Indonesia Harus Lebih Berkontribusi dalam Riset dan Uji Klinis Pengobatan Kanker
Kanker masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia kesehatan modern. Meski teknologi medis terus berkembang, masih banyak hal tentang penyakit ini yang belum sepenuhnya terungkap, mulai dari penyebab pasti pada tiap individu, respons tubuh terhadap terapi, hingga alasan mengapa beberapa pasien merespons pengobatan dengan baik sementara yang lain tidak. Kompleksitas kanker membuat penyakit ini terus menjadi fokus penelitian di seluruh dunia.
Di tengah kondisi tersebut, uji klinis memegang peranan yang sangat penting. Melalui uji klinis, para peneliti dan tenaga medis dapat memahami lebih dalam karakteristik kanker, menemukan metode diagnosis yang lebih akurat, hingga mengembangkan terapi yang lebih efektif dan personal bagi pasien. Uji klinis juga menjadi jembatan antara inovasi ilmiah dan penerapan nyata di dunia medis, sehingga pasien memiliki peluang mendapatkan pilihan terapi terbaru yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup maupun angka harapan hidup.
Tanpa adanya uji klinis, perkembangan penanganan kanker akan berjalan jauh lebih lambat. Karena itu, kehadiran penelitian klinis bukan hanya penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi harapan besar bagi jutaan pasien kanker di masa kini dan masa depan.
Tema tersebut menjadi salah satu topik bahasan di ajang The 6th Siloam Oncology Summit 2026 pada 22–24 Mei 2026 di Jakarta. Acara ini merupakan agenda tahunan MRCCC Siloam Semanggi, yang merupakan wadah pertukaran ilmiah, dihadiri pakar onkologi dari dalam dan luar negeri.
Riset dan Uji Klinis Onkologi di ASEAN: Peluang dan Tantangannya
Dalam Plenary Session yang diselenggarakan pada Minggu, 24 Mei 2026, diangkat tema tentang Ekosistem Riset di Bidang Onkologi dengan pembicara Dr. Akhmal Yusof, CEO Clinical Research Malaysia.
Dr. Akhmal membuka presentasinya dengan data bahwa saat ini uji klinis onkologi masih mendominasi pengembangan obat, mewakili 41% dari uji klinis global yang dimulai pada tahun 2024. Dari sisi jenis obat kanker yang paling banyak diteliti, saat ini tren mengarah pada terapi berbasis sel dan genetika, kemudian obat-obatan antibody konjugat. Sedangkan riset untuk obat-obatan imunologi justru mengalami penurunan.
“Kanker adalah penyakit yang sangat kompleks, dan begitu banyak hal terkait kanker yang belum dipahami sepenuhnya, mulai dari penyebab, patofisiologinya, hingga terapi yang efektif. Salah satu riset yang paling aktif dan berkembang pesat sekarang adalah di bidang onkologi. Pada tahun 2002, hanya ada sedikit pilihan obat untuk terapi target. Sekarang, sudah lebih dari 100 obat-obatan kanker dari golongan terapi target yang berhasil dikembangkan. Dan, bukan hanya untuk kanker dengan jumlah pasien banyak seperti kanker paru, tapi juga kanker lainnya. Tentunya ini memberikan harapan bahwa suatu saat kita bisa hidup dengan kanker,” jelas dr. Akhmal.
Dr. Akhmal mengharapkan bahwa di masa depan, riset di bidang onkologi, termasuk uji klinis, lebih melibatkan pasien-pasien di Asia Tenggara. Populasi di ASEAN adalah masyarakat yang multietnis, didominasi oleh ras Mongoloid, India, Melayu, dan lain-lain.
Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan, MARS, menambahkan bahwa kontribusi riset onkologi global saat ini masih sangat didominasi oleh negara besar seperti China dan Amerika Serikat. Di kawasan Asia Tenggara sendiri, Singapura menjadi salah satu negara dengan ekosistem riset dan uji klinis onkologi yang paling maju dan konsisten berkembang.
“Riset bukan soal kompetisi antarnegara. Namun faktanya, kontribusi kawasan ASEAN terhadap riset onkologi global masih relatif terbatas di luar beberapa negara tertentu seperti Singapura. Padahal Indonesia memiliki populasi yang besar dan beban kanker yang sangat tinggi, sehingga seharusnya juga dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan terapi kanker,” jelas dr. Edy.
Ia menambahkan bahwa hal inilah yang menjadi alasan mengapa Siloam Oncology Summit secara konsisten setiap tahun selalu mengangkat tema uji klinis. “Apalagi saat ini kita memasuki era personalized medicine, di mana setiap pasien memiliki karakteristik biologis dan genetik yang berbeda. Karena itu, pendekatan terapi kanker juga semakin individual dan tidak lagi sepenuhnya one size fits all. Banyak terapi kanker modern dikembangkan berdasarkan populasi penelitian yang mayoritas masih berasal dari negara Barat, sehingga penting untuk terus memperluas data dan penelitian pada populasi Asia, termasuk Indonesia,” jelas dr. Edy.
Riset sebagai sebuah ekosistem dan industri
Malaysia mulai dipandang sebagai salah satu pusat riset onkologi di Asia Tenggara, bukan hanya dari sisi layanan kesehatan, tetapi juga sebagai ekosistem industri yang melibatkan rumah sakit, pemerintah, universitas, perusahaan farmasi global, CRO (Contract Research Organization), hingga laboratorium biomolekuler.
Dr. Akhmal Yusof menjelaskan, pemerintah Malaysia membentuk Clinical Research Malaysia (CRM) sejak 2012 untuk menjadikan Malaysia sebagai destinasi global riset klinis berbasis industri (industry-sponsored research).
Hingga 2025–2026, lebih dari 2.800 sponsored clinical trials telah dilakukan di Malaysia melalui ekosistem CRM, dengan onkologi menjadi salah satu bidang terbesar. Pada 2024, Malaysia mencatat 239 sponsored clinical trials dengan kontribusi ekonomi lebih dari Rp1,48 triliun terhadap Gross National Income. Secara kumulatif sejak 2012, sektor ini menghasilkan hampir Rp6,7 triliun. Sekitar sepertiga penelitian tersebut berfokus pada kanker/onkologi.
Malaysia kini mulai masuk ke fase riset kanker yang lebih maju, termasuk First-in-Human (FIH) oncology trials, yaitu uji pertama pada manusia untuk obat kanker baru. Pada 2024, Malaysia menerima lima studi FIH baru, angka tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut.
Hal ini membuat riset onkologi di Malaysia tidak hanya menjadi aktivitas akademik, tetapi juga berkembang menjadi sektor ekonomi kesehatan berbasis inovasi dan teknologi medis, bahkan menghasilkan profesi baru berupa researcher yang memiliki penghasilan menjanjikan.
Indonesia pun tidak berdiam diri. INA-CRC atau Indonesia Clinical Research Center adalah inisiatif nasional yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan RI pada 2024 untuk membangun ekosistem riset klinis Indonesia agar lebih terintegrasi, kompetitif, dan siap menjadi pusat uji klinis di Asia.
Secara sederhana, Indonesia Clinical Research Community merupakan jaringan kolaboratif yang menghubungkan rumah sakit, universitas, peneliti, industri farmasi, regulator, laboratorium, hingga organisasi profesi, dalam satu sistem penelitian klinis nasional.
Dr. Edy menambahkan bahwa, manfaat yang akan dirasakan dengan riset berpusat di dalam negeri adalah peningkatan akses. “Ketika riset terhadap sebuah obat kanker dilakukan di luar negeri, maka akses terhadap obat tersebut lebih dahulu di sana, dan Indonesia belakangan. Oleh karena itu kita mendorong riset dilakukan di Indonesia, agar ketersediaan obat bisa lebih cepat dan secara cost pasti lebih murah.”
“Menurut data GLOBOCAN 2022, Indonesia mencatat lebih dari 408 ribu kasus kanker baru setiap tahun, dengan angka kematian kanker mencapai lebih dari 240 ribu kasus. Hal ini menunjukkan bahwa beban kanker di Indonesia masih sangat tinggi, dengan rasio mortalitas yang masih mendekati 60% dari jumlah kasus baru. Di sisi lain, jumlah dokter ahli di bidang onkologi di Indonesia masih sangat terbatas dibandingkan dengan besarnya kebutuhan pelayanan dan pengembangan riset kanker nasional. Sebagian besar waktu dokter saat ini masih terserap untuk pelayanan klinis sehari-hari, sehingga waktu untuk melakukan riset menjadi sangat terbatas. Di banyak negara maju, terdapat konsep protected research time, yaitu alokasi waktu khusus agar klinisi juga dapat fokus melakukan penelitian sebagai bagian dari pengembangan ilmu dan pelayanan”, tambah dr. Edy.
Selain sumber daya manusia, tantangan lain adalah kesiapan infrastruktur penelitian. “Uji klinis modern membutuhkan dukungan pemeriksaan diagnostik dan teknologi yang canggih. Belum semua fasilitas tersebut tersedia secara merata di Indonesia, sehingga proses riset sering kali menjadi lebih kompleks dan mahal,” tambah dr. Edy
INA-CRC mendorong rumah sakit untuk melakukan clinical research. Menurut dr. Edy, Siloam Hospitals Group sudah membangun Clinical Research Unit sejak 2021. “Itulah mengapa seiring berjalannya waktu, kami terus menambahkan teknologi baru, salah satunya untuk mendukung riset klinis. Harapannya, semakin banyak rumah sakit yang terlibat dalam uji klinis, maka akses masyarakat terhadap teknologi dan terapi inovatif juga akan semakin luas,” pungkas dr. Edy.
-
# Kanker
-
# Inspirasi kesehatan
-
# Rumah sakit