Apakah Ibu Hamil Boleh Puasa? Ini Penjelasannya
Apakah puasa di bulan Ramadan tetap wajib saat hamil? Menurut Al Quran dan ulama, seorang muslim yang sedang hamil atau menyusui dapat dikecualikan dari kewajiban berpuasa di bulan Ramadan. Namun, jika Mums merasa sehat, apakah ibu hamil boleh puasa?
Saat memutuskan menjalankan puasa, ibu hamil sebaiknya berbicara dulu dengan dokter atau bidan sebelum berpuasa. Keputusan apakah ibu hamil boleh puasa nantinya akan dinyatakan oleh dokter setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Biasanya dokter atau bidan akan memutuskan melalui pertimbangan berikut:
- kesehatan umum Mums sebelum hamil, apakah ada riawayat diabetes, hipertensi, dan sebagainya
- usia kehamilan
- berapa lama durasi berpuasa di siang hari karena saat puasa terjadi di musim panas, umumnya waktu puasa menjadi lebih lama
Jika Mums sehat, kemungkinan besar boleh berpuasa. Bayi Mums membutuhkan nutrisi yang berasal dari Mums, dan jika tubuh Mums memiliki simpanan energi yang cukup, dampak puasa kemungkinan besar tidak akan terlalu besar. Namun, jika dokter memutuskan Mums sebaiknya tidak berpuasa, maka jangan mencobanya ya Mums.
Namun, sebelum ibu hamil memutuskan untuk puasa, sebaiknya Mums membaca terlebih dahulu dari sisi hukum Islam, dampak puasa pada kehamilan, risiko dan manfaat berpuasa, hingga cara membayar hutang puasa.
Hukum Berpuasa untuk Ibu Hamil
Hukum puasa di bulan Ramadhan adalah wajib bagi seluruh umat Muslim. Kewajiban ini berdasarkan pada firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185: فمن شهد منكم الشهر فليصمه
Artinya: “Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah.”
Menurut NU Online (2024), bagi muslim tertentu kewajiban ini bisa menjadi gugur jika puasanya bisa menyebabkan kemudaratan atau kesukaran, misalnya bagi ibu hamil. Jadi, hukum puasa bagi ibu hamil menjadi tidak wajib, dengan catatan jika puasanya itu menimbulkan mudarat atau bahaya.
Jadi Mums, hukum puasa bagi ibu hamil pada dasarnya adalah wajib. Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan bagi ibu hamil diberlakukan selama tidak menimbulkan bahaya untuk dirinya sendiri dan janinnya. Sebaliknya, ibu hamil boleh meninggalkan puasa jika itu dapat membahayakan dirinya atau janinnya.
Penelitian tentang Dampak Puasa Ramadan pada Kehamilan
Kehamilan adalah kondisi fisiologis yang jika dilakukan bersamaan dengan puasa menimbulkan beberapa kontroversi mengenai kondisi ibu dan janin. Menurut temuan ini, pada wanita sehat dengan nutrisi yang cukup, puasa Islami tidak memiliki efek yang merugikan pada pertumbuhan intrauterin dan indeks waktu kelahiran. Sementara itu, risiko relatif bayi lahir dengan berat badan rendah adalah 1,5 kali lebih tinggi pada ibu yang berpuasa pada trimester pertama dibandingkan dengan ibu yang tidak berpuasa.
Dilansir dari British Nutrition Foundation (2025), penelitian masih terus dilakukan untuk melihata dampak puasa Ramadan terhadap kesehatan ibu hamil dan janinnya. Meskipun buktinya belum jelas, banyak ahli percaya bahwa berpuasa selama kehamilan bukanlah ide yang baik.
Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa wanita hamil yang berpuasa selama Ramadan mungkin memiliki plasenta yang lebih kecil dan/atau bayi dengan berat lahir sedikit lebih rendah, dibandingkan dengan wanita yang tidak berpuasa. Puasa juga dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama jika Ramadan jatuh pada musim panas, dan ini dapat memengaruhi fungsi ginjal dan jumlah cairan yang mengelilingi bayi Anda.
Namun, studi lain tidak menemukan perbedaan antara bayi yang lahir dari ibu yang berpuasa dan yang tidak berpuasa selama Ramadan. Dampak puasa selama kehamilan mungkin bergantung pada kesehatan ibu secara keseluruhan, tahap kehamilan, dan waktu Ramadan.
Diperlukan lebih banyak penelitian untuk sepenuhnya memahami dampak puasa terhadap kesehatan dan perkembangan bayi dan apa artinya bagi kesehatan anak di kemudian hari.
Review terbaru dari International Journal of Obsteric and Gynecology (2025) mengenai ibu hamil boleh puasa menunjukkan hanya sedikit atau tidak ada efek pada bayi saat dilahirkan. Hanya sebagian kecil penelitian yang menemukan puasa Ramadan selama kehamilan dapat berdampak negatif pada kehamilan dan persalinan.
Risiko dan Manfaat Berpuasa pada Ibu Hamil
Namun, beberapa ibu hamil memang tidak disarankan berpuasa karena ada risiko kesehatan, terutama masalah dehidrasi atau kekurangan energi. Hal ini terutama dirasakan selama berpuasa di trimester pertama, di mana nafsu makan ibu hamil sedang turun karena mual dan muntah.
Berpuasa di trimester dua dan tiga mungkin lebih aman karena gejala mual dan muntah sudah menghilang. Kebutuhan energi buat ibu dan janinnya bisa dicukupkan dari makan selama berbuka dan sahur, termasuk kecukupan cairan.
Bahkan, dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Diabetes and Metabolic Syndrome and Obesity (2022), menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat meningkatkan kontrol glukosa puasa, terutama selama kehamilan trimester kedua dan ketiga. Dengan kata lain, puasa selama trimester kedua kehamilan dapat mengurangi risiko terkena diabetes gestasional dan mencegah kelebihan berat badan saat hamil.
Meskipun ibu hamil boleh puasa dan aman, bahkan memberikan manfaat untuk ini hamil, namun ketika ibu hamil ingin berpuasa, maka harus dibuat rencana terlebih dahulu agar kehamilannya tidak terganggu. Kekhawatiran terbesar ibu hamil yang ingin menjalankan ibadah puasa adalah apakah puasa bisa membahayakan janin?
Penelitian tentang efek puasa pada kehamilan memang belum banyak dilakuka. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa saat hamil tidak mempengaruhi berat lahir bayi atau meningkatkan kemungkinan kelahiran prematur. Jadi, ibu hamil yang sehat, sebenarnya aman dan boleh berpuasa.
Lain ceritanya kalau Mums mengalami masalah kesehatan apa pun selama kehamilan, seperti diabetes gestasional atau komplikasi kehamilan lainnya, maka berpuasa bisa sangat berisiko pada kesehatan Mums dan janinnnya. Hal ini karena puasa dapat mempengaruhi kadar gula darah Mums. Saat Mums berpuasa di siang hari, kadar gula darah bisa turun dan Mums bisa mengalami dehidrasi. Begitu juga di malam atau saat berbuka puasa, di mana kadar gula darah bisa menjadi terlalu tinggi jika Mums berbuka dan sahur tanpa kendali.
Hal yang Perlu Diperhatikan Jika Ibu Hamil Puasa
Jika Mums dinyatakan aman berpuasa, berikut hal yang harus diperhatikan agar puasanya aman:
Tetap terhubung dengan dokter atau bidan, sehingga Mums bisa berkonsultasi saat mengalami keluhan selama puasa, atau merencanakan puasa yang sehat.
Penuhi kebutuhan nutrisi dan cairan, dengan cara mengonsumsi makanan bergizi, dan jumlahnya cukup saat berbuka dan sahur. Jangan lupa cairan, lebih baik air putih untuk menghindari kelebihan berat badan.
Hindari mengonsumsi minuman berkafein, seperti kopi, teh, dan cola. Minum teh saat berbuka boleh, namum secukupnya saja. Ibu hamil tidak boleh mengonsumsi lebih dari 200mg kafein sehari atau setara dua cangkir kopi instan.
Kalau Mums bekerja, dan tidak mungkin saja mengurangi jam kerja, sempatkan waktu untuk istirahat. Tidur siang 30 menit sudah sangat cukup.
Sebaliknya, jika Mums mengalami hal-hal berikut ini saat sedang berpuasa, maka Mums perlu berkonsultasi segera dengan dokter atau bidan:
Berat badan tidak bertambah, atau bahkan turun yang dapat membahayakan janin dalam kandungan.
Mums menjadi sangat haus, jarang buang air kecil, atau air kencing berwarna gelap. Ini adalah tanda dehidrasi, dan dapat membuat Mums lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih (ISK) atau komplikasi lainnya. Segera berbuka.
Merasa pusing, mau pingsan, lemah, bingung, bahkan setelah beristirahat dengan baik. Segera berbuka puasa dengan minuman manis dan camilan dan hubungi dokter atau bidan.
Cara Membayar Hutang Puasa
Meskipun ibu hamil boleh tidak berpuasa, namun tetap mendatangkan kewajiban mengganti puasa (qadha) sejumlah hari yang ia tinggalkan. Mengganti hutang puasa bisaa dengan ketentuan Qadha dan Fidyah.
Setelah tidak lagi hamil atau menyusui, Mums tetap memiliki kewajiban untuk mengganti (qadha) puasa yang telah ia tinggalkan. Misalnya Mums tidak berpuasa selama sebulan penuh selama bulan Ramadan, berarti wajib mengganti selama hari yang ditinggalkan. Tentu saja, hal itu berlaku setelah keadaannya sudah membaik dan kondusif.
Di samping kewajiban mengganti puasa, ada juga kewajiban lain yang harus ditanggung oleh ibu hamil, yaitu membayar fidyah. Fidyah adalah harta yang dibayarkan sebagai bentuk ganti dari ibadah yang ditinggalkan.
Mungkin Mums bertanya, kapan wajib mengganti puasanya saja? Dan kapan ia wajib menggabungkan keduanya, yaitu mengganti puasa dan membayar fidyah? Berikut ini ketentuannya:
1. Qadha dan Fidyah
Ibu hamil wajib Qadha puasa dan membayar fidyah apabila ibu hamil tidak berpuasa dikarenakan rasa takut terhadap janinnya, seperti keguguran, maka diwajibkan atas ibu tadi dua perkara, yakni mengganti (qadha) puasa dan membayar fidyah.
2. Qadha Saja
Ibu hamil wajib Qadha puasa jika ibu hamil khawatir atas kondisi dirinya sendiri atau ia khawatir atas kondisi fisiknya dan juga janin dalam kandungannya, maka yang diwajibkan hanya satu perkara saja, yaitu mengganti (mengqadha) puasa.
Itu tadi Mums, hukum, ketentuan dan alasan medis terkait puasa Ramadan pada ibu hamil. Jadi kalau punya komplikasi apakah ibu hamil boleh puasa? Nah, keputusan ini akan ditentukan oleh dokter, jadi pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan untuk berpuasa. Namun, pada intinya, ibu hamil boleh puasa selama kondisi kesehatan dan kehamilannya tidak bermasalah.
Penting untuk diingat bahwa untuk wanita hamil, hukum dalam Islam tidak mengharuskan berpuasa. Mums dapat mengqadha puasa yang terlewat nanti. Atau bisa juga dengan membayar fidyah, yaitu mengganti puasa yang terlewat dengan memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan.
Referensi:
NU Online. 2024. Hukum Puasa bagi Ibu Hamil.
International Journal Obstetry and Gynecology. 2025. Impacts of Ramadan fasting during pregnancy on pregnancy and birth outcomes: An umbrella review
Diabetes and Metabolic Syndrome and Obesity. 2022. Effect of Ramadan Fasting on Blood Glucose Level in Pregnant Women with Gestational and Type 2 Diabetes
British Nutrition Foundation. 2025. Ramadan and Pregnancy.
-
# Kehamilan
-
# Puasa
-
# Ibu hamil
-
# TB Nutrisi & Kebugaran
-
# TBMinggu13
-
# TBTrimester2