalam, juga keterbukaan tanpa takut ditinggalkan.
Dalam kondisi ini, pasangan bisa saling mengenal secara utuh, berkembang bersama, juga mampu menghadapi konflik dengan tujuan memperbaiki diri, bukan pergi meninggalkan pasangan. Keintiman terdalam hanya bisa tumbuh dalam rasa aman yang kuat.
5. Perspektif keluarga
Dari keluarga yang samawa akan lahir generasi terbaik. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis cenderung menjadi individu dengan kontrol emosi yang lebih, pendidikan yang lebih terjamin, dan lebih siap membangun hubungan yang sehat di masa depan.
Sebab anak belajar dari orang tuanya bagaimana mencintai dan menghargai pasangan, juga bagaimana menyelesaikan konflik yang muncul. Bagi anak-anak, pernikahan orang tua adalah contoh nyata pelajaran hidup baginya.
6. Perspektif kesehatan
Terdapat sejumlah hal positif dari pernikahan berdasarkan perspektif kesehatan, di antaranya pernikahan meningkatkan kesehatan mental, menurunkan risiko depresi, memperpanjang harapan hidup, dan mendorong hidup lebih stabil. Pernikahan yang tidak sehat justru berdampak sebaliknya.
Kenapa banyak orang menunda pernikahan?
Namun, di balik tujuannya yang jelas, saat ini ada tren anak muda yang justru menghindari atau setidaknya menunda pernikahan. Realitas ini memang tidak bisa diingkari, ada sejumlah faktanya yang terjadi saat ini dan sulit diabaikan.
Beberapa faktor orang menunda untuk menikah, antara lain:
1. Faktor ekonomi
Biaya hidup, mahar, pesta, hingga kesiapan finansial jadi pertimbangan besar. Banyak orang merasa harus “mapan dulu” sebelum menikah.
2. Fokus pada pendidikan dan karier
Sekolah lebih tinggi atau membangun karier sering dianggap prioritas utama, karena butuh waktu, energi, dan stabilitas sehingga menikah belum menjadi prioritas.
3. Belum menemukan pasangan yang cocok
Standar mencari pasangan saat ini makin spesifik atau karena lingkar sosial terbatas, sehingga butuh waktu lebih lama untuk menemukan yang dirasa tepat.
4. Ketakutan akan komitmen
Biasanya ini terjadi pada pria. Dalam pandangan pria, ada kekhawatiran soal tanggung jawab besar setelah menikah. Mereka juga mengkhawatirkan konflik rumah tangga atau kegagalan pernikahan.
5. Pengalaman masa lalu
Sebagian orang punya trauma dengan hubungan sebelumnya atau melihat pernikahan orang lain yang tidak harmonis bisa membuat seseorang lebih berhati-hati.
6. Perubahan nilai dan gaya hidup
Sebagian orang merasa tidak perlu buru-buru menikah karena ingin menikmati kebebasan, self-development, atau gaya hidup mandiri.
7. Tekanan sosial yang berubah
Kalau dulu menikah muda adalah norma kuat, sekarang tekanan itu berkurang—bahkan di beberapa lingkungan, menunda justru dianggap wajar.
Kesimpulan
Mums, itulah tujuan pernikahan dari berbagai sudut pandang yang perlu dipahami. Semuanya memberikan pandangan yang positif dan berkelanjutan. Tujuan pernikahan adalah kombinasi dari kesejahteraan psikologis, ibadah dan makna spiritual, kesehatan fisik dan mental, juga pembentukan keluarga yang akan melahirkan generasi terbaik.
Tidak ada pernikahan yang sempurna, namun semua bisa diupayakan untuk mewujudkan pernikahan yang sehat dan bahagia.
Referensi
Journal of Islamic Education Guidance and Counselling. 2023. Psychological well being perempuan yang menikah mencapai kesejahteraan psikologis melalui pernikahan.
-
# Hubungan
-
# Pernikahan