Ana Yuliastanti
09 Oktober 2026
Shutterstock

Bipolar Pascapersalinan: Gejala yang Perlu Diwaspadai setelah Melahirkan

  • Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang menyebabkan perubahan energi, tingkat aktivitas, dan suasana hati yang tidak biasa.

  • Perubahan suasana hati setelah melahirkan memang dapat terjadi. Namun, perubahan mood yang sangat ekstrem, berlangsung terus-menerus, atau disertai perubahan energi dan perilaku yang tidak biasa perlu diperhatikan.

  • Gangguan bipolar pascapersalinan memiliki gejala utama yang sama terkait suasana hati dan energi seperti jenis gangguan bipolar lainnya.

  • Selain membawa ke dokter, peran pasangan dan keluarga sangat dibutuhkan untuk ibu dengan gangguan bipolar pascamelahirkan dapat membantu dengan memperhatikan perubahan perilaku yang tidak biasa.

  • Bipolar saja sudah sangat mengganggu, apalagi bila seorang ibu mengalami bipolar pascapersalinan. Kondisinya tentu akan semakin memburuk, karena terjadi di masa recovery atau pemulihan setelah melahirkan. 


    Di sinilah support system sangat berperan untuk mendampingi ibu dengan bipolar pascapersalinan. Pastikan mendapatkan psikoterapi yang tepat dan dukungan untuk menjalani gaya hidup sehat selama masa pemulihan. 


    Perubahan suasana hati setelah melahirkan memang dapat terjadi. Namun, perubahan mood yang sangat ekstrem, berlangsung terus-menerus, atau disertai perubahan energi dan perilaku yang tidak biasa perlu diperhatikan.


    Kenali Gejala Gangguan Bipolar Pascapersalinan 


    Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang menyebabkan perubahan energi, tingkat aktivitas, dan suasana hati yang tidak biasa. Nah, jika ganguan ini terjadi selama masa pemulihan setelah melahirkan, itulah yang dikenal sebagai gangguan bipolar pascamelahirkan. 


    Menurut Journal of Affective Disorders (2026) periode setelah melahirkan merupakan masa dengan risiko tinggi kekambuhan bipolar. Gejala tidak selalu muncul pada hari-hari pertama, sehingga pemantauan kesehatan mental perlu dilanjutkan selama bulan-bulan setelah persalinan, terutama pada ibu dengan riwayat bipolar sebelumnya.


    Sementara itu konsensus internasional dalam American Journal of Psychiatry (2025) menyebutkan bahwa sebagian besar perempuan dengan psikosis pascapersalinan mengalami gejala mood berat. Gejalanya dapat berupa mania, episode campuran, atau depresi dengan gejala psikotik. Terdapat hubungan biologis dan genetik yang kuat dengan spektrum bipolar. 


    Pada sebagian perempuan, episode postpartum dapat menjadi episode bipolar pertama yang dikenali. Hal ini mendukung pentingnya membedakan baby blues maupun depresi pascapersalinan m dari gejala mania atau psikosis.


    Gangguan bipolar pascapersalinan memiliki gejala utama yang sama terkait suasana hati dan energi seperti jenis gangguan bipolar lainnya.


    Berikut ini beberapa gejala gangguan bipolar pascapersalinan yang terbagi dalam dua kategori : 


    1. Gejala episode manik

    Gejala episode manik meliputi : 

    • Berkurangnya kebutuhan tidur

  • Kegelisahan atau peningkatan tingkat aktivitas

  • Ucapan atau berbicara dengan cepat

  • Cepat berubah pikiran, bahkan sangat bertolak belakang 

  • Bertindak impulsive

  • Meningkatkan tindakan atau sikap yang berisiko 

  • Agitasi atau mudah tersinggung

  • Perasaan euforia atau mementingkan diri sendiri

  • Cenderung menikmati aktivitas yang menyenangkan


  • 2. Gejala episode depresi


    Sedangkan gejala episode depresi di antaranya:

    • Perasaan sedih atau putus asa yang intens

  • Rasa bersalah yang tidak pantas

  • Kehilangan minat pada hampir semua aktivitas yang memotivasi diri sendiri

  • Mengalami gangguan tidur

  • Perubahan nafsu makan

  • Energi rendah atau kelelahan

  • Kurangnya atau kesulitan konsentrasi

  • Memperlambat bicara atau gerakan

  • Muncul ide bunuh diri


  • Tingginya Tingkat Kekambuhan Bipolar Pascamelahirkan


    Salah satu faktor risiko munculnya gangguan bipolar pascamelahirkan adalah memiliki riwayat bipolar sebelumnya. Karena itu, kabar buruknya dari gangguan bipolar pascamelahirkan ini memiliki tingkat kekambuhan yang sangat tinggi pada masa nifas. 


    Bahkan saking jelasnya risiko kekambuhan bipolar pascamelahirkan ini, sering disebut sebagai 'penipu depresi pascapersalinan', karena sebagian besar gejalanya muncul terlebih dahulu dengan gejala depresi, bukan mania atau hipomania.


    Sebuah tinjauan penelitian yang dimuat dalam Journal of Clinical Medicine (2022) menyebutkan bahwa risiko keseluruhan kambuhnya gangguan bipolar pascapersalinan sebesar 36,77% di antara wanita yang sebelumnya pernah memiliki riwayat diagnosis gangguan bipolar tersebut. 


    Hal serupa juga diteliti dalam studi lain yang diterbitkan dalam jurnal International Journal of Bipolar Disorders (2023) yang mengukur kekambuhan (relapse) gangguan bipolar secara umum berdasarkan kriteria spesifik, yaitu pasien yang sampai membutuhkan rawat inap di rumah sakit atau dirujuk ke layanan krisis kesehatan mental akut sebanyak 25,5% mencerminkan tingkat kekambuhan tingkat parah/kritis. 


    Riset ini menemukan bahwa jumlah kekambuhan secara signifikan lebih tinggi pada penderita yang memiliki riwayat trauma, gejala psikotik, komorbiditas penyakit lain, serta riwayat melukai diri sendiri (self-harm) atau kecenderungan bunuh diri.


    Hal ini semakin menegaskan bahwa wanita yang sebelumnya memiliki diagnosis gangguan bipolar memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kejadian serupa pascamelahirkan. 


    Penyebab dan Faktor Risiko Gangguan Bipolar Pascamelahirkan 


    Sama seperti gangguan kesehatan mental pascamelahirkan lainnya, penyebab pasti gangguan bipolar pascamelahirkan pun belum sepenuhnya dipahami. Namun demikian, kehamilan bukanlah satu-satunya penyebab munculnya berbagai gangguan kesehatan mental, termasuk gangguan bipolar pascamelahirkan. 


    Dalam hal ini para ahli meyakini bahwa perubahan fungsi dan struktur otak, faktor genetik, serta faktor lingkungan diperkirakan berperan dalam perkembangan gangguan bipolar pascamelahirkan yang dialami oleh seseorang.


    Artinya kehamilan itu sendiri tidak menyebabkan gangguan bipolar. Namun, kehamilan dan masa pascamelahirkan dapat memicu munculnya atau kambuhnya gejala bipolar pada mereka yang memiliki kerentanan terhadap gangguan ini. 


    Berikut ini beberapa faktor risiko yang memicu terjadinya gangguan bipolar pascamelahirkan : 


    1. Perubahan hormon 

    Terjadinya lonjakan perubahan hormon baik selama kehamilan maupun pascamelahirkan diyakini ikut andil dalam memicu risiko terjadinya gangguan bipolar pascamelahirkan. Termasuk gangguan kesehatan mental lainnya. Karena hormon memengaruhi suasana hati dan sensitivitas seseorang. 


    2. Gangguan tidur 

    Kelelahan dan kondisi kehamilan yang semakin membesar membuat bumil tidak nyaman, gelisah, sehingga memicu ganggun tidur. Begitu juga setelah melahirkan dan harus menyusui eksklusif, kecukupan tidur jadi tantangan tersendiri. Di sinilah gangguan tidur sering kali berdampak pada kondisi kesehatan mental ibu pascamelahirkan yang memicu terjadinya gangguan bipolar pascamelahirkan. 


    3. Stress 

    Sama seperti gangguan tidur, kondisi stres karena tuntutan sebagai ibu yang baru melahirkan, merawat bayi, memulihkan diri sendiri, termasuk beban pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab lainnya, jadi stressor yang jika tidak mampu dikelola akan berdampak buruk pada kondisi mental. 


    4. Genetik 

    Harus diakui faktor genetik ikut berperan dalam masalah gangguan kesehatan metal. Mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kesehatan mental, cenderung berisiiko mengalami hal yang sama. 


    5. Kurangnya dukungan 

    Kondisi yang kompleks pascamelahirkan tidak mungkin dapat dilewati oleh ibu seorang diri. Di sinilah dukungan dari pasangan, keluarga, dan orang terdekat sangat dibutuhkan untuk berbagi peran dan beban. Sehingga setelah melahirkan ibu dapat fokus mengurus bayi dan memulihkan diri sendiri. 


    6. Tekanan lingkungan 

    Tidak hanya faktor internal, faktor eksternal juga ikut andil dalam memicu terjadinya gangguan bipolar pascamelahirkan. Lingkungan yang tidak mendukung, support system yang tidak berfungsi bahkan tidak ada, akan menambah beban mental ibu pascamelahirkan. Belum lagi tuntutan lingkungan yang sering kali membandingkan antara ibu dengan ibu lainnya, maupun bayi yang satu dengan bayi lainnya, jelas jadi tekanan tersendiri. Padahal setiap orang memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. 


    Kapan harus cek ke dokter?


    Cari pertolongan darurat segera jika ibu setelah melahirkan mengalami salah satu atau lebih dari kondisi berikut ini : 

    • Tidak tidur tetapi tetap sangat berenergi

  • Sangat bingung atau kehilangan kontak dengan kenyataan

  • Mendengar atau melihat sesuatu yang tidak ada

  • Memiliki keyakinan yang tidak sesuai kenyataan

  • Sangat gelisah atau agresif

  • Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi


  • Jangan biarkan ibu menghadapi kondisi tersebut sendirian. Segera cari bantuan medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Sebab gangguan bipolar pascapersalinan tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Mutlak perlu penanganan medis. 


    Selain membawa ke dokter, peran pasangan dan keluarga sangat dibutuhkan untuk ibu dengan gangguan bipolar pascamelahirkan dapat membantu dengan memperhatikan perubahan perilaku yang tidak biasa.


    Berikut ini beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan terhadap ibu dengan gangguan bipolar pascamelahirkan :  

    • Membantu ibu mendapatkan waktu tidur

  • Memastikan ibu tidak sendirian ketika kondisinya memburuk

  • Mendengarkan tanpa menghakimi

  • Membantu membuat janji dengan tenaga kesehatan

  • Mengingatkan penggunaan obat sesuai resep

  • Segera mencari bantuan jika muncul tanda bahaya

  • Jangan menganggap perubahan ekstrem sebagai sekadar “hormon setelah melahirkan” segera ambil tindakan konkret dengan cara membawa ke dokter terdekat.


  • Pengobatan Gangguan Bipolar Pasacamelahirkan 


    Karena kompleksnya gangguan kesehatan mental yang satu ini, maka pengobatan gangguan bipolar pascamelahirkan melibatkan berbagai kombinasi terapi yang diperlukan. Mulai dari psikoterapi, penggunaan obat-obatan, dan strategi gaya hidup yang mendukung kesejahteraan secara menyeluruh bagi pasien. 


    Segera hubungi dokter, psikiater, atau layanan kesehatan jika perubahan perilaku ibu terlihat sangat berbeda dari biasanya, terutama jika berlangsung beberapa hari atau semakin memburuk.


    Lebih detailnya, berikut ini beberapa bentuk terapi yang dibutuhkan untuk mengobati gangguan bipolar pascapersalinan : 


    1. Psikoterapi 

    Dikenal sebagai terapi bicara, psikoterapi menggunakan berbagai pendekatan untuk membantu pasien dengan gangguan bipolar pascamelahirkan untuk mengenali dan mengubah pola pikir yang tidak membantu, sekaligus membangun strategi penanggulangan (coping) yang bermanfaat. 


    Dalam hal ini, terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy) dan terapi interpersonal adalah dua pendekatan psikoterapi yang umum digunakan untuk gangguan bipolar.


    2. Obat-obatan 

    Untuk mencapai keberhasilan terapi terkadang dibutuhkan obat-obatan yang mendukung seperti obat penenang suasana hati (mood stabilizer) atau antipsikotik yang dapat membantu meredakan gejala terkait mania dan depresi. Meskipun dalam hal ini diperlukan pertimbangan khusus ketika gangguan bipolar terjadi pada masa pascamelahirkan.


    Yang perlu diingat bahwa menambahkan bahwa obat-obatan untuk gangguan bipolar pascamelahirkan juga mesti mempertimbangkan kondisi ibu, termasuk apakah sedang menyusui atau tidak.


    3. Pengaturan tidur dan dukungan keluarga

    Hal ini juga tidak kalah penting dari tatalaksana gangguan bipolar pascamelahirkan. Kebutuhan tidur yang cukup diharapkan membantu proses pemulihan lebih cepat. Sementara itu dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk membantu pasien agar lebih fokus pada proses pengobatan dan mengambil alih tanggung jawab atau tugasnya dalam merawat bayi baru lahir maupun pekerjaan domestik lainnya. 


    4. Rawat inap 

    Bila bila kondisi kondisi pasien cukup berat atau terdapat risiko terhadap keselamatan dirinya maupun orang lain, maka rawat inap menjadi pilihan dukungan terapi yang dibutuhkan. Agar proses pengobatan bisa berjalan maksimal dan meminimalkan risiko atau dampak buruk yang mungkin terjadi. 


    Bipolar Pascamelahirkan, Gangguan Mental Rentan Kambuh  


    Mums, bipolar pascamelahirkan bukan sekadar mood yang mudah berubah. Kondisi ini merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai episode perubahan suasana hati, energi, aktivitas, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.


    Bipolar pascapersalinan merujuk pada episode gangguan bipolar yang muncul atau mengalami kekambuhan pada periode setelah melahirkan. Sebab masa postpartum atau pascamelahirkan merupakan periode yang sangat rentan bagi perempuan dengan riwayat bipolar. 

    Namun, persalinan juga dapat menjadi titik awal munculnya episode bipolar pada sebagian perempuan yang sebelumnya belum pernah mendapatkan diagnosis tersebut.


    Harus dipahami bahwa gangguan bipolar adalah kondisi kronis seumur hidup, terlepas dari kapan gejala pertama kali muncul. Namun, dengan pengobatan dan strategi pengelolaan yang efektif, seorang ibu yang mengalami gangguan bipolar pascamelahirkan dapat mengalami masa remisi—yaitu periode selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun di mana yang bersangkutan bebas dari gejala sepenuhnya atau sebagian.


    Secara keseluruhan, gangguan bipolar dianggap sebagai kondisi yang sangat rentan kambuh, meskipun perkiraan tingkat kekambuhannya sangat bervariasi.


    Bipolar pascapersalinan bukanlah sebuah kesalahan ibu dan bukan tanda bahwa seseorang gagal menjadi orang tua. Yang paling penting adalah mengenali perubahan mood dan perilaku sejak dini. Semakin cepat kondisi dinilai oleh tenaga profesional, semakin cepat pula ibu dengan gangguan bipolar pascapersalinan dapat memperoleh penanganan yang sesuai.


    Perubahan mood setelah melahirkan memang umum. Tetapi jika perubahan tersebut ekstrem, mengganggu fungsi sehari-hari, atau disertai kehilangan kontak dengan kenyataan, jangan menunggu sampai kondisi menjadi lebih berat. Segera cari bantuan professional untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 


    Referensi : 

    1. Journal of Affective Disorder. 2026. State-of-the-art treatment of postpartum bipolar disorder.

    2. American Journal of Psychiatry. 2025. Postpartum Psychosis and Bipolar Disorder: Review of Neurobiology and Expert Consensus Statement on Classification. 

    3. Journal of Clinical Medicine. 2022. Postpartu Relapse in Patients with Bipolar Disorder.

    4. International Journal of Bipolar Disorders. 2023. Rates and associations of relapse over 5 years of 2649 people with bipolar disorder: a retrospective UK cohort study

    • # Bipolar
    • # Gangguan Bipolar
    • # Kehamilan