Ella Nurlaila
31 Maret 2026
Shutterstock

Gen Z dan Tekanan untuk Jadi “Ibu Sempurna"

Menjadi seorang ibu memang tidak pernah selalu mudah. Zaman boleh berganti, teknologi boleh makin canggih, namun setiap masa punya tantangan tersendiri. Inilah yang dihadapi oleh Generasi Z (Gen Z) yang lahir sekitar 1997 -2012 yang kini memasuki fase baru, menikah dan menjadi orang tua. 


Menjadi ibu di era sekarang bukan lagi sekadar menjalani peran alami dalam kehidupan. Bagi Gen Z, menjadi ibu berarti menghadapi kombinasi tekanan sosial, ekspektasi digital, dan tantangan hidup modern yang kompleks. 


Pernikahan di mata Gen Z 


Setiap generasi punya pandangan yang berbeda terhadap pernikahan. Begitu juga oleh Gen Z, baginya pernikahan adalah sesuatu yang mesti dipersiapkan dengan sangat matang dan detail. Itulah sebabnya generasi yang native technology ini cenderung menunda pernikahan, memprioritaskan kestabilan mental dan finansial, hingga berusaha keras mencari hubungan yang sehat dan setara. 


Artinya, bagi Gen Z pernikahan bukan lagi kewajiban sosial, melainkan pilihan sadar. Itulah sebabnya ketika menikah dan Gen Z jadi ibu, mereka harus melakukan semuanya dengan benar, sesuai standar ideal. Mereka tidak ingin gagal dalam peran yang sudah dipertimbangkan dengan sangat matang ini. 


Dampaknya, standar yang Gen Z tetapkan untuk dirinya sendiri justru menjadi lebih tinggi dari generasi sebelumnya yang tampak lebih realistis dan natural dalam menjalani pernikahan dan melakoni perannya sebagai ibu. 


Penelitian terbaru dalam Journal of Child and Family Studies (2024) menemukan bahwa tekanan sosial untuk menjadi orang tua sempurna berkaitan dengan meningkatnya pola asuh overprotective, namun tidak meningkatkan kualitas responsivitas orang tua. Studi ini juga menunjukkan bahwa ibu mengalami tekanan yang lebih tinggi dibanding ayah, menegaskan kuatnya ekspektasi sosial terhadap peran ibu dalam pengasuhan.


Tantangan Gen Z jadi ibu 


Ketika Gen Z jadi ibu, faktanya tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Mereka dihadapkan pad ekspektasi yang tinggi dan tekanan untuk menjadi ibu yang sempurna. Fenomena ini dikenal sebagai perfect motherhood sebuah ekspektasi bahwa Gen Z jadi ibu harus mampu menjalankan semua peran dengan sempurna. 


Semakin hari tekanan ini terus meningkat. Uniknya, bukan hanya tuntutan menjadi sempurna yang disematkan pada Gen Z saat ini, melainkan secara individu Gen Z sendiri juga menetapkan lebih banyak standar ideal saat menjadi ibu bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya. 


Tentu saja tekanan ini tidak muncul begitu saja. Melainkan hadir dari budaya konsep ekspektasi bahwa seorang ibu harus selalu hadir secara emosional, mengorbankan diri dengan melakukan berbagai tugas pada saat yang bersamaan terutama pada ibu bekerja, dan memberikan pengasuhan terbaik saat ini. 


Untuk menjawab tekanan jadi ibu sempurna bagi Gen Z, berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan. Namun ingat ya Mums, ini bukan soal menjadi sempurna sebab tidak ada yang sempurna dalam peran menjadi ibu, yang ada hanya memastikan anak-anak mendapatkan perhatian dan ibu “hadir” dalam kehidupannya. 


1. Validasi dan landasan

Ibu-ibu Gen Z perlu mendengar apa yang benar bukan apa yang viral. Dapatkan informasi seputar parenting dari pakar dan sumber terpercaya. Validasi adalah kunci agar Mums tidak terbawa arus yang menyesatkan. Pahami bahwa saat ini Mums sedang belajar menjadi ibu, anak sedang belajar tumbuh. Jadi, belajar dan bertumbuh bersama anak berlandaskan ilmu parenting dari pakar dan sumber kredibel. 


2. Ciptakan rutinitas sederhana 

Karena sebagian besar kehidupan masih dalam tahap penyesuaian, rutinitas tidak perlu rumit. Bahkan kebiasaan mikro pun menciptakan kestabilan emosional yang nyata. Cobalah, 5 menit untuk menenangkan diri: peregangan atau latihan pernapasan singkat. Buat jadwal tidur siang dan jadwal makan yang teratur untuk si Kecil. Dari rutinitas kecil dan sederhana ini, semua akan terbiasa dengan keteraturan. 


3. Membangun komunitas dan identitas

Jaringan dukungan yang lebih kecil adalah salah satu hambatan kepercayaan diri terbesar bagi ibu-ibu Gen Z. Bahkan satu koneksi pun dapat mengubah lanskap emosional. Dukungan dari sesama meningkatkan suasana hati, kepercayaan diri, dan ketahanan ibu. Bahkan satu teman atau kelompok yang dipercaya dapat mengurangi beban yang dirasakan.


4. Dukungan kesehatan mental

Bagi Gen Z yang mengagung-agungkan mental health, dukungan kesehatan mental adalah sebuah kebutuhan. Ibu-ibu Gen Z lebih cenderung mengalami kecemasan dan stres finansial. Pastikan Mums puny acara efektif untuk mengatasi hal ini. Misalnya dengan rutin konsultasi ke professional atau menggunakan aplikasi tertentu yang membantu mengelola stres dengan baik. 


Ibu-ibu Gen Z mengubah wajah parenting 


Tekanan pada Gen Z untuk menjadi ibu yang sempurna yang cukup besar, melahirkan pandangan yang membandingkannya dengan generasi sebelumnya. Dulu seorang ibu diharapkan merawat anak dengan baik sudah dianggap cukup, sekarang ibu juga diharapkan untuk memahami perkembangan anak secara detail, mengikuti metode parenting terbaru, menjaga keseimbangan sosial dan emosional anak, juga tetap produktif secara pribadi. Hasilnya saat ini standar parenting menjadi hampir mustahil untuk dipenuhi sepenuhnya.


Padahal kendala yang dihadapi para ibu Gen Z saat ini pun tidak kaleng-kaleng. Gempuran gadget, paparan media sosial, disrupsi yang besar, distraksi yang tiada henti, hingga ritme kehidupan yang bergerak cepat. Semua itu membuat langkah sebagian ibu Gen Z menjadi sempurna semakin berat bahkan bikin frustrasi.


Namun di sisi lain, harus diakui bahwa kehadiran Gen Z jadi ibu saat ini membawa perubahan besar dalam dunia parenting, di antaranya ibu-ibu Gen Z lebih sadar dalam memilih pernikahan, memiliki standar parenting yang tinggi, menghadapi tekanan besar dari media sosial, namun lebih rentan mengalami mom guilt dan burnout.


Itu sebabnya ibu-ibu Gen Z mulai menyadari bahwa kesempurnaan itu bukan lagi target yang harus dikejar. Kini, ibu-ibu Gen Z lebih sadar diri, lebih terbuka tentang kesehatan mental, dan mulai meninggalkan perfeksionisme


Mums, menjadi ibu bagi generasi Z tidak hanya tentang mengasuh anak, tetapi juga menghadapi tekanan sosial, ekonomi, dan digital yang kompleks. Karena pada akhirnya tidak ada ibu yang sempurna. Yang dibutuhkan anak dan keluarga bukanlah sebuah kesempurnaan, melainkan kehadiran, kasih sayang, dan hubungan yang sehat. 



Referensi :

Journal of Child and Family Studies. 2024. Parenting Undre Pressure: Associations between Perceived Social Pressure and Parental Involvement among Mothers and Fathers

  • # generasi z
  • # Parents Life