Inovasi Penanganan Kanker: Gabungkan Pencitraan dan Radioterapi Presisi dalam Satu Perangkat
Pemerintah Indonesia telah menetapkan 6 pilar dalam transformasi kesehatan nasional. Salah satu pilar untuk penguatan layanan kesehatan nasional tersebut adalah pengembangan teknologi kesehatan. Bicara teknologi kesehatan, maka salah satu bidang yang sangat berkembang pesat adalah teknologi dalam pelayanan penyakit kanker.
Beban kanker di Indonesia sangat tinggi dan terus meningkat. Data GLOBOCAN 2022 menunjukkan 408.661 kasus kanker baru setiap tahunnya, dengan 242.988 kematian setiap tahun. Tanpa upaya pencegahan dan deteksi dini yang lebih luas dan efektif, jumlah kasus kanker di Indonesia diproyeksikan meningkat lebih dari 70 persen pada tahun 2050.
Dari perspektif pembiayaan, data BPJS Kesehatan pada tahun 2024 mencatat 4,2 juta pasien kanker, dengan pengeluaran Asuransi Kesehatan Nasional (JKN) mencapai Rp 6,48 triliun. Angka-angka ini mencerminkan besarnya tantangan dan urgensi untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas perawatan kanker.
Layanan Radioterapi Belum Maksimal
Menteri Kesehatan dalam sambutan yang dibacakan Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes RI, dr. Obrin Parulian, M.Kes, di acara peluncurkan Integrated CT-Linac di MRCCC Siloam Semanggi, 22 Januari 2026 menyatakan, "Salah satu tantangan dalam pelayanan pasien kanker di Indonesia adalah ketersediaan alat seperti radioterapi. Kapasitas nasional untuk layanan radioterapi masih perlu terus diperkuat. Hingga Juni 2025, Indonesia memiliki 57 pusat layanan radioterapi, dan 22 persen di antaranya melaporkan waktu tunggu lebih dari satu bulan. Situasi ini tentu saja memengaruhi hasil pengobatan dan kualitas hidup pasien."
“Secara umum, hasil pengobatan kanker di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan di negara-negara maju. Misalnya, angka harapan hidup pasien kanker payudara di Indonesia masih 40 hingga 50 persen lebih rendah, sebagian disebabkan oleh rendahnya angka deteksi dini, terbatasnya akses ke layanan onkologi, keterbatasan sumber daya, dan beban keuangan. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi terapi kanker yang lebih presisi dan terintegrasi sangat penting.”
MRCCC Siloam Semanggi menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan integrasi Simulator CT dengan Akselerator Linier, yang dikenal sebagai CT-Linac. Melalui integrasi CT-Linac, radiasi dapat dimaksimalkan untuk menargetkan tumor sekaligus meminimalkan risiko terhadap organ sehat.
dr. Denny Handoyo Kirana, SpOnkRad (K), Dokter Spesialis Onkologi Radiasi MRCCC Siloam Semanggi, menambahkan, “Teknologi Integrated CT-LINAC berfokus pada pasien sebagai pusat dari perawatan kanker. Melalui pencitraan CT harian dan radioterapi adaptif, setiap sesi terapi dapat disesuaikan dengan anatomi dan kondisi pasien, sehingga meningkatkan presisi sekaligus mengurangi paparan radiasi yang tidak perlu pada jaringan sehat. Bagi para pasien kanker khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara, teknologi ini memberikan terapi yang lebih aman, waktu tunggu yang lebih singkat, serta pengalaman perawatan yang lebih nyaman tanpa mengorbankan hasil klinis”.
Integrated CT-LINAC: Radioterapi Presisi Tinggi yang Efisien
Radioterapi konvensional umumnya memiliki alur kerja yang berlapis dan berlangsung selama beberapa hari, sehingga dapat menunda dimulainya terapi hingga berminggu-minggu. Integrated CT-LINAC menyederhanakan seluruh proses terapi dalam satu sesi tanpa perlu memindahkan posisi pasien, dengan waktu persiapan hingga penyinaran sekitar 15–25 menit. Sistem ini menggabungkan pencitraan CT diagnostik fan-beam dan radioterapi presisi tinggi dalam satu perangkat dan satu ruang perawatan.
Integrated CT-LINAC merupakan produk inovatif dari United Imaging, dan alat yang kini menjai layanan baru MRCCC Siloam Semanggi ini adalah yang pertama di Asia Tenggara.
Caroline Riady, CEO Siloam International Hospitals, menyampaikan,“Kolaborasi kami dengan United Imaging mencerminkan komitmen kuat Siloam International Hospitals dalam mendukung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk memperkuat layanan kanker di seluruh tingkatan, mulai dari deteksi dini hingga pengobatan. Melalui adopsi teknologi radioterapi canggih, kami berupaya meningkatkan presisi terapi, penanganan pasien, serta memperluas akses terhadap layanan kanker berkualitas tinggi bagi masyarakat di Indonesia dan Asia Tenggara”.
Dr. Jusong Xia, Ph.D, President of International Business United Imaging Healthcare Group, mengatakan, “Kanker merupakan tantangan kesehatan global yang terus meningkat dan membutuhkan kolaborasi, inovasi, serta komitmen jangka panjang. Melalui kemitraan kami dengan MRCCC Siloam Semanggi, kami berupaya menghadirkan inovasi medis mutakhir dalam dampak klinis nyata, sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi Indonesia–Tiongkok yang didukung oleh inovasi dan keunggulan klinis dapat memperluas akses layanan kanker berkualitas, memperkuat sistem kesehatan, dan berkontribusi pada kemajuan global berbasis onkologi yang presisi”.
-
# Kanker
-
# Radiologi