Ella Nurlaila
07 September 2025
Shutterstock

Bahaya Silent Treatment dalam Pernikahan dan Cara Menghadapinya

Sikap diam atau mendiamkan pasangan dalam hubungan disebut silent treatment. Ini adalah salah satu hal tidak menyenangkan yang sering terjadi pada kehidupan pernikahan. Pelaku, baik istri maupun suami yang melakukan aksi diam, umumnya begitu marah, kecewa, dan  merasa tidak punya cara lain untuk memberi tahu pasangan. Sikap diam dijadikan cara “menghukum” pasangan. 


Meskipun tidak sedahsyat kekerasan dalam rumah tangga, namun dampak silent treatment ini sama berbahayanya dan bisa mengancam pernikahan. Ini adalah termasuk kekerasan emosional yang menguras energi dan mental bagi pihak yang terdampak.


Suami adalah pihak yang lebih sering melakukan aksi silent treatment. Biasanya dengan alasan "Apa gunanya bicara? Buat apa dibicarakan toh tidak ada yang berhasil," sehingga ia berhenti berusaha. 


Ada juga suami yang menutup diri untuk menghukum pasangan mereka. Mereka merasa pasangan mereka tidak pantas mendapatkan perhatian mereka pada saat itu. Sikap diam ini berujung pada kebuntuan. 

Silent Treatment: Ungkapan Emosi Marah

Menurut Jurnal Penelitian Psikologi (2025) emosi marah sering muncul sebagai respons terhadap situasi atau peristiwa yang dianggap mengancam atau tidak menyenangkan, yang diungkapkan melalui respon aktif maupun pasif. Salah satu bentuk ungkapan emosi marah yang sering digunakan adalah silent treatment atau perlakuan diam, yang dianggap sebagai ekspresi pasif karena melibatkan penghindaran interaksi dan komunikasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa silent treatment digunakan sebagai bentuk dari ungkapan emosi marah. Perilaku ini dapat memiliki dampak psikologis yang signifikan, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan emosional lainnya.

Dalam penelitian ini, peneliti mencoba menganalisis perilaku silent treatment dalam komunikasi non-verbal, dengan fokus pada emosi marah yang diekspresikan melalui perilaku ini. Berdasarkan teori komunikasi non-verbal dan psikologi, perilaku diam ini sering kali muncul sebagai upaya menghindari konfrontasi langsung, namun dapat memperburuk ketegangan dalam hubungan interpersonal.

Meskipun bisa memberi waktu bagi individu untuk meredakan emosi, penggunaan berulang dapat merusak hubungan dan meningkatkan stres emosional. Oleh karena itu, penting untuk menggantikan perilaku ini dengan komunikasi yang lebih terbuka untuk penyelesaian konflik yang lebih sehat.

Mums dan dads juga dapat mengecek anger language pasangan untuk mengetahui bagaimana cara menyikapinya agar perasaan marah yang dimiliki pasangan tidak berlarut-larut.

Ciri-ciri Silent Treatment

Ada kalanya dalam hubungan, memilih diam itu bisa diterima dan bahkan hasilnya produktif. Misalnya, sepasang suami istri bertengkar dan salah satu atau keduanya memilih mengambil jeda sejenak dari pertengkaran yang panas untuk menenangkan diri atau menjernihkan pikiran. 


Yang membedakan diam dari silent treatment adalah jeda tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran dan ada asumsi atau kesepakatan bahwa mereka akan membahas topik tersebut lagi nanti, saat suasana kondusif.


Ada juga kasus di mana korban kekerasan memilih diam sebagai cara untuk tetap aman dan mencegah situasi kekerasan yang sudah ada menjadi lebih buruk. Dalam situasi ini, korban tahu bahwa mengatakan sesuatu, meskipun pasangannya menuntutnya, hanya akan memperburuk situasi dan menyebabkan kekerasan lebih lanjut.


Sedangkan silent treatment adalah taktik yang digunakan oleh pasangan yang suka mengontrol. Berikut tanda silent treatment:

  1. Menggunakan sikap diam untuk menempatkan pasangannya pada posisi galau, bertanya-tanya, merasa bersalah dan frustrasi.

  • Mendiamkan pasangan selama berhari-hari atau berminggu-minggu

  • Menolak untuk berbicara, melakukan kontak mata, menjawab panggilan telepon, atau membalas pesan.

  • Menggunakan sikap diam ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan atau menggunakannya sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab atas perilaku buruk yang dilakukan.

  • Menghukum pasangan dengan sikap diam ketika ia merasa kesal

  • Meminta pasangan untuk meminta maaf atau menuruti tuntutan mereka hanya agar mereka mau berbicara kembali.

  • Menolak untuk mengakui sampai pasangannya merendahkan diri dan memohon

  • Menggunakan sikap diam sebagai cara pasif-agresif untuk mengendalikan perilaku pasangan.

  • Membungkam pasangan yang mencoba menegaskan diri dengan menolak berbicara


  • Silent Treatment: Bentuk Kekerasan Emosional


    Menurut penelitian di Journal of Clinical & Community Medicine (2023), fenomena silent treatment diakui sebagai subtipe agresi psikologis dalam kerangka yang lebih luas dari pelecehan emosional. Silent treatment adalah tindakan sengaja untuk menghindari atau mengabaikan individu lain, seringkali dalam konteks hubungan intim atau pasangan hidup.

    Faktanya, sebagai bentuk kekerasan emosional, silent treatment tidak efektif. Pelaku silent treatment tidak pernah bersikap jujur dan hadir untuk memberi tahu pasangannya apa yang mereka pikirkan dan rasakan, 


    Orang-orang yang bersikap diam, ketika mereka kesal, mereka biasanya suka menarik diri. Mereka tidak ingin terlibat dan mereka tidak menyadari betapa menyakitkannya hal itu bagi pasangan mereka. Dan itu sungguh, sungguh menyakitkan. 


    Hal itu juga menciptakan siklus yang terus berulang, Istri pada akhrinya memilih untuk tidak mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan karena mereka tahu jika mereka mengacau atau membuat masalah, mereka akan diperlakukan dengan sikap diam tersebut.


    Cara Menanggapi Perilaku Silent Treatment


    Jika mengalami silent treatment yang berulang, Mums perlu menyadari apa yang sebenarnya terjadi.  Untuk menyelesaikan masalah ini, kedua pasangan perlu mencoba menemukan cara yang lebih efektif untuk menghadapi perasaan dan situasi yang sulit.

    1. Menggunakan pernyataan "saya" daripada mengatakan "kamu" biasanya lebih efektif dan tidak terlalu mengancam. Memulai kalimat dengan "kamu" hampir langsung membuat orang bersikap defensif.

  • Konseling mungkin bermanfaat jika Mums kesulitan memutus pola komunikasi seperti ini dalam hubungan. Dengan bantuan orang yang netral, Mums dan pasangan dapat mempelajari cara yang lebih efektif untuk berkomunikasi dan mengelola konflik.

  • Jika Mums merasa masih bisa menghadapinya, menjauhlah saat pasangan mendiamkan Mums dan lakukan sesuatu yang Mums sukai.

  • Tetapi jika pasangan tidak mau berubah, penting untuk memprioritaskan keselamatan emosional dan fisik Mums. Kekerasan emosional berbahaya dan dapat meningkat menjadi kekerasan fisik, terutama ketika pasangan yang kasar merasa kehilangan kendali. 

  • Kesimpulan

    Itulah dampak silent treatment dalam pernikahan dan terhadap kondisi emosional pasangan. Sikap ini kerap dianggap sepele, padahal hal itu merupakan salah satu bentuk kekerasan emosional.

    Jika dibiarkan secara terus menerus, dapat berdampak pada kondisi emosional pasangan, serta menutup pola komunikasi yang sehat. Padahal, salah satu kunci hubungan yang harmonis ialah dengan diterapkannya komunikasi yang sehat antara satu sama lain.


    Referensi

    Jurnal Penelitian Psikologi. (2025). Silent Treatment Sebagai Bentuk Ekspresi Emosi Marah

    Journal of Clinical & Community Medicine (2023). What is the Psychology behind Ostracism or “Silent Treatment” and what to do with such abuse?

    • # Hubungan
    • # Pernikahan