Kenapa Pasangan Sering Marah? Ini Penyebab dan Cara Menyikapinya
Menghadapi pasangan yang sering marah membutuhkan ketenangan tingkat tinggi. Kalau keduanya punya batas kesabaran pendek, bencana yang akan terjadi.
Oleh karena itu, penting untuk mengetahui mengapa seseorang punya sumbu pendek alias mudah meledak dan marah. Beberapa penyebabnya antara lain karena cara didik atau pola asuh saat ia kecil, karena anak akan mempelajari apa yang ia lihat dari orang tuanya. Selain itu, ada faktor kepribadian yang bersangkutan, alias memang sudah bawaan dari lahir.
Nah, yang penting adalah menghadapi pasangan yang sering marah. Apakah harus tetap tenang? Atau kita lawan dengan cara khusus? Simak artikel lengkapnya ya biar Mums atau Dads punya strategi menghadapi pasangan yang suka marah-marah!
Apakah Marah itu Normal?
Penelitian yang dipublikasikan di PubMed (2017) menyatakan bahwa kemarahan adalah reaksi normal terhadap kehilangan, ancaman, atau trauma. Kemarahan adalah respons manusia yang normal ketika kesejahteraannya terancam.
Kita semua merasakan kemarahan ketika merasa dikhianati dan tidak mampu mengungkapkan rasa sakit yang kita rasakan. Kemarahan terdiri dari perasaan, pikiran, dan reaksi fisiologis, termasuk pelepasan adrenalin dan kortisol untuk mempersiapkan tindakan.
Terkadang kemarahan dibenarkan dalam situasi yang tidak adil di mana energi yang diberikan oleh kemarahan dibutuhkan untuk meninggalkan situasi buruk. Kemarahan dapat digunakan untuk melindungi diri sendiri ketika ada ancaman dan teror, serta respons yang dibenarkan saat menghadapi ketidakadilan.
Meskipun amarah kadang tidak selalu dapat dikendalikan, namun pikiran dan perilaku dapat dimodifikasi dan diungkapkan dengan cara yang lebih dapat diterima. Sama seperti bahasa cinta, pasangan juga mengungkapkan bahasa marah dengan caranya masing-masing.
Kemarahan sebagai Kebiasaan Buruk
Meski tidak semua kemarahan adalah buruk, ada juga kemarahan yang memang sudah menjadi kebiasaan buruk. Umumnya, orang pemarah ini tidak mampu mengatasi perasaan frustrasi karena hal-hal tidak berjalan seperti yang diinginkan.
Bagaimana jika orang yang suka marah itu adalah pasangan kita? Menurut penelitian dari Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry (2016) dua puluh persen orang memiliki kepribadian yang mudah marah. Jika Mums termasuk salah seorang yang punya pasangan sering marah, waspada ya karena kehidupan Mums dapat terpengaruh.
Saat ini bisa jadi nasi sudah menjadi bubur. Idealnya, sebelum menikah, wanita (ataupun pria) sebaiknya cari tahu bagaimana calon pasangan saat mengekspresikan kemarahan sebelum terlibat secara emosional, menikah, bahkan memiliki anak dengannya.
Hidup bersama orang yang terbiasa marah atau punya masalah mengelola kemarahan, akan bisa membuat hidup kita berubah drastis. Namun, harus keselamatan adalah yang utama. Jika kemarahan pasangan sudah bersifat agresif, saatnya bersikap tegas dan memprioritaskan keamanan.
Apakah Sifat Sering Marah Diturunkan?
Studi Child and Family Service (2025) menunjukkan bahwa agresi adalah perilaku yang dipelajari, bukan diturunkan. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan tingkat kekerasan di atas rata-rata berisiko lebih besar untuk bersikap agresif secara fisik terhadap pasangan mereka.
Marah mungkin tidak selalu diikuti tindakan agresi. Namun, polanya hampir sama dengan kekerasan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Hukuman fisik orang tua terhadap remaja telah dikaitkan dengan kekerasan dalam hubungan di kemudian hari.
Jadi buat Mums dan Dads, tahan amarah saat mendisiplinkan anak-anak. Lebih baik tekankan interaksi positif untuk menghambat perilaku negatif sekaligus meningkatkan keterampilan dalam manajemen konflik.
Kemarahan juga menular dan menyebabkan berbagai efek buruk di keluarga. Energi kemarahan yang memanjakan diri sendiri menular seperti virus yang berbahaya. Hal itu dapat menginfeksi keluarga Mums melalui satu anggota dan menular ke anggota lainnya.
Anak-anak dari keluarga yang sering marah paling sering mengalami kecemasan, frustrasi, dan kegelisahan yang memengaruhi cara mereka memandang kehidupan.
Bagaimana Bersikap pada Pasangan yang Sering Marah?
Sangat sulit ketika seseorang yang Mums sayangi mengalami masalah dengan amarah. Terutama jika mereka terkadang mengarahkan kemarahan Mums, anak-anak dan orang-orang terdekat mereka, atau diri mereka sendiri.
Jangan putus asa, masih banyak hal yang dapat Mums lakukan untuk membantu mendukung mereka:
1. Tetap tenang
Meskipun Mums mungkin memendam kesedihan dan kesulitan sendirian, Mums harus dapat tetap tenang dan hindari bertengkar di depan anak. Cobalah untuk mendengarkan apa kata pasangan. Jika memungkinkan, beri mereka waktu untuk mengkomunikasikan perasaan mereka tanpa menghakimi mereka.
Seringkali ketika seseorang merasa didengarkan, mereka lebih mampu mendengar sudut pandang orang lain juga. Dan terkadang hanya dengan diberi izin untuk mengkomunikasikan perasaan marah sudah cukup untuk membantu seseorang menenangkan diri.
2. Beri ruang
Jika Mums menyadari bahwa menjawab kemarahan pasangan malah memperburuk keadaan, beri mereka ruang untuk menenangkan diri dan berpikir. Ini bisa berupa pergi ke ruangan lain untuk sementara waktu, atau menghabiskan beberapa hari terpisah.
Penting juga untuk memberi diri Mums sendiri ruang, agar tidak terlalu mudah marah.
3. Tetapkan batasan
Meskipun ada banyak alasan mengapa ini bisa sulit, penting untuk menetapkan batasan. Jelaskan terlebih dahulu tentang perilaku seperti apa yang dapat dan tidak dapat Mums terima.
Lalu pikirkan tindakan apa yang dapat Mumsambil jika seseorang pasangan Mums yang marah sudah melanggar batasan. Misalnya memukul atau main tangan. Mums tidak harus mentolerir perilaku apa pun yang membuat Mums merasa tidak aman atau sangat memengaruhi kesejahteraan Mums sendiri.
4. Bantu mengidentifikasi pemicu
Ini adalah sesuatu yang dapat Mums coba ketika kalian berdua sedang merasa tenang, jauh dari situasi yang memanas. Mengidentifikasi pemicu kemarahan pasangan dapat membantu Mums dan suami memikirkan cara-cara untuk menghindari situasi yang memicu kemarahan. Mums dan Dads dapat merencanakan cara menanganinya dan cara berkomunikasi ketika hal itu terjadi. Tetapi cobalah untuk tidak menghakimi, atau menuduh.
5. Cari bantuan profesional
Sebagai contoh, Mums dapat membantu mereka mengatur janji temu dengan dokter umum, psikolog atau membantu mencari pelatihan manajemen amarah. Marah merupakan bagian dari emosi manusia. Tetapi marah yang terus menerus menjadi tanda ada masalah pada seseorang. Jika Mums memiliki pasangan yang sering marah, coba lakukan analisa penyebabnya. Jika sudah mengganggu bahkan mengancam hubungan pernikahan, sebaiknya minta bantuan profesional.
Referensi
1. PubMed. 2017. Anger as a Basic Emotion and Its Role in Personality Building and Pathological Growth: The Neuroscientific, Developmental and Clinical Perspectives
Gwent Child and Family Service.
2. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry. 2016. The Status of Irritability in Psychiatry: A Conceptual and Quantitative Review
3. A psychological guide for families: Anger in Childhood. Child and family psychology and therapies service. Retrieved January 17, 2025
-
# Hubungan
-
# Pernikahan
-
# Hubungan sehat