Peran Perempuan dalam Kesehatan dan Perlindungan dari Kekerasan
Menjadi perempuan di Indonesia banyak tantangannya. meskipun saat ini peran perempuan sudah sangat meningkat, terbukti dengan semakin banyak perempuan yang duduk di kepemipinan, namun pekerjaan rumah masih banyak untuk menjadikan perempuan di Indonesia lebih berdaya. Kematian ibu yang masih tinggi hingga kekerasan pada perempuan masih banyak ditemui di Indonesia.
Dalam rangka Hari Perempuan Internasional 2026, Farid Nila Moeloek (FNM) Society bersama Takeda menyelenggarakan Forum Perempuan yang menyatukan pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil untuk memperkuat kepemimpinan perempuan dalam mendorong kesehatan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan. Forum Perempuan bertajuk “Rights. Justice. Action. Dari Hak Menuju Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan” ini berlangsung 10 Maret 2026.
Peran Perempun untuk Kesehatan Keluarga
Arifah Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia untuk memastikan perempuan dan anak perempuan memperoleh perlindungan dan kesempatan berpartisipasi secara setara dalam pembangunan nasional.
“Kemajuan perempuan harus dimulai dari pemenuhan hak-hak dasar, dilanjutkan dengan penegakan keadilan, dan diwujudkan melalui aksi nyata dalam kebijakan dan program pembangunan berkelanjutan. Salah satu prinsip penting dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan adalah kesetaraan gender. Artinya, perempuan dan laki-laki memiliki hak, kesempatan, akses, partisipasi, serta kontrol yang setara terhadap sumber daya dan manfaat pembangunan," jelasnya.
Berbagai studi menunjukkan pemberdayaan perempuan berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan ibu dan anak, memperkuat ketahanan keluarga, serta meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat.
Pendiri dan Ketua FNM Society sekaligus Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, Sp.M(K), menekankan bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat program kesehatan, melainkan penggerak perubahan.
dr. Lovely Daisy, MKM, Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga, Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Kementerian Kesehatan RI, menambahkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong praktik hidup sehat di tingkat keluarga dan komunitas, mulai dari kesehatan ibu dan anak hingga kesehatan reproduksi.
"Oleh karena itu, sistem kesehatan perlu memastikan bahwa perempuan memiliki akses terhadap informasi, layanan kesehatan yang berkualitas, serta perlindungan terhadap hak-hak kesehatan reproduksi mereka. Dengan dukungan sistem kesehatan yang kuat dan partisipasi aktif masyarakat, kita dapat mempercepat upaya pencegahan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan generasi mendatang. Untuk itu, kami mengajak pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen komunitas untuk bersama-sama memperkuat upaya promotif dan preventif serta memastikan layanan kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan perempuan di setiap tingkat pelayanan,” ujar dr. Lovely Daisy.
Perlindungan dan Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan
Sementara itu, Verania Andria, Assistant Representative, United Nations Population Fund (UNFPA) Indonesia, menyoroti pentingnya perlindungan perempuan dari kekerasan sebagai bagian dari kesehatan masyarakat yang komprehensif.
"UNFPA sendiri memiliki program Perempuan Indonesia Hidup Tanpa Kekerasan (PIHAK) sebagai upaya memperkuat sistem penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan (KTP/AP) melalui peningkatan kapasitas layanan lini depan, penguatan koordinasi antar lembaga, serta kampanye kesadaran publik,” kata Verania.
Program ini dilaksanakan secara nasional dan beberapa wilayah prioritas seperti Brebes, Garut, Lombok Timur, dan Serang untuk mendorong penanganan KTP/AP yang lebih terstandarisasi, sehingga penyintas dapat memperoleh layanan yang lebih terpadu, responsif, dan melindungi hak-hak mereka.
"Melalui kemitraan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Sosial, Komnas Perempuan, Yayasan Pulih, serta komunitas, kami berharap PIHAK dapat memberi dampak yang sistemik berkelanjutan,” imbuh Verania.
Forum Perempuan ini menghadirkan lebih dari 500 peserta secara luring dan daring, serta melibatkan perwakilan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, dan lembaga internasional. Melalui forum ini, FNM Society dan Takeda berharap kolaborasi yang terbangun dapat memperkuat peran perempuan sebagai penggerak utama dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan bagi keluarga serta generasi mendatang.
“Hak dan keadilan bagi perempuan tidak boleh berhenti pada komitmen atau wacana. Hak dan keadilan harus hidup dalam tindakan nyata, di keluarga, di komunitas, dan dalam setiap kebijakan publik. Ketika perempuan diberdayakan untuk memimpin, kita tidak hanya melindungi satu individu, tetapi kita sedang membangun fondasi masyarakat yang lebih sehat, lebih adil, dan lebih berkelanjutan untuk generasi mendatang. Mari kita bersama-sama memastikan bahwa setiap perempuan memiliki ruang, kesempatan, dan dukungan untuk berperan sebagai penggerak perubahan” tutup Prof. Nila.
-
# Wanita
-
# Inspirasi kesehatan